Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 17


__ADS_3

...Tidak semua orang bisa memahami kondisi mu. Sekalipun kau dalam kehancuran. ...


Tiga hari berlalu semenjak Salsa di rawat di rumah sakit. Sekarang, kondisi wanita itu sudah mulai pulih dan dokter pun sudah mengizinkan Salsa untuk pulang dengan syarat tidak melakukan aktivitas berlebihan dan menjaga asupan makanan.


Di sepanjang koridor rumah sakit keduanya berjalan beriringan menuju ke area parkiran, Rafka menentang tas ransel yang berisi pakaian kotor Salsa dan beberapa barang milik wanita itu. Keduanya tampak seperti orang asing, tidak ada percakapan di antara keduanya.


"Masuk," titah Rafka membukakan pintu mobil untuk Salsa yang langsung masuk ke dalam. Aroma maskulin langsung menusuk  ke indra penciuman wanita itu ketika sudah berada dalam mobil Lamborghini sedan tersebut.


Rafka mulai menjalankan mobilnya. Salsa menatap ke arah luar jendela mobil, Ia sedikit menurunkan kaca mobil hingga udara segar masuk dan menerpa wajahnya.  Rafka hanya melirik sekilas ke arah sang istri dan kembali fokus menyetir.


"Bisakah kita berhenti sebentar di minimarket?" celetuk Salsa menatap ke arah minimarket yang ada di pinggir jalan.


Tanpa menjawab, Rafka langsung menepikan mobilnya dan memarkirkan kendaraan roda empat itu di depan minimarket yang tampak ramai oleh anak muda yang duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh pihak minimarket.


Salsa segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam minimarket, Ia ingin membeli sesuatu yang sedari tadi terus terngiang-ngiang dalam kepalanya. Rafka pun segera menyusul sang istri.


"Jangan terlalu banyak membelinya." Suara berat Rafka membuat pergerakkan tangan Salsa terhenti. Wanita itu mendongak menatap suaminya yang kini berdiri di sampingnya.


"Tapi aku sangat menginginkan es krim ini dan tidak cukup hanya satu. Ini keinginan anak ki-ta." Salsa sedikit gagap mengucapkan kalimat terakhir.


Rafka terdiam. Entahlah, tapi mendadak hatinya menghangat. Mungkin karna Salsa menyebut nama janin yang wanita itu kandung." Baiklah, tapi ambil secukupnya."


Senyuman Salsa mengembang begitu manisnya. Rafka tidak bisa menahan sudut bibirnya yang ikut terangkat seolah senyuman wanita tersebut menjangkit. Memilik mata bulat itu memasukkan es krim yang Ia inginkan ke dalam keranjang belanjaan yang Ia tenteng. Salsa menoleh ke arah rak belanjaan yang ada di sampingnya dan mengambil satu bungkus snack coklat.


Hampir lima belas menit mereka berada di dalam minimarket tersebut dan Salsa masih memilih-milih makanan yang akan Ia beli. Rafka mengikuti sang istri dari belakang yang sibuk menyusuri setiap rak makanan.


"Stop!" Suara nyaring Azkiya membuat Anto merem mendadak mobil yang sedang Ia kemudi. Beruntung di belakang mobil mereka tidak ada pengendara lain.


Azkiya menatap lekat pada mobil sedan hitam yang terparkir di depan minimarket dan plat nomor mobil tersebut.


"Kita ke minimarket itu," titah Azkiya menunjuk minimarket di sebrang sana.

__ADS_1


Anto yang merupakan sopir pribadi Azkiya segera menjalankan mobilnya menuju ke minimarket yang di tunjuk oleh majikannya. Azkiya segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam minimarket tersebut dengan hati yang menggebu-gebu. Empat hari suaminya menghilang tanpa ada kabar dan sekarang Ia menemukan Rafka di minimarket yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.


"Mas Rafka!" Azkiya menarik kasar lengan suaminya hingga berbalik badan ke arahnya.


"Kamu kenapa ada di sini?" tanya Rafka yang terkejut dengan keberadaan istrinya sekarang. Mendadak hatinya tak tenang, Rafka melirik ke arah Salsa yang tidak jauh dari tempat Ia berdiri sekarang. Wanita itu masih sibuk memilih-milih belanjaannya.


"Seharusnya aku yang tanya? Selama empat hari kenapa kamu menghilang tanpa kabar?!" sarkas Azkiya menatap tajam suaminya.


"Sini ikut aku." Rafka menarik pergelangan tangan Azkiya dan membawanya keluar dari minimarket.


"Cepat jelaskan Mas!" Azkiya semakin meninggikan suaranya dan napas yang memberat.


"Aku ada pekerjaan, Sayang. Dan itu dadakan sampai tidak bisa memberitahu mu." Rafka menggengam kedua tangan Azkiya dan menyakinkan istrinya tersebut.


"Bohong! Kenapa kamu ada di sini sekarang?!" Azkiya menyentak kasar hingga genggaman tangan Rafka terlepas.


"Sebaiknya kita pulang, biar aku jelaskan di rumah." Rafka kembali mengiring Azkiya menuju ke mobilnya. Dan itu tidak luput dari perhatian orang-orang yang sedari tadi melihat pertengkaran keduanya.


"Pak Rafka...!" Salsa berlari keluar dari minimarket. Wanita itu menatap nanar kepergian mobil pria tersebut yang kini menjauh dan menghilang dari pelupuk matanya.


"Pak Rafka...!" Teriakan Salsa semakin keras.


"Hei! Anda belum membayar belanjaannya." ucap seorang wanita yang merupakan pegawai minimarket yang mengejar Salsa.


Salsa terdiam. Ia meraba-raba kantong baju dan celananya yang tidak ada sepeser pun uang.


"Uang saya ketinggalan," cicit Salsa tertunduk malu.


"Ck, kalau tidak uang tidak usah belanja di market ini atau jangan-jangan anda ingin mencuri!" tuding pegawai wanita itu menatap sinis Salsa.


"Saya tidak ada niat mencuri. Ini saya kembalikan belanjaannya." Salsa menyerahkan keranjang berisi belanjaan yang akan Ia beli tadi.

__ADS_1


"Tapi ada tetap harus ikut saya."


"Saya benar-benar tidak mencuri." ucap Salsa berusaha membela dirinya.


Tanpa menghiraukan ucapan Salsa, pegawai minimarket itu menarik kasar pergelangan Salsa untuk kembali masuk ke dalam market. Karna sudah beberapa kali orang kedapatan mencuri di market mereka. Dan biasanya orang yang mencuri barang belanjaan selalu menyembunyikan di dalam baju atau celana.




"Kenapa kamu harus membohongi ku, Mas?!" Azkiya melempar kasar keras putih tepat di wajah Rafka, surat pernyataan bila Ia mandul."Kenapa kamu harus menyembunyikan rahasia ini? Rahasia kalau aku mandul!"


Azkiya tidak bisa menahan emosi dan amarahnya yang kini meledak-ledak.


"Aku melakukan ini demi kamu," balas Rafka tenang.


"Demi aku? Buat apa? Agar aku tidak terpuruk dan sedih, begitu?" ucap Azkiya yang tak dapat membendung air matanya yang kini tumpah ruah."Yang kamu lakukan salah, Mas! Seharusnya kamu jujur dari awal! Tidak usah mengatakan kondisi ku baik-baik saja sampai bekerjasama dengan dokter Arya. Sakit, Mas! Sakit harus mendengarkan kenyataan ini dari orang lain!"


Azkiya meremas kasar rambutnya dan menangis terisak-isak. Rafka langsung memeluk sang istri dengan erat.


"Sakit Mas, hiks..."


"Maafkan aku, Sayang." Rafka semakin erat memeluk tubuh mungil Azkiya. Wanita itu benar-benar rapuh dan lemah semenjak kenyataan itu terkuak." Kita bisa mengadopsi anak orang lain, tapi harus menunggu sembilan bulan," ucap Rafka tanpa pikir panjang.


Azkiya menghentikan tangisannya dan mendongak menatap suaminya."Menunggu Sembilan bulan?"


Rafka mengangguk dengan ragu-ragu. Semoga langkah yang Ia ambil adalah langkah yang terbaik meski harus mengorbankan orang lain.


__________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir.

__ADS_1


Dan jangan sungkan untuk komen bila ada kekurangan atau kekeliruan dari cerita ini. Nanti akan langsung saya perbaiki:)) see you.


__ADS_2