
...Tidak ingin bersaing dengan siapapun, termasuk dengan istri sah mu. Aku hanya terobsesi menjadi wanita kuat, cerdas, dan mandiri!...
"Semoga ini pilihan terbaik."
Salsa kembali memasukkan ranselnya ke dalam lemari. Ia akan menunggu Rafka pergi dari unit apartemen ini. Setelah semuanya selesai, wanita itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajah dan buang air kecil.
Beberapa menit berlalu, sepasang netra hitam pekat mulai terbuka. Rafka mengedarkan pandang matanya yang belum terbuka sempurna pada kamar yang Ia tempati sekarang. Ia menoleh ke samping kasur yang sudah kosong. Pria itu bangun dari tidurannya dan kini duduk bersandar di kepala ranjang. Ia mengusap kasar wajahnya dan setelah itu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 07: 00 pagi.
Pria itu meraih segelas air putih yang terletak di atas meja samping kasur, lalu meminumnya sampai tandas. Itu sudah menjadi kebiasaan Rafka yang selalu meminum air putih saat bangun tidur. Kini, pria itu bangkit dari tempat tidurnya hendak mandi.
Sementara Salsa tengah berkutat di dapur, pagi ini Ia ingin sekali memakan sayur capcay. Dan beruntung di dalam kulkas bahan-bahan yang akan Ia masak tersedia.
"Salsa!" Suara teriakan menggelegar Rafka membuat Salsa menghentikan aktifitasnya. Ia menoleh ke arah sumber suara dan tak lama Rafka menghampirinya ke dapur dengan langkah lebar.
Raut wajah pria itu tampak tak bersahabat pagi ini. Tatapan tajam menusuk yang Rafka berikan membuat Salsa menatap ke arah lain.
"Akh...sakit."
"Kau berniat ingin kabur dari saya? Iya?!" bentak Rafka dengan suara yang keras dan memekikkan telinga.
Sementara Salsa merintih kesakitan dengan kedua pipinya yang di cengkram kasar oleh Rafka dan sengaja di tekan semakin dalam.
"A-aku tidak kabur," sanggah Salsa terbata-bata. Kedua mata wanita itu berair menahan sakit di pipinya.
Rafka langsung menghempas kasar wajah sang istri ke samping. Salsa mengusap kedua pipinya yang meninggalkan jejak kemerahan dan memar.
"Lalu ini apa! Hah?" Rafka membuka tas ransel milik wanita itu dan mengeluarkan semua pakaian dalam sana.
__ADS_1
Salsa meneguk ludahnya kasar. Jantungnya berdebar-debar tak karuan dan rasa takut mulai merayap dalam benaknya saat ini.
"Jangan kira saya bodoh! Kau tidak akan pernah bisa pergi meninggalkan saya kecuali saya sendiri yang membuang mu!"
Air mata yang sejak tadi Salsa tahan, kini meluruh. Rasa sakit menghujam dadanya saat ini. Kalimat terakhir yang Rafka lontarkan sangat menyakitkan baginya.
"Kalaupun aku pergi dari sini apa urusan mu, hah?!" Kini, Salsa balik membentak Rafka. Bahkan tatapan wanita itu tampak menantang walaupun air mata mengucur semakin deras."Aku memiliki hak atas diri ku! Dan aku juga memiliki hak pergi menjauh dari laki-laki brengsek seperti mu, Bapak Rafka!"
"Kau..." Rafka mengangkat tangan kanannya, hendak melayangkan tamparan pada Salsa.
Salsa memejamkan matanya, tubuh wanita itu bergetar ketakutan.
"Arrggh..." Rafka menggeram penuh amarah dan menjatuhkan tangan kanannya. Dan langsung meninju tembok di sampingnya meluapkan gejolak yang ada dalam benaknya sekarang.
Pria itu mendengus kasar dan menatap sang istri sarat akan emosi yang belum mereda. Ia langsung melengos pergi dari hadapan Salsa yang perlahan membuka matanya. Isakkan kecil keluar dari bibir mungil itu. Air mata penuh kepedihan keluar semakin deras. Bagaimana Ia bisa bertahan tinggal satu atap dengan pria yang tempramen seperti Rafka. Pernikahan yang awalnya sebagai bentuk tanggung jawab, kini berubah menjadi ajang mencari keuntungan untuk satu pihak.
Di kamar, Rafka mengancingkan kemeja abu-abu yang kini Ia kenakan. Namun, wajar datar yang pria itu tampilkan begitu mengerikan. Ia mengambil celana berbahan kain di dalam lemari dan segera mengenakannya. Sudah sangat terlambat sampai ke perusahaan.
Setelah semuanya selesai, Rafka mengambil dengan kasar kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Langkah kaki pria itu terhenti di depan meja makan, di mana Salsa tengah memakan sayur capcay gosong yang wanita buat tadi.
Terlihat mata Salsa sembab dan hidung yang memerah. Kalau bukan karna keinginan dari janin dalam perutnya, tak mungkin Ia akan memakan ini. Terlebih stok sayur dalam kulkas sudah habis dan yang Ia masak ini stok terakhir.
Wanita itu memalingkan wajahnya ketika Rafka mendekat padanya. Aroma maskulin langsung merasuk ke indra penciumannya.
"Kenapa memakan ini? Apa kau sengaja?!" sarkas Rafka mendorong kasar piring berisi sayur capcay tersebut menjauh dari hadapan sang istri.
Salsa melirik sinis suaminya. Namun, enggan untuk membuka suara. Ia kembali menarik piring tersebut dan kembali memakannya dengan lahap meski kedua pipinya terasa sakit dan ngilu akibat cengkraman yang Rafka berikan.
__ADS_1
Sementara pria itu mengutak-atik ponselnya, dan setelahnya menatap Salsa yang menyandarkan punggungnya di bahu kursi, setelah kekenyangan.
"Saya sudah memesan makanan untuk mu. Saya tidak ingin anak yang kau kandung mendapatkan asupan makanan yang tak layak." ucap Rafka sinis dan Salsa berdecak pelan.
•
•
"Sayang, kenapa kamu ada di sini?" Rafka tampak terkejut ketika mendapati Azkiya duduk di sofa, ruang kerjanya.
Wanita itu bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekati Rafka.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa Mas tidak pulang ke rumah tadi malam? Dan aku sengaja datang ke perusahaan pagi ini, karna mengira kamu bermalam di sini dan ternyata tidak," balas Azkiya.
"Aku bermalam di rumah Alex. Kamu tahu, kan, dia baru saja pulang dari Singapura," alibi Rafka yang terlihat tenang.
Azkiya tersentak ketika Rafka merengkuh pinggangnya."Apa kamu sudah makan, hmm?"
Wanita itu menggeleng." Bagaimana bisa aku makan bila Mas menghilang tiba-tiba. Aku tidak suka selalu berjauhan dari mu."
Rafka tertawa dan mencubit pipi sang istri. Pria itu mengecup bibir ranum sang istri dan mel*matnya singkat. Sementara Azkiya tampak menikmati apa yang suaminya lakukan.
____________
Hai girl. Terima kasih sudah mampir!
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
__ADS_1
See you di part selanjutnya!^^