Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 32


__ADS_3

...Tidak ada namanya obat penawar bagi orang-orang yang merasakan sakitnya kehilangan kecuali mengikhlaskan. ...


"Kenapa?! Marah!" Wanita itu semakin menjadi-jadi memancing emosi Rafka."Aku istri kamu, orang yang seharusnya kamu prioritaskan. Tapi kamu lebih sibuk  mencari-cari keberadaan j*lang sialan itu, yang mungkin sudah mati!"


Rafka diam seribu bahasa dengan tubuh yang membeku.


Tak terasa air mata merembes membasahi kedua pipi Azkiya. Wanita tersebut mengusap kasar cairan bening yang membuat Ia terlihat sangat menyedihkan.


"Sekarang terserah kamu, kalau kamu masih menganggap aku penting, berhenti mencari Salsa! Berhenti mencari keberadaan perempuan itu dan rumah tangga kita akan kembali harmonis dan hangat seperti dulu," ucap Azkiya serak.


Rafka menggeleng lirih."Dia juga penting untuk ku."


Wanita itu mengigit bibir bawahnya kuat, menahan rasa sakit yang menghantam dadanya. Ia benci dengan keadaan rumah tangganya sekarang, apalagi penyebabnya karna orang ketiga.


"Ternyata benar, mau sebesar apapun cinta seorang laki-laki pada istrinya tidak akan menjamin laki-laki itu akan setia! Dan itu ada apa diri kamu, mas!" sarkas Azkiya menatap nyalang Rafka.


Pria itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Azkiya yang menatap suaminya dengan napas yang menggebu-gebu.


"Ini bukan tentang setia atau tidak, Azkiya. Tapi aku sulit mengendalikan perasaan ku pada Salsa. Dan aku akui, aku mencintainya,"


Plak!


Azkiya menampar Rafka dengan sangat keras hingga menciptakan suara yang sangat keras.

__ADS_1


"Gila kamu, Mas! Kamu kira aku sudi di madu dan tinggal satu atap dengan perempuan itu, hah?!" Azkiya melotot tajam dan kembali berucap,"Kamu terlalu mementingkan perasaan mu serta egois dan tidak memperdulikan bagaimana perasaan orang lain!"


Azkiya mendorong kasar dada kokoh Rafka hingga pria itu mundur beberapa langkah. Wanita itu melengos pergi dari hadapan  suaminya.


Rumah tangga yang di bangun selama tiga tahun dalam kehangatan dan keharmonisan, kini hancur dalam sekejap. Bukan karna mereka berdua tidak saling mencintai, tapi hadirnya orang ketiga. Tetapi dalam perihal ini Salsa tidak sepenuhnya salah, nyatanya Ia korban yang paling di rugikan.


Rafka meremas rambutnya frustasi. Sementara Azkiya kembali keluar dari kamar dengan rasa sakit yang bergejolak dalam benaknya.




Sementara di tempat lain, Adan dan Ayu terlihat mondar-mandir dengan perasaan yang sangat cemas dan khawatir. Mereka berdua menatap pedih pada ruang persalinan di mana Salsa berada sekarang.


"Semoga Salsa dan bayinya baik-baik saja..." lirih Ayu penuh harap. Air mata terus mengucur dari pelupuk mata gadis itu.


Ceklek


Suara pintu terbuka membuat perhatian dan atensi keduanya teralihkan.


"Dokter, bagaimana dengan kondisi adik saya dan bayinya?" tanya Adan mendesak ketika dokter Arya keluar dari ruang persalinan.


Dokter Arya menghela napas berat."Sebelumnya saya ingin bertanya, apa anda sudah tahu bila pasien sedang mengandung bayi kembar?"

__ADS_1


"Kembar?" ulang Adan dan Ayu bersamaan dengan mimik wajah yang terkejut.


"Pasien sedang mengandung bayi kembar. Sebenarnya pasien atas nama Salsa bisa saja melahirkan secara normal, hanya saja salah  satu bayi sangat lemah dan kami harus bertindak cepat dengan melakukan operasi caesar. Jadi saya meminta anda yang merupakan keluarga dari pasien yang bersangkutan harus mendatangi surat persetujuan. Karna kami tidak menