Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 13


__ADS_3

...Terkadang seorang wanita lebih mengutamakan perasaannya hingga membiarkan hatinya terluka berkali-kali agar tetap bersama pria yang Ia cintai. Memang sesakit itu mencintai seorang diri....


...@Khazana_va...


Rafka duduk di samping brankar. Matanya menelisik wajah pucat Salsa yang sudah setengah jam berlalu namun belum siuman. Kedua tangan Rafka menggenggam tangan kanan Salsa yang sangat kurus. Hatinya masih terasa perih melihat kondisi istri sirinya yang sangat menyedihkan.


Ucapan dokter tentang kondisi Salsa masih terngiang-ngiang dalam kepalanya. Iya, Rafka sudah menemui dokter yang menangani istri tersebut dan pernyataan dokter benar-benar membuat Ia semakin khawatir pada kandungan Salsa.


"Tuan, ini pakaian Nona Salsa," ucap Arjo yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Salsa. Ia meletakkan tas ransel yang berisi beberapa pakaian dari istri atasannya tersebut.


Dokter mengatakan bila Salsa harus di rawat inap karna kondisinya yang cukup mengkhawatirkan di tambah kondisi kandungan Salsa sangat lemah.


"Letakkan saja di sofa," balas Rafka tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Salsa. Arjo segera meletakkan tas ransel tersebut di sofa." Bila Azkiya menelpon mu dan menanyakan perihal ku, katakan saja aku ada pekerjaan mendadak keluar kota," perintah Rafka.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit undur diri, bila anda membutuhkan apapun langsung hubungi saya," ucap Arjo.


"Hmm..."


Pria yang mengenakan pakaian formal itu keluar dari ruangan tersebut. Dan kini menyisakan Rafka dan Salsa yang masih betah menutup matanya.


"Kapan kau sadar?" gumam Rafka. Tatapan matanya beralih pada perut datar Salsa yang tertutup kain." Semoga kau baik-baik saja di dalam sana."


Gerakkan tangan kanan Salsa membuat senyuman tipis terbit di bibir Rafka. Pria itu menatap sang istri yang perlahan membuka matanya dan mengerjap beberapa kali hingga matanya terbuka sempurna. Ada kelegaan di hati Rafka melihat Salsa sudah sadar.


"Akhirnya kau sadar."


Pupil mata Salsa membesar kala mendapati Rafka sudah berada di sampingnya. Pria itu tersenyum lebar padanya, usapan hangat Ia rasakan di pipinya. Pandangan matanya memburam tergenang air mata yang mendadak membanjir di pelupuk matanya. Perasaannya bergejolak tak karuan melihat Rafka dengan pandangan yang rumit untuk diartikan.


"Kenapa menangis, hmm? Ada yang sakit?" tanya Rafka melihat air mata meluncur bebas dari pelupuk mata sang istri. Salsa membalas dengan gelengan lirih, genggaman tangannya pada tangan Rafka semakin erat seolah takut pria itu kembali meninggalkan dirinya.


"Tunggu sebentar, saya panggilkan dokter dulu," ucap Rafka segera melepaskan genggam tangan Salsa yang seolah tak ikhlas tautan tangan mereka berdua terlepas.

__ADS_1


Salsa menatap sayu sosok Rafka yang kini hilang dari balik pintu. Air mata seolah tak berhenti berguguran. Rindu, marah dan sedih bercampur dalam benaknya saat ini. Sementara Rafka berdiri di depan pintu, termenung sejenak. Entahlah, Ia merasakan gelenyar aneh di hatinya pada Salsa. Ingin rasakan memeluk tubuh mungil itu dalam dekapannya. Apalagi melihat mata bulat itu. Tetapi selalu ada rasa bersalah merasuk ke dalam benaknya pada Azkiya tentang hubungan gelapnya dengan Salsa, meski Ia tidak mencintai wanita muda tersebut yang kini sedang mengandung calon anaknya.


"Jadi, bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Rafka ketika dokter Syifa selesai memeriksa Salsa.


"Seperti yang anda lihat, istri anda masih sangat lemah dan harus di rawat inap di rumah sakit ini sampai kondisinya benar-benar pulih. Apalagi dia sedang hamil muda," jawab dokter Syifa melirik Salsa yang masih terbaring lemah di brankar."Dan seharusnya anda lebih memperhatikan kondisinya, bukan sibuk dengan pekerjaan!"


Entahlah, dokter Syifa benar-benar geram dengan Rafka apalagi melihat kondisi Salsa yang jauh dari kata baik-baik saja. Sedangkan sudah tanggung jawab pria itu menjaga istrinya tersebut apalagi melihat kondisi wanita itu tengah hamil muda.


"Bersikap profesional, lah, tidak usah mencampur dengan urusan pribadi," balas Rafka dingin. Dokter Syifa meneguk ludahnya kasar, melihat aura perbeda dari pria yang ada di hadapannya.


Dokter wanita itu menundukkan kepalanya sejenak dan kembali menatap Rafka."Suster akan mengantarkan obat-obatan untuk istri anda. Jika tidak ada pertanyaan lagi saya permisi," ucap dokter Syifa.


"Silahkan." Rafka menggeser tubuhnya, memberikan jalan untuk dokter Syifa keluar dari ruangan tersebut.


Salsa meremas kuat sprei hingga tak berbentuk dengan perasaan takut. Kini, di ruangan tersebut tersisa Ia dan suaminya. Rafka menatap Salsa yang memalingkan wajahnya.


"Apa uang yang saya berikan kurang sampai kau sangat kurus seperti ini? Dan lihatlah diri mu sekarang, seperti tidak terurus sama sekali, tidak sedap di pandang. Di tambah kondisi kandungan yang melemah!"


"Lihat mata saya." Rafka menangkup pipi Salsa hingga wanita itu bertatapan dengan suaminya. Bibir wanita itu bergetar dan air mata tak sanggup wanita muda itu bendung lagi.


"Maafkan aku..." ucap Salsa lirih dan serak.


Rafka menghela napas kasar. Ia menjauhkan tubuhnya dari Salsa yang mengusap kasar air matanya. Sorot mata wanita itu menatap terluka pada suaminya.


"Aku janji tidak akan merepotkan Bapak lagi, aku akan menjaga kandungan ku lebih baik lagi. Karna aku tahu, aku di pertahankan karna anak yang ku kandung," sambungnya dalam bathin.


Rafka mengusap kasar wajahnya. Pria itu  melangkah keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Salsa yang kini menangis sejadi-jadinya hingga dada wanita itu terasa sangat sesak.


"Ibu hiks..."


Salsa menutup wajahnya dengan kedua tangan yang sudah basah oleh air mata yang mengucur deras. Ia tidak pernah menginginkan di posisi ini dan tidak pernah terlintas dalam benaknya akan terlibat pernikahan dengan atasannya sendiri.

__ADS_1


Salsa terlihat sangat menyedihkan dengan kondisinya sekarang. Bagaimana pun wanita sederhana seperti dirinya tidak akan mungkin mendapatkan cinta dari suaminya yang merupakan orang berada.




Azkiya menatap ke arah ruang tamu di mana mertuanya, Elsa, tengah menunggu dirinya. Hari ini Ia akan memeriksakan dirinya ke rumah sakit di temani oleh Elsa.


"Kenapa mas Rafka tidak bisa di hubungi?" decak Azkiya kesal. Sudah berapa kali Ia menghubungi suaminya dan hasilnya nihil, sambungan telponnya tidak di angkat.


Ia sangat membutuhkan suaminya untuk ikut menemani dirinya ke rumah sakit. Dan membuktikan pada Elsa bahwa Ia baik-baik saja dan bisa hamil seperti wanita lainnya.


"Azkiya! Azkiya!" Suara keras Elsa membuat Azkiya memejamkan matanya dengan rasa kesal yang tertahan dalam benaknya.


"Iya, Bunda! Tunggu sebentar!" Azkiya memasukkan dengan kasar ponselnya ke dalam tas dan bergegas menghampiri Elsa.


"Kenapa lama sekali? Hampir setengah jam Bunda menunggu kamu," gerutu Elsa.


"Maaf Bunda, aku buang air kecil tadi."


"Kalau begitu ayo kita berangkat. Bunda akan mengajak kamu ke klinik anak sahabat Bunda, dia akan memeriksa kondisi dan kesehatan rahim kamu. Dan Bunda ingin tahu menyebab kamu tidak hamil-hamil sampai sekarang. Bunda hanya takut kamu mandul."


Deg


Napas Azkiya tercekat mendengar penuturan mertuanya.


___________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir.


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. Terima kasih.

__ADS_1


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2