
Suara tawa Fano dan Alex menggelegar di ruang kerja Rafka yang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkat dua sahabatnya itu. Pandangan matanya kembali fokus pada berkas yang akan Ia tanda tangani dan tawaran kerjasama dari perusahaan lain.
"Aku kira ucapan mu kemarin hanya gurauan saja dan ternyata kau benar-benar menikahi gadis itu," celetuk Alex yang dibalas delikkan sinis oleh Rafka.
"Dan aku tidak bisa membayangkan bila kau ketahuan Azkiya sudah memiliki istri lagi," timpal Fano seraya menyeduh kopi panas yang baru saja di antar oleh OG.
"Sebaiknya kalian berdua keluar dari ruangan ku bila hanya membuat gaduh di sini!" balas Rafka ketus.
"Tenang Bro. Kami berdua baru saja datang dan kau langsung mengusir. Kami berdua hanya tidak menyangka kau akan menikahi gadis yang terlibat one night stand dengan mu. Padahal kau tinggal bayar sesuai nominal yang dia minta dan suruh dia menggugurkan janin yang dia kandung. Zaman sekarang jangan langsung percaya dengan perempuan yang mengatakan hamil anak mu, bisa saja dia sudah berhubungan dengan laki-laki lain," Alex kembali membuka suara dan nada suara pria itu terdengar serius.
Rafka menghela napas kasar."Dia masih perawan. Aku mabuk bukan berarti kesadaran ku hilang sepenuhnya. Arjo sudah mencari tahu tentang siapa Salsa termasuk masa lalunya."
Rafka menyandarkan tubuhnya ke bahu kursi dan menghela napas panjang. Memijit pelipisnya yang terasa pusing. Dan sudah seminggu Ia tidak melihat keadaan istri siri tersebut di apartemen. Ia berharap Salsa baik-baik saja. Bagaimana pun Ia tidak mungkin sepenuhnya selalu bersama Salsa, Azkiya lebih penting dan sangat membutuhkannya saat ini.
"Sahabat kita sepertinya sangat beruntung bisa dilayani dua istri sekaligus," gurau Fano di sertai tawa.
"Beruntung sekali kau mendapatkan perempuan yang masih perawan. Pasti rasanya sangat sempit, legit, dan tentunya akan membuat mu ketagihan. Aku yakin Rafka selalu menggempur istri mudanya itu," celetuk Alex dengan ucapan frontalnya.
"Jaga mulut mu yang kotor itu!" sarkas Rafka, melempar pulpen ke arah Alex dan Fano tertawa terbahak-bahak melihatnya." Sebaiknya kalian berdua pergi dari ruangan ini. Apa kalian berdua tidak ada pekerjaan sama sekali hingga menganggu ku?!" geram Rafka.
"Lihatlah, Rafka sepertinya tidak suka kita membicarakan istri mudanya." Lagi-lagi Alex melontarkan ucapannya yang membuat emosi Rafka semakin tersulut.
"Kalian berdua pergi___" Ucapan Rafka terjeda oleh suara dering ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Pria itu langsung mengangkat sambungan telpon dari asistennya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Rafka pada Arjo di sebrang sana. Sementara Alex dan Fano tampak asyik dengan obrolannya di sertai tertawa.
"Nona Salsa di rujuk ke rumah sakit," jawab Arjo tenang.
"Dia kenapa?" Rafka kembali melontarkan pertanyaan di sertai raut wajah yang sangat khawatir dan cemas.
"Sebaiknya anda langsung ke rumah sakit." Setelah mengatakan itu Arjo langsung mematikan sambungan telponnya. Rafka termenung sejenak dengan segala pertanyaan yang muncul di benaknya tentang kondisi Salsa, hingga istri keduanya tersebut di larikan ke rumah sakit.
"Rafka, kau kenapa?" tanya Fano melihat ekpresi Rafka yang tampak berbeda.
"Aku harus pergi." Rafka bangkit dari tempat duduknya dan kembali mengenakan jas hitamnya tergantung di bahu kursi.
"Kenapa wajah mu terlihat khawatir, apa ada masalah?" Kini Alex yang kembali bertanya. Pria itu menghampiri Rafka yang sibuk mencari kunci mobilnya.
"Istri yang mana? Azkiya?" tanya Fano pada Alex yang menggedikan bahunya. Mereka berdua menatap kepergian Rafka dari ruangan yang kini langsung senyap.
*
*
Mobil sedan hitam yang Rafka kendarai melesat sangat cepat membelah jalanan yang tampak ramai oleh pengendara lain. Suara klakson mobil milik Rafka yang sangat nyaring dan memekikkan telinga membuat pengendara lain menepikan kendaraannya dan ada beberapa orang yang mengeluarkan sumpah serapahnya.
Kini, mobil sedan hitam itu sudah sampai di area rumah sakit yang di sebutkan oleh Arjo. Dengan tergesa-gesa Rafka keluar dari mobil dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah sakit, menuju ke ruangan tempat Salsa di rawat sekarang. Ia kira keadaan Salsa akan baik-baik saja saat Ia tidak ada di samping wanita itu, ternyata perkiraannya salah.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya? Apa dokter sudah memeriksanya?" tanya Rafka pada Arjo yang berdiri di samping pintu ruang rawat istrinya.
"Tuan bisa melihat sendiri ke dalam," jawab Arjo.
Rafka segera masuk ke dalam ruangan tersebut. Baru saja masuk ke dalam ruangan itu, Ia sudah di suguhkan oleh pemandangan yang membuat hatinya mendadak perih.
"Kenapa dia sangat kurus sekali? Bukankah aku selalu mengirimkan uang untuknya melalui rekening?" Rafka menoleh ke arah asistennya dengan pandangan bertanya.
Arjo tampak diam, tidak ada niatan ingin menjawab pertanyaan dari atasannya tersebut. Tangan Rafka terulur mengusap pipi tirus Salsa. Hatinya meringis nyeri melihat langsung keadaan istri keduanya tersebut. Punggung tangan kiri Salsa sudah di tancapkan jarum infus.
"Kenapa kau tidak mengatakan pada ku bila kondisi Salsa seperti ini?"
"Bukankah anda sendiri yang meminta untuk tidak mengatakan apapun perihal kabar tentang Nona Salsa. Dan saya sudah menjalankan perintah anda. Dokter mengatakan bila Nona Salsa kekurangan cairan serta asupan makanan dan stress. Untuk lebih jelas lagi anda bisa tanyakan langsung pada dokter yang menangani Nona Salsa."
Rafka menghela napas kasar."Minta Aryo untuk membatalkan pertemuan ku hari ini dengan pak Arka," perintah Rafka yang angguki oleh Arjo.
Pandangan mata Rafka beralih pada Salsa yang masih setia memejamkan matanya.
_______________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. Terima kasih.
__ADS_1
See you di part selanjutnya:)