
"Rafka jawab! Apa yang dikatakan Arjo benar?" desak Elsa ketika Rafka dengan ke terdiamannya.
Pria itu mengangguk lemah. Elsa membekap mulutnya, seolah tak menyangka.
"Lalu di mana istri kedua mu itu, Raf?"
"Aku tidak tahu." Rafka menggedikkan bahunya.
"Bagaimana bisa kamu tidak tahu keberadaannya, sedang kamu suaminya!"
"Dia pergi meninggalkan ku saat dia mengandung. Dan sekarang aku tidak bisa menemukannya lagi. Aku hancur, Bunda..."
Tubuh Rafka langsung meluruh dan jatuh bersimpuh dihadapan Elsa. Tubuh pria itu bergetar dengan isak tangis tertahan. Titik di mana Ia tidak sanggup menanggung semua beban masalah dan kesedihan yang selama ini menumpuk setelah kepergian Salsa dan sekarang pertahanannya roboh kala melihat secara langsung Azkiya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
"Rafka, kamu kenapa, Nak?" Elsa berjongkok dan mengusap wajah Rafka yang berlinang air mata.
"Aku laki-laki brengsek, Bun."
Elsa menggeleng."Jangan bicara seperti itu, Nak. Kamu laki-laki yang sangat baik, putra Bunda anak yang baik."
Wanita paruh baya itu memeluk putranya. Rafka membalas pelukan Elsa sangat erat, menumpahkan segala gejolak dalam dadanya saat ini. Persetan dengan rasa malu dan ego.
"Rafka, apa kamu memiliki foto istri kedua mu itu?" tanya Elsa seraya menguraikan pelukannya tersebut."Bunda akan meminta bantuan ayah mu untuk mencari keberadaannya."
"Tidak perlu, Bunda. Karna percuma, dia sangat membenci ku."
"Hei, jangan langsung berasumsi seperti itu. Apa dia pernah mengatakan membenci mu, hah?"
Rafka menggeleng lemah. Salsa tidak pernah mengatakan membencinya tapi kepergian wanita itu sudah menjadi jawabannya.
"Sekarang bangun, jangan cengeng seperti ini hanya karna perempuan. Seharusnya kamu mencari solusi untuk bisa menemukannya. Tapi, apa Azkiya sudah tahu tentang masalah ini?" Elsa kembali melontarkan pertanyaannya.
Lagi, Rafka hanya membalas dengan anggukan dan Elsa mendesah.
"Ya sudah, sekarang kamu masuk kamar. Bersihkan badan mu, penampilan mu sangat jelek."
Rafka hanya terdiam mendengarnya.
•
•
Salsa mendesis geli ketika untuk pertama kalinya mulut mungil nan hangat itu menyesap ****** nya. Bayi mungil yang belum diberi nama itu menyesap cukup kuat ASI Salsa, seolah Ia benar-benar kehausan.
Salsa mengigit bibir bawahnya, karna ini sangat menggelikan. Namun, hatinya menghangat memandangi wajah tampan putra kecilnya. Meski begitu masih ada rasa mengganjal dalam benaknya. Ia ingat betul saat operasi caesar Ia melahirkan dua bayi karna kesadarannya tidak benar-benar hilang.
"Sepertinya dia sangat kehausan," ucap Ayu yang baru saja memasuki ruang rawat.
Salsa tersenyum tipis menanggapinya.
"Sudah kau beri nama?"
Salsa menggeleng."Aku belum mendapatkan nama yang cocok untuknya."
__ADS_1
Salsa mengusap gemas pipi chubby bayi lelaki itu dan mengecupnya.
Sedangkan Adan tengah berada di luar ruangan sedang mengurus obat-obatan yang harus di tebus.
Salsa langsung menutup bagian dadanya dengan selimut ketika Adan masuk ke dalam ruangan secara tiba-tiba.
"Salsa, apa kau masih menyimpan kartu ATM milik laki-laki itu?" Adan langsung menodong dengan pertanyaan ketika sudah berada dalam ruangan.
"Untuk apa?" Salsa mengernyit heran.
Adan melirik Ayu sekilas.
"Uang ku tidak cukup untuk menebus obat yang dokter minta. Daripada kita berhutang lebih baik menggunakan kartu ATM milik laki-laki itu. Kau berhak memakainya apalagi kau baru saja melahirkan anaknya."
"Tapi bagaimana bila bapak Rafka mengetahui keberadaan ku, Mas. Dan bisa saja dia merebut anak ku."
Salsa memeluk putranya dari balik selimut. Seolah takut Rafka benar-benar akan merebutnya. Mengingat pria itu mengincar putranya.
