Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 27


__ADS_3

Warning 18+


Pergerakkan tangan Rafka terhenti ketika hendak menutup pintu kamar mandi. Ia menatap ke arah Salsa yang duduk di pinggiran kasur, wanita itu terlihat sibuk dengan lamunannya. Entah apa yang sedang wanita itu pikirkan. Rafka melangkahkan kakinya pelan mendekati sang istri.


"Eh..."


Salsa tersentak kaget ketika Rafka langsung memeluknya dari samping. Ia menoleh menatap suaminya yang tersenyum tipis padanya. Namun, ada rasa sakit melihat wajah pria tersebut. Bukan, Ia tidak membenci Rafka, tapi Ia takut perasaan yang tidak seharusnya tumbuh perlahan semakin kuat tertanam di hati Rafka maupun dirinya.


"Sedang memikirkan apa, hmm?" tanya Rafka, yang semakin erat memeluk tubuh mungil sang istri dari samping. Seolah merobohkan  kecanggungan yang ada diantara keduanya terutama pada Salsa.


"Bapak, tahu? Dari sisi manapun hubungan kita tetap salah terutama pada ku. Andai aku tahu sedari awal bila Bapak sudah menikah. Sungguh, aku lebih memilih mengandung janin ini tanpa adanya suami dan menerima semua hinaan orang-orang meski itu sangat menyakitkan, dibanding harus menyakiti hati perempuan lain," ucap Salsa yang menatap sendu Rafka.


Sementara Rafka tampak terkekeh mendengar ucapan Salsa yang seolah dianggap sebagai lelucon.


"Sepertinya kau butuh istirahat," balas Rafka yang perlahan melepaskan pelukannya.


Salsa semakin lekat menatap wajah Rafka."Pak, tolong dengarkan perkataan ku kali ini saja. Sebelum semuanya terlambat lebih baik kita sudahi saja pernikahan ini, toh kita hanya menikah secara siri," ucap Salsa yang berusaha membujuk Rafka.


Bukan tanpa alasan Ia memohon seperti ini, Ia hanya takut suatu saat nanti akan sangat sulit menyudahi hubungan ini termasuk melepaskan suaminya. Lebih baik merasakan sakitnya di awal.


"Saya mohon Salsa, jangan terus meminta saya menyudahi pernikahan ini. Kau tidak akan tahu rasanya penyesalan saat melepaskan seseorang yang sangat berarti. Dan saya tidak ingin merasakan itu!" balasnya tegas tanpa ingin dibantah.


Salsa memejamkan matanya dan menghela napas pelan. Rafka menyentuh dagu sang istri, menatap dalam netra coklat berair itu dengan tatapan yang menyiratkan sesuatu.

__ADS_1


"Pernikahan ini terjadi memang karena sebuah kesalahan, tapi kau harus ingat ini juga bagian dari takdir." Setelah mengucapkan itu Rafka langsung memagut bibir Salsa.


Pria itu mel*mat lembut bibir Salsa, menyalurkan perasaannya saat ini pada wanita itu. Sedangkan Salsa tampak pasrah menerima perlakuan yang Rafka berikan. Pria itu menarik kedua tangan sang istri agar melingkar di lehernya tanpa melepaskan pagutan bibir keduanya. Rafka  menekan tengkuk Salsa agar ciuman mereka berdua semakin dalam.


Salsa tampak terbuai dengan sentuhan yang Rafka berikan hingga memantik gairah pada wanita hamil tersebut.


Dengan hati-hati Rafka membaringkan tubuh Salsa di kasur, mengingat sang istri tengah mengandung. Rafka melepaskan pagutannya dan menatap intens pada wanita yang kini dibawah kungkungannya. Napas Salsa tampak terengah-engah dengan tatapan sayu pada suaminya dan terlihat kabut gairah terpancar dari sorot mata keduanya. Yang sama-sama mendamba.


"Saya menginginkan mu, apa kau mengizinkannya?" tanya Rafka yang menahan hasrat nafs*nya yang semakin mencekik dan menyiksa.


Salsa terdiam sejenak, hingga sedetik kemudian wanita itu mengangguk ragu. Setelah mendapatkan lampu hijau Rafka segera melepaskan pakaiannya dan kembali mencium bibir yang terlihat membengkak itu. Suara decapan dan des*han memenuhi ruangan yang terasa memanas itu.


Dengan tidak sabaran Rafka membuka kancing baju Salsa dan melempar asal baju dan bra sang istri yang sudah terlepas. Jakun pria itu naik turun melihat keindahan didepan matanya. Dada yang putih dan puncak yang sangat menggoda.


Wanita itu tampak tidak bisa menahan desahannya ketika Rafka bermain di area puncak dadanya, bak bayi besar yang sangat kehausan. Meskipun begitu, ada rasa nikmat yang menjalar ketika sapuan lidah hangat Rafka.




Azkiya duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya. Pandangan mata wanita itu mengarah pada gerbang. Ia menunggu kedatangan suaminya, dan sekarang hari sudah sangat sore tapi Rafka tidak ada tanda-tanda akan pulang.


"Nona, ini teh yang anda minta," ucap seorang pelayan yang datang membawa secangkir teh hangat.

__ADS_1


"Letakkan saja di meja," balas Azkiya yang kini mengutak-atik ponselnya dan menempelkan ke telinganya.


Wanita itu mendesah dengan raut wajah yang tampak resah. Sudah beberapa kali Ia menghubungi Rafka, tapi hasilnya tetap sama. Pria itu tidak mengangkat sambungan telponnya. Azkiya meneguk ludahnya kasar dengan perasaan campur aduk.


"Sesibuk apa dia sampai tidak mengangkat telpon ku," ucap Azkiya yang sedikit kesal. Seharusnya Rafka membujuknya agar memaafkan kesalahan yang pria itu lakukan karna ketahuan berhubungan dengan wanita murahan itu.


Sedangkan ditempat berbeda, napas sepasang suami-istri yang baru saja memadu kasih tampak terengah-engah. Badan keduanya basah oleh keringat yang menguar aroma cairan percintaan mereka berdua. Kondisi dalam kamar saat ini seperti kapal pecah.


Rafka memeluk erat Salsa dari belakang yang penuh keringat. Terlihat jelas raut wajah yang tampak puas pada pria tersebut. Baru kali ini Ia merasakan senikmat ini saat bercinta, berbeda saat bercinta dengan Azkiya. Mungkin karna Salsa masih perawan sedangkan Azkiya tidak.


Sepertinya Ia akan meminta lagi pada Salsa. Ia benar-benar kecanduan pada tubuh istri sirinya tersebut.


"Masih sakit?" tanya Rafka seraya mengusap-ngusap perut Salsa. Wanita itu mengangguk. Entah kenapa setelah bercinta perutnya tiba-tiba terasa nyeri. Ditambah bagian sensitifnya terasa perih, sedangkan ini bukan pertama kalinya Ia bercinta dengan Rafka.


"Nanti saya belikan obat di apotek," ucap Rafka yang diangguki Salsa.


____________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir.


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.


See you di part selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2