
Enam tahun berlalu...
Terlihat di sebuah taman belakang rumah dua anak perempuan kembar berlari-lari menghindari kejaran sang papa. Tawa kedua bocah itu terdengar melengking. Siapapun yang melihat dua bocah itu pasti akan gemas ditambah rambut mereka berdua kriting dan tubuh yang gempal, serta kulit putih pucat.
Sedangkan disebuah saung seorang anak laki-laki hanya memperhatikan kedua adik dan papanya. Anak satu ini saat menyukai kesunyian dan ketenangan tanpa ingin diganggu siapapun. Tatapan mata yang dingin dan wajah datar mengambarkan bagaimana sosok Andrew yang kini berusia enam tahun.
Pendendam, itulah Andrew. Anak laki-laki itu menjadi sosok yang mudah dendam pada siapapun yang berani mengusik kehidupannya. Entah menurun dari mana sifat anak itu.
"Tidak ikut main dengan adik-adikmu, Nak?" tanya Salsa seraya meletakkan nampan berisi secangkir kopi panas, beberapa cemilan dan susu kotak yang biasanya si kembar minum di meja yang tersedia di sana.
"Aku bukan anak kecil. Dan tidak ada gunanya bermain seperti itu," ucapnya pedas dengan nada suaranya yang datar.
Salsa menghela napas berat. Ia ikut mendudukkan dirinya disamping Andrew yang sibuk menggambar di gadget.
"Kamu itu masih kecil, dan sudah sewajarnya anak seusia kamu bermain-main seperti adikmu, Sayang," nasehat Salsa selembut mungkin karna Ia tahu sifat putranya tersebut. Tidak bisa dinasehati dengan suara keras ataupun dibentak.
Andrew hanya melirik Salsa sekilas tanpa menghentikan pergerakan tangannya yang begitu lihai menggambar sosok seorang gadis kecil.
"Dan aku lebih suka seperti ini. Mama tidak perlu memaksaku seperti anak-anak yang lain." Andrew menatap Salsa dengan tatapan dingin namun tersirat kehangatan di dalamnya.
"Mama...!!" Yuna dan Yeta berlari ke arah Salsa dan memeluk kaki wanita itu dengan erat.
"Aduh-aduh, kenapa anak Mama sampai keringatan seperti ini, hmm?" Salsa mengusap menggunakan tissu wajah kedua anak kembarnya bergantian.
Sementara kedua anak perempuan kembar itu tertawa geli.
"Tadi main kejal-kejalan sama Papa.Tadi pipi Yuna digigit Papa," adu Yuna menunjuk pipi kanannya yang memerah.
"Sini mana pipinya." Yuna memajukan wajahnya dan Salsa mengecup pipi gembul itu.
Seolah tak mau kalah, Yeta menarik ujung baju Salsa hingga wanita itu menoleh.
"Kenapa, Sayang?"
"Lihat, kaki Yeta melah gala-gala Papa." Yeta menunjuk lututnya dengan wajah cemberut.
"Sini, coba Mama lihat." Salsa mengangkat tubuh gempal sang putri ke atas pangkuannya.
Dengan penuh kasih sayang Salsa mengusap bagian lutut Yeta yang terlihat memar.
"Nanti kita obati ya. Sekarang minum susu dulu," ucap Salsa yang diangguki dengan semangat oleh Yeta.
"Sayang..." Rafka langsung mengecup bibir Salsa yang tampak kaget.
__ADS_1
"Iih Mas!" Salsa memukul paha Rafka seraya melirik ke arah anak-anak mereka berdua.
Pria itu hanya cengegesan.
"Lho, kok Papa cium Mama di bibil? Yeta ndak pelnah di cium Papa di bibil," ucap Yeta yang terlihat cemburu.
Diantara ketiga anak-anak mereka berdua, hanya Yeta yang paling posesif dengan Rafka. Dan yang paling suka mencari perhatian.
"Kamu mau juga?" tanya Rafka yang diangguki Yeta. Bocah itu berjalan ke arah sang papa dan memajukan bibirnya.
Cup
Rafka mengecup bibir mungil Yeta yang tampak tersenyum lebar. Yeta merentangkan kedua tangannya pada Rafka agar di gendong dan dengan senang hati pria itu membawa putri kecilnya ke pangkuannya.
"Bagaimana usaha toko bunga mbak Azkiya?" tanya Salsa membuka percakapan.
"Usahanya lancar dan semakin berkembang. Setidaknya itu bisa membiayai dan mencukupi kehidupannya," balas Rafka setelahnya meminum kopi yang dibuatkan sang istri.
Salsa manggut-manggut mendengarnya.
"Kalau kamu mau, sore ini kita ke tempat Azkiya. Sekalian membawa anak-anak jalan."
"Kalau Mas tidak sibuk aku ayo saja. Sudah lama tidak bertemu mbak Azkiya."
