Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 39


__ADS_3

Kini, semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga termasuk Azkiya yang duduk berhadapan dengan Rafka. Sementara Salsa duduk di samping Elsa yang tengah menggendong Andrew.


"Arjo..." Rafka menengadahkan tangan kanannya pada sang asisten tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Azkiya.


Arjo menyerahkan map merah yang berisi surat perceraian. Sedangkan Revin menatap putra dan menantunya secara bergantian dengan pandangan yang menyiratkan sesuatu.


"Ini..., seperti janji ku kemarin. Aku akan mengakhiri pernikahan ini. Bukan karna aku ingin menjadikan Salsa satu-satunya istri ku, tapi karna kesalahan fatal yang telah kamu perbuat," ucap Rafka serak.


Pria itu menghela napas panjang bersamaan dengan rasa perih yang Ia telan bulat-bulat. Bagaimana tidak, pernikahan yang dibangun selama tiga tahun harus usai begitu saja. Bila dikatakan cinta, tentu, Rafka masih mencintai Azkiya. Tapi rasa benci dan marah lebih dominan dari rasa cinta itu sendiri.


"Apa tidak ada jalan lain, selain perpisahan?" ucap Revin angkat suara. Karna sangat disayangkan pernikahan yang di bangun selama tiga tahun harus kandas.


Rafka menggeleng."Tidak bisa, Ayah. Dia tidak mencintai ku dan harga diri ku sudah direndahkannya melalui perselingkuhan yang dia lakukan dengan sahabat ku. Biarkan dia hidup bahagia dengan pilihannya."


Entah mengapa kalimat terakhir yang Rafka ucapkan menyentil hati Azkiya.


Salsa memilih diam membisu. Awalnya Ia kira Rafka menceraikan Azkiya karna kehadirannya, ternyata bukan. Meski begitu, Ia tetap merasa tak enak hati.


"Biarlah mereka bercerai, Yah. Kita tidak mungkin memaksa mereka berdua tetap bersama, bila mereka berdua merasa sudah tidak cocok," timpal Elsa menatap suaminya.


Revin tidak menanggapi ucapan Elsa, sorot matanya mengarah pada Azkiya.


"Apa kamu juga menginginkan hal yang sama dengan keputusan Rafka, Azkiya?" tanya Revin menatap menantunya tersebut.


Azkiya mengangguk." Seperti yang Bunda katakan, kami berdua sudah tidak memiliki kecocokan lagi. Bila pernikahan ini tetap dipertahankan yang ada hanya pertengkaran dan cekcok." Tatapan Azkiya mengarah pada Salsa."Apalagi sekarang, Mas Rafka membawa perempuan yang menjadi pemicu perpisahan ini___"


"Tutup mulut itu!" sela Rafka memotong ucapan Azkiya."Perpisahan ini terjadi karna kesalahan mu yang berhubungan dengan sahabat ku! Dan jangan menyangkut pautkan Salsa dalam masalah ini!" ucap Rafka tegas.


Pria itu menatap tajam Azkiya yang langsung memalingkan wajahnya. Seolah terintimidasi dengan tatapan yang suaminya berikan.


Salsa mengigit bibir bawahnya. Ia takut apa yang di ucapkan Azkiya benar adanya. Bila perpisahan ini terjadi karna kehadirannya meski itu bukan sepenuhnya kesalahannya.


"Cepat tandatangani surat ini, dan kamu bebas dari pernikahan yang mengikat kita berdua! Dan kamu bisa bersenang-senang dengan Fano!" sarkas Rafka penuh sindiran.


Sementara Elsa, Revin dan Arjo hanya menonton perdebatan keduanya tanpa ingin ikut campur lagi.


Azkiya membuka kasar map merah tersebut, sebelum menandatangani surat perceraian itu. Ia menatap penuh kebencian pada Salsa. Demi wanita itu, Rafka membentaknya dan mempermalukan dirinya dihadapan semua orang.

__ADS_1


"Ini! Sesuai yang kamu minta. Aku pun tidak sudi terlalu lama terikat dengan pernikahan sialan ini!"


Elsa menatap terperangah dengan sikap Azkiya yang langsung berubah drastis.Yang lemah lembut menjadi sosok yang penuh emosi.


"Dan kamu juga harus tahu, aku menikah dengan mu karna kasihan, Rafka! Laki-laki yang terus mengemis cinta pada ku haha..." Azkiya tertawa keras di akhir kalimatnya.


Rafka mengetatkan rahangnya dengan kedua tangan yang terkepal menahan emosi. Wanita itu seolah merendahkan dirinya.




"Ini kamar mu," ucap Rafka mengantarkan Salsa ke kamar tamu.


Salsa mengedarkan pandang matanya ke setiap sudut kamar yang cukup besar dan megah. Setelah puas melihat ke sekeliling kamar itu, Ia menoleh ke arah Rafka di sampingnya.


"Apa Bapak benar-benar ingin bercerai dengan mbak Azkiya?" tanya Salsa memberanikan diri bertanya.


Raut wajah Rafka mendadak berubah.


"Jangan membahas itu. Kau fokus saja dengan hubungan kita kedepannya," jawab Rafka membalas tatapan Salsa.


"Ayo masuk." Rafka merengkuh pinggang Salsa, membawanya masuk ke dalam kamar yang sudah tercium aroma lavender.


"Letakkan Andrew di kasur. Sepertinya dia sangat mengantuk sekali," ucap Rafka menatap lekat wajah putranya tersebut.


Dengan patuh Salsa meletakkan Andrew di kasur. Ia mencium pipi gembul tersebut dan tersenyum tipis. Rafka yang melihat ikut tersenyum dengan hati yang menghangat.


"Secepatnya kita akan ke rumah orangtua mu. Saya akan melamar mu dan mengakui perbuatan saya di masa lalu terhadap mu."


Tubuh Salsa menegang. Ia menatap Rafka.


"Kau sangat merindukan mereka, kan?"


Salsa mengangguk cepat. Air mata langsung menggenang. Sembilan bulan lebih Ia harus menahan rindu tidak bertemu dengan kedua orangtuanya.


Rafka melangkah mendekat dan menarik Salsa dalam pelukannya. Mengusap kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang. Sementara Salsa hanya diam merasakan sentuhan yang pria itu berikan tanpa ada niat membalas pelukan itu. Entahlah, apakah Ia harus bahagia kembali di satukan dengan Rafka ataupun tidak.

__ADS_1


Setelah puas memeluk wanita itu, Rafka menguraikan pelukannya. Ia menangkup wajah Salsa dan menatap iris coklat berair itu.


"Jangan pernah kabur lagi dari saya. Karna yang saya incar bukan hanya anaknya tapi juga kamu."


Damn! Pipi Salsa langsung merona mendengar kata-kata yang keluar dari bibir tipis Rafka. Ia tidak boleh langsung luluh.


"Sebaiknya Bapak keluar, aku ingin istirahat." Salsa menepis pelan kedua tangan Rafka yang masih bertengger di wajahnya.


"Kenapa? Saya ingin menghabiskan malam dengan mu. Sudah sembilan bulan kau tidak memberikan jatah," goda Rafka tersenyum tengil.


Salsa langsung mundur beberapa langkah memberikan jarak diantara mereka berdua.


"Aku baru melahirkan..."


"Berarti harus menunggu empat puluh hari?"


Salsa memejamkan matanya rapat-rapat. Merasa malu apalagi membahas hal yang sensitif seperti ini. Tapi ini hal biasa bagi Rafka yang merupakan pria dewasa yang otaknya tidak jauh-jauh memikirkan tentang s*x.




Azkiya menghempaskan badannya ke kasur. Ia menatap ke langit-langit kamar. Bila Ia berpisah dengan Rafka, semua fasilitas yang pria itu berikan harus Ia kembalikan.


"Apakah Fano akan menikahi ku setelah tahu aku bercerai dengan Rafka?" gumam Azkiya.


Saat ini Ia tidak punya siapa-siapa lagi. Kedua orangtuanya sudah bercerai saat Ia berusia 12 tahun. Dan mereka sudah bahagia dengan keluarga baru mereka masing-masing dan Ia dilupakan.


Apalagi mengingat kekurangannya yang tidak bisa hamil.


______________


Jangan lupa follow IG ku windanor99


Hei girl! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggal jejak dengan memberikan like dan komen agar authornya semakin rajin update😘

__ADS_1


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2