Adan menghela napas panjang."Dia tidak akan menemukan, Sal. Sekarang sudah sembilan bulan kau tidak bertemu dengannya. Bisa saja dia tidak mencari mu lagi."
Sementara Ayu hanya menyimak pembicaraan dua orang yang ada dihadapannya sekarang.
"Sekarang mana kartu nya? Bila uangnya cukup dalam rekening itu, sekalian membayar biaya uang operasi caesar dan perawatan mu," ucap Adan menengadahkan tangannya pada Salsa yang bergeming sesaat.
Dengan hati terpaksa Salsa meraih tas kecil miliknya yang tergeletak di atas meja dekat brankar.
"Ini..."
Salsa menyerahkan kartu berwarna hitam tersebut pada Adan.
Ayu hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Ia melangkah mendekat dan berdiri di samping brankar Salsa.
"Sudah tidak apa-apa, Sal. Kau tidak perlu khawatir ya," ucap Ayu menenangkan Salsa yang terlihat gelisah.
Sedangkan Adan sudah keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa.
•
•
Rafka yang baru saja setengah jam membaringkan tubuhnya di kasur, untuk mengistirahatkan badan serta pikirannya, tiba-tiba terjaga ketika merasakan pergerakannya di sampingnya.
Mata pria itu langsung terbuka sempurna ketika mendapati Azkiya duduk di samping kasur dan tengah memandangi dirinya.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Rafka dengan nada tak suka.
Dengan sedikit kesusahan pria itu bangun dari rebahannya dan berganti posisi menjadi duduk.
"Karna ini rumah ku," jawab Azkiya dengan santainya.
Rafka mengeraskan rahangnya dan menatap tajam sang istri.
"Ternyata kamu tidak memiliki rasa malu setelah apa yang kamu perbuat!"
__ADS_1
"Untuk apa aku harus malu, kamu juga melakukan hal yang sama, kan?"
Rafka mendengus emosi. Sedangkan Azkiya melepaskan pakaian yang melekat pada tubuhnya. Ia ingin langsung membersihkan badannya setelah menghabiskan malam panjang dengan Fano.
"Sangat menjijikkan," cibir Rafka yang enggan menatap tubuh Azkiya yang sudah setengah telanjang.
"Terserah kamu ingin mengatakan apapun tentang diri ku. Karna kamu juga sering menikmati tubuh ku, jadi tidak usah munafik!" balas Azkiya ketus.
Rafka turun dari ranjang dan menegakkan tubuhnya.
"Aku sangat menyesal sudah melakukan hal itu. Dan aku pastikan minggu depan kamu akan mendapatkan surat gugatan cerai dari ku!" ucap Rafka penuh kecaman.
Azkiya tersenyum tipis." Syukurlah kalau begitu. Karna aku sudah muak terus bersama dengan laki-laki seperti mu. Dan satu hal yang harus kamu tahu, hubungan ku dengan Fano sudah berjalan selama dua tahun."
"Dan selama itu kamu tidak pernah mengetahui perselingkuhan ku. Sedangkan aku dengan mudah mengetahui hubungan gelap mu dengan Salsa. Itu menunjukkan kamu hanya seorang pemula dan aku pemain handal."
Azkiya tersenyum smirk melihat wajah emosi Rafka, dan setelahnya berlalu pergi masuk ke kamar mandi. Rafka semakin kuat mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Napas pria itu menggebu-gebu penuh amarah yang membara.
Darrt
Netra hitam pekat Rafka langsung menatap ponsel miliknya yang bergetar di atas nakas. Ia langsung membuka notifikasi masuk.
"Transaksi?" monolog Rafka ketika mendapatkan SMS dari pihak bank."Rumah sakit Pelita?"
Rafka terdiam sejenak, dan sedetik kemudian langsung bergegas melangkah keluar kamar.
•
•
"Bagaimana keadaan anda?" tanya dokter Arya yang datang untuk melakukan pemeriksaan pada Salsa.
Di dalam ruangan tersebut hanya ada Salsa dengan bayinya. Sedangkan Adan dan Ayu entah pergi ke mana.
"Baik, Dok," balas Salsa tersenyum tipis.
"Syukurilah. Dan sebelumnya saya mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya bayi perempuan yang anda lahirkan."
Deg
Sekujur badan Salsa langsung membeku mendengar ucapan dokter Arya.
"Me-meninggal? Bukankah saya hanya melahirkan satu bayi?"
Dokter Arya menggeleng."Tidak, anda melahirkan dua bayi kembar, tapi kami hanya bisa menyelematkan satu bayi yang sekarang berbaring di samping anda."
Pandangan mata Salsa memburam. Wajahnya langsung memucat.
__________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
__ADS_1
See you di part selanjutnya:)