"Baiklah, sore kita berangkat ke sana."
Bocah laki-laki itu menoleh kala namanya dipanggil oleh sang papa.
"Apa kamu tidak lelah terus menatap layar gadget? Bermainlah dengan adik-adikmu," ucap Rafka.
Andrew menatap datar Rafka beberapa detik dan kembali menatap layar gadgetnya.
"Seharusnya kita tidak membebaskan dia memainkan benda itu," ucap Rafka geleng-geleng kepala melihat sikap sang putra yang terlihat begitu acuh dan sangat fokus memainkan gadgetnya.
"Kan Mas yang membelikan gadget itu. Memang sudah bakatnya menggambar, jadi biarkan saja dia bereksplorasi," sahut Salsa mendukung sang putra.
"Terserah kamu saja." balas Rafka yang kembali meminum kopinya.
•
•
"Papa, kita mau pelgi ke mana?" tanya Yeta yang kini duduk di pangkuan Salsa. Sementara Andrew dan Yuna duduk di jok belakang mobil.
__ADS_1
Rafka yang tengah menyetir mobil, menoleh sekilas ke arah Yeta."Kita akan pergi ke toko bunga aunty Azkiya. Yeta suka bunga?"
"Iya, Yeta sangat suka bunga, Pa."
Kini, mobil hitam lamborghini yang dikendarai Rafka berhenti di depan sebuah toko bunga.Terlihat seorang wanita dengan pakaian gamis hitam dan hijab hitamnya yang mengulur panjang, tengah sibuk menyusun bunga.
"Assalamu'alaikum, Azkiya..."
Azkiya, wanita itu langsung menoleh."Waalaikumsalam..."
Terlihat jelas raut keterkejutan dari wajah Azkiya atas kedatangan Rafka, terutama Salsa. Matanya mengarah pada ketiga anak kecil yang menatap padanya.
"Kenapa kalian tidak mengatakan akan datang ke sini?" tanya Azkiya yang terlihat kikuk dan gugup saat bertemu langsung dengan Salsa.
Sementara Salsa menelisik pakaian Azkiya. Wanita itu berubah 180° derajat dari Azkiya yang dulu Ia kenal.
"Kami sengaja datang ke sini tidak memberitahumu. Bagaimana usaha toko bunga mu?" tanya Rafka, berusaha memecangkan kecanggungan di antara mereka bertiga.
"Alhamdulillah baik. Ayo masuk ke dalam. Aku akan membuatkan minuman untuk kalian," ucap Azkiya yang diangguki Rafka.
"Itu benar mbak Azkiya?" tanya Salsa menahan lengan suaminya yang hendak masuk ke dalam.
"Iya, Sayang. Sekarang dia benar-benar berubah."
*
"Anak-anak kalian sangat tampan dan juga cantik," puji Azkiya, menatap pada ketiga anak kecil yang duduk di samping Salsa dan Rafka.
"Terima kasih, mbak Azkiya," sahut Salsa dengan cepat.
"Rasanya ingin sekali mencubit pipi anak perempuan itu." Mata Azkiya berkaca-kaca.
Semenjak kejadian enam tahun yang lalu. Azkiya berusaha bangkit dan melawan segala keegoisannya yang ingin sekali merusak pernikahan Rafka dan Salsa.
Sekarang Ia memilih untuk memperbaiki diri dan merenungi segala kesalahan yang Ia lakukan. Begitu dahsyat karma yang harus Ia terima. Sekarang Ia bahagia dengan kehidupannya sekarang. Meski hidup seorang diri dalam kesepian dan kesunyian tanpa ada pasangan dan anak. Tidak ada pria yang mau menerima kekurangannya.
"Mbak Azkiya bisa menganggap anak-anakku seperti anak mbak sendiri." ucap Salsa membuat Azkiya yang menunduk, kini mendongak.
"Terima kasih, Salsa. Maafkan atas semua kesalahanku," ucap Azkiya yang tidak bisa menahan tangisnya.
"Tidak perlu meminta maaf. Itu semua hanya masa lalu dan sekarang fokuslah pada sesuatu yang kita jalani sekarang. Setiap orang tidak pernah luput dari kesalahan."
Rafka tersenyum menatap Salsa kala mendengar ucapan yang istrinya lontarkan. Bagaimana Ia tidak semakin jatuh cinta pada istrinya tersebut. Bukan hanya wajahnya yang cantik tapi juga hatinya.
__ADS_1
Azkiya tidak bisa lagi menahan tangisnya. Beberapa tahun ini Ia tersiksa atas kesalahan yang pernah Ia lakukan.
"Menangislah mbak, bila itu bisa membuat tenang." Salsa memeluk Azkiya yang semakin terisak-isak. Wanita itu menumpahkan air matanya dibahu Salsa yang mengusap punggungnya lembut.