
...Di balik wajah datarnya terselip perasaan cinta yang sulit di ungkapkan. Hanya perhatian yang bisa Ia berikan dengan harapan wanita itu sadar dengan perasaannya. Namun sayang, tidak semua wanita peka akan hal itu....
Azkiya membekap mulutnya menahan isak tangis dan sorot mata yang tampak shock membaca surat pernyataan dari dokter bila Ia dinyatakan mandul. Sesak, perih dan sakit menghantam bersamaan dalam dadanya. Kepalanya mendadak berdenyut sakit. Kemarin saat Ia berkonsultasi dengan dokter Arya di temani oleh Rafka hasilnya baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang berbanding terbalik saat berkonsultasi dengan dokter pilihan mertuanya.
Elsa menatap iba pada menantunya yang terlihat shock dan raut wajahnya yang teramat sedih.
"Ini pasti salah," ucap Azkiya serak, Ia menatap dokter Fira dengan tatapan tak percaya."Kemarin aku periksa dengan dokter Arya tidak seperti ini hasilnya. Bahkan kondisi rahim ku baik-baik saja..."
Dokter Fira menghela napas berat." Hasilnya memang benar dan kami tidak melakukan pemalsuan surat pernyataan itu. Anda mengalami kemandulan, dan keluhan yang anda sampaikan sudah menjurus ke arah ciri-ciri itu. Dan hasil pemeriksaan sudah menyatakan hal yang sama dengan yang saya perkirakan," papar dokter Fira.
Bahu Azkiya merosot lemas. Tatapan mata wanita itu terlihat sangat kosong. Elsa mengusap-ngusap bahu menantunya yang menangis terisak-isak.
"Aku ingin mengandung, Bun. Aku ingin seperti perempuan yang lainnya. Kenapa mas Rafka membohongi ku...aku sangat berharap bisa mengandung." Azkiya menangis sesegukan, Ia benar-benar tidak terima dengan hasil yang Ia baca dan kenyataan bila suaminya membohongi dirinya selama ini.
"Tenangkan diri mu, Nak." Elsa memeluk Azkiya yang sudah melemas. Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada sang mertua. Menangisi nasib buruk yang menimpanya.
Dokter Fira bangkit dari tempat duduknya dan menenangkan Azkiya yang sudah menangis sesegukan.
"Anda tidak perlu khawatir, masih ada jalan keluar untuk masalah ini," ucap dokter Fira.
"Jalan keluar apa, Dok? Saya mandul dan tidak mungkin bisa hamil lagi hiks..." balasnya terisak-isak.
Dokter Fira melirik Elsa yang menganggukkan kepalanya.
"Lakukan apa saja asalkan menantu saya bisa mengandung," ucap Elsa penuh harapan.
"Tentu saja, saya akan melakukan yang terbaik. Tapi saya tidak menjamin seratus persen mengobatan ini akan berhasil," balas dokter Fira.
Sementara tubuh Azkiya bergetar bersamaan dengan isak tangis yang semakin menjadi-jadi serta rasa sakit luar biasa yang Ia rasakan dalam dadanya. Terkadang harapan tak sesuai dengan kenyataan yang harus di Terima.
__ADS_1
•
•
Rafka mengambil surat perjanjian yang dibawakan oleh asistennya, Arjo. Sudut bibir pria itu berkedut. Sedangkan Salsa hanya bisa diam dan memperhatikan kedua pria yang ada dihadapannya.
"Apa ini tidak keterlaluan, Pak?" ucap Arjo pelan seraya melirik Salsa.
"Ini demi kebaikkannya, dia tidak akan rugi menandatangani surat perjanjian ini," balas Rafka tanpa mengalihkan pandangan matanya pada kertas putih itu. Seolah puas dengan perjanjian yang Ia buat sendiri yang di edit oleh sekretarisnya sedemikian rupa sesuai keinginannya.
Rafka merotasikan pandangan matanya pada tatapan polos Salsa. Ia melangkah mendekati wanita muda itu yang diam membeku dengan posisi duduk bersandar di bahu brankar.
"Tanda tangani surat ini." Rafka menyerahkan map hijau yang berisi surat perjanjian yang harus wanita itu tanda tangani.
Dengan ragu-ragu Salsa mengambil map biru itu dari tangan suaminya. Pupil matanya membesar membaca isi perjanjian yang membuat rongga dadanya sesak.
"Aku tidak setuju dengan perjanjian ini." Salsa menggelengkan kepalanya. Ia menatap Rafka dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Namun, tampak jelas sorot kekecewaan dari mata bulat itu."Ini tidak adil untuk ku, Pak. Aku tidak masalah bila pernikahan kita hanya berlangsung selama satu tahun, tapi aku tidak setuju bila hak asuh anak jatuh pada Bapak," ucap Salsa menahan isak tangis.
"Kebaikan apa yang aku dapatkan, hah? Aku tahu, aku hanya orang miskin yang mungkin Bapak pikir bisa di ancam dengan kekuasaan dan harta yang Bapak miliki." Salsa melepaskan genggaman tangan Rafka, mengusap kasar air mata yang kini membasahi pipi pucatnya.
Tanpa ragu Salsa merobek surat perjanjian itu dan melempar kasar tepat di dada kokoh Rafka yang tertegun dengan perlakuan Salsa.
"Aku tidak___" Salsa menutup mulutnya sebelum menyelesaikan ucapannya. Ia langsung memuntahkan isi dalam perutnya hingga mengenai kemeja milik Rafka.
Sementara Rafka mengambil tissu di atas meja dan mengusap bibir Salsa yang sudah basah oleh cairan bening di sekitaran bibirnya. Tangan kekarnya mengusap - ngusap punggung Salsa dengan lembut.
"Minumlah." Rafka menyerahkan segelas air putih pada Salsa.
Tanpa berkata apapun wanita itu menerima air minum yang suaminya berikan. Ia menepis kasar tangan Rafka dibagian tubuhnya.
__ADS_1
"Di ganti dulu pakaiannya," ucap Rafka melirik pakaian milik Salsa yang kotor.
"Tidak usah pura-pura baik pada ku bila imbalannya ingin mengambil anak ku!" balas Salsa melotot tajam pada suaminya.
Emosi wanita itu benar-benar tidak bisa di rendam. Bukan hanya pengaruh kehamilan yang membuat emosinya tak stabil tapi kekecewaan yang Ia rasakan.
"Baiklah, kita batalkan saya perjanjian itu!" sarkas Rafka menatap menusuk pada Salsa.
Wanita itu memalingkan wajahnya, Ia benci harus berada di situasi seperti ini. Di mana setiap langkah yang akan Ia ambil benar-benar merugikannya.
*
*
Dua petugas kebersihan rumah sakit baru saja membersihkan bekas muntahan Salsa di lantai, sekaligus mengganti sprei dan bantal yang Salsa pakai.
Dan kini, wanita itu hanya pasrah ketika Rafka menanggalkan pakaiannya dari celana sampai baju yang Ia kenkan. Dan sekarang Ia hanya mengenakan bra dan celana dal*m. Sementara Rafka sibuk mengeluarkan pakaian miliknya dalam tas ransel.
"Kenapa semua pakaian mu jelek?" cetus Rafka.
Lagi, Salsa hanya diam tanpa ingin menyahuti. Pria itu kembali mendekati sang istri, Ia diam sejenak menatap Salsa yang terlihat merengut. Tatapan matanya turun memperhatikan lekuk tubuh Salsa. Rafka menggelengkan kepalanya, menghalau pikiran kotor yang hingga dalam kepalanya. Ia tidak akan menyentuh Salsa sampai kapan pun, hingga wanita itu melahirkan anaknya.
Namun, nafsu yang lebih besar bisa saja mengambil alih akal sehat hingga melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.
________________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir❤
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. Terima kasih.
__ADS_1
See you di part selanjutnya:)