
...Terkadang harus keras dengan diri sendiri. Termasuk tentang perasaan. Jangan sampai diperbudak oleh perasaan sendiri yang berakhir sakit hati berkepanjangan. ...
Di sepanjang perjalanan yang tidak ada penerangan jalan, hanya cahaya dari lampu motor scoopy hitam yang menyorot ke arah jalan kecil setapak. Salsa mengusap kasar air mata yang terus merembes membasahi pipinya yang memerah. Ia sangat berat harus mengambil keputusan yang membuat Ia kembali berpisah dengan Rafka. Apalagi pria itu sudah berubah dan mulai menerimanya. Tapi Ia tidak ingin menjadi duri diantara rumah tangga Rafka dan Azkiya. Ia cukup sadar diri dengan posisinya sekarang.
Lebih baik pergi menjauh dibanding harus bertahan dengan status sebagai istri siri yang dirahasiakan dan berakhir sakit hati berkepanjangan.
"Kita akan pergi ke mana, Mas?" tanya Salsa ketika mulai sadar saat Adan mengendarai motornya masuk ke dalam hutan. Suara jangkrik dan burung-burung serta hewan malam lainnnya yang terdengar jelas dan membuat suasana tampak horor.
"Kau diam saja. Aku akan membuat mu jauh dari laki-laki brengsek itu. Aku jamin dia tidak akan menemukan mu," balas Adan yang fokus menatap ke arah jalan yang lumayan becek.
Salsa semakin mengeratkan pelukannya pada Adan. Sungguh, tiba-tiba saja sekujur badannya merinding.
"Aku tidak mau tinggal di hutan!" pekik Salsa dan Adan memelankan laju motornya."Aku ingin menjauh dari bapak Rafka tapi bukan berarti harus bersembunyi dan tinggal di hutan."
"Siapa yang meminta mu tinggal di hutan, heh? Di dalam hutan ini ada sebuah perkampungan. Di sana kau aman, teman ku tinggal di sana. Dan di sini akses internet sulit di jangkau jadi laki-laki itu tidak bisa melacak mu," papar Adan panjang lebar.
Salsa langsung terdiam. Wanita itu semakin erat berpegangan pada jaket yang Adan kenakan.
"Salsa..." panggil Adan memecahkan keheningan yang beberapa menit melanda.
"Apa?"
"Selama kau tinggal di perkampungan itu jangan sampai warga di sana tahu kau hamil. Bisa saja mereka menggangap mu hamil diluar nikah, karna warga di sana percaya perempuan yang hamil di luar nikah akan membawa bencana."
"Bila aku ketahuan sedang hamil bagaimana?"
"Kau katakan saja suami mu sedang bekerja di kota dan menitipkan mu di tempat ini. Nanti aku akan mengatakan pada teman ku untuk mengakui mu sebagai saudara jauhnya pada para warga agar kau aman."
"Lalu, Mas Adan akan pergi meninggalkan aku di sana?" tanya Salsa dengan raut wajah tampak gelisah.
"Mau bagaimana lagi, Sal. Aku bekerja di kota itu dan tidak mungkin berhenti bekerja dan ikut kau tinggal di kampung. Tapi setiap bulan aku akan mengunjungi mu," jawab Adan menyakinkan.
__ADS_1
Tatapan wanita itu terlihat sayu. Ia takut tidak bisa bertahan lama di sana. Apalagi harus tinggal dengan orang yang tidak Ia kenal.
Sekitar pukul empat pagi keduanya sudah sampai di perkampungan yang sudah terlihat beberapa warga lewat. Beberapa orang menatap ke arah keduanya dengan tatapan penasaran.
Salsa menatap ke arah rumah kayu yang berdiri kokoh dan satu bola lampu menerangi teras rumah tersebut. Meski perkampungan ini terpencil dan jauh dari pusat kota Bandung, pemerintah sudah berhasil mengaliri listrik.
"Ayo..." Adan lebih dulu melangkah seraya menenteng tas ransel milik Salsa yang membuntuti dari belakang.
Tok...tok...
Adan mengetuk cukup keras pintu rumah yang sudah mulai memudar catnya. Dan tidak lama pintu terbuka, menampilkan seorang gadis muda dengan wajah bantalnya.
"A-adan?"
*
Di sinilah mereka berada, di dalam rumah kayu berukuran 4x6. Salsa dan Adan duduk di lantai yang dilapisi karpet plastik berkarakter Doraemon. Tatapan mata Salsa mengedar menatap setiap sudut ruangan itu.
"Seharusnya kau tidak usah repot-repot seperti ini," ucap Adan tak enak hati. Gadis yang memiliki langsung pipi itu tersenyum.
"Tidak apa-apa, Dan. Ooh iya, jadi kedatangan kalian berdua ke sini ada apa? Karna kalian tidak mungkin ke sini bila tidak ada hal yang penting," tanya Ayu. Mengingat tempat tinggalnya sangat jauh dari perkotaan dan tidak mungkin orang luar datang ke sini bila tidak ada urusan penting.
Adan melirik Salsa dan beralih menatap Ayu.
"Aku ke sini ingin menitipkan adik sepupuku di sini sementara waktu, Yu. Setidaknya sampai dia melahirkan, adik sepupu ku sedang hamil," balas Adan.
"Hamil?" ulang Ayu. Dan Adan mengangguk.
Pria itu mulai menceritakan semuanya hingga keputusan Salsa untuk kembali melarikan diri dari suaminya. Tentu, Ayu terkejut mendengarnya. Sementara Salsa semakin menundukkan kepalanya ketika Ayu menatap iba padanya.
"Aku dengan senang hati menampung adik mu, Dan. Semoga kau betah di sini ya," ucap Ayu menatap Salsa.
__ADS_1
"Syukurlah bila kau mengizinkan Salsa tinggal di sini. Tapi di kampung ini apa ada bidan atau tenaga kesehatan?" Adan kembali melontarkan ucapannya. Ia hanya takut tiba-tiba saja terjadi sesuatu dengan kandungan Salsa.
"Ada. Kau tenang saja."
Adan tampak bernapas lega. Pria itu kembali melirik Salsa yang terlihat melamun. Adan tahu, ini sangat berat untuk Salsa, tapi apa boleh buat bila ini yang terbaik.
•
•
"Ayah dapat laporan bila kamu banyak melewatkan rapat penting dan meminta Arjo untuk menggantikan mu, apa benar?" tanya Revin yang berdiri menatap Rafka yang duduk di sofa.
Pagi-pagi sekali pria yang mengenakan tuxedo hitam itu sudah mendapatkan kultum pagi. Tiba-tiba saja Ia sudah mendapati sang ayah sudah di ruang tamu.
"Aku hanya ada urusan penting yang tidak bisa aku batalkan, Yah. Lagipula perusahaan tidak bangkrut bila aku melewatkan atau mengcancel rapat dan meeting lainnnya," balas Rafka dan Revin mendengus.
"Alasan!" ketus Revin."Ayah lihat beberapa minggu ini kamu tidak disiplin dan tidak profesional dalam masalah perusahaan yang kamu kelola."
Rafka menghela napas berat mandengarnya. Sesekali pria itu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Senyuman terbit dibibir tipis pria itu. Dalam pikirannya saat ini, tengah memikirkan oleh-oleh atau hadiah apa yang akan Ia berikan pada Salsa nanti siang. Revin semakin meradang ketika melihat Rafka tersenyum bak orang kasmaran.
Sementara Azkiya yang mengintip dari balik tembok mengernyitkan keningnya melihat sikap suaminya. Dari tadi malam Rafka seperti orang yang sangat bahagia dan kali ini suaminya menampilkan hal yang sama.
"Jika mas Rafka tidak pergi ke perusahaan, lalu kemarin dia pergi mana? Awas saja bila masih berhubungan dengan perempuan murahan itu," gumam Azkiya. Sangat mudah baginya membuat wanita itu menggugurkan kandungannya bila itu alasan yang membuat Rafka seperti ini.
Tidak ada wanita manapun yang boleh membuat suaminya bahagia, kecuali dirinya seorang.
____________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. Jangan lupa pencet tombol minta update bila cerita ini menarik😅
__ADS_1
See you di part selanjutnya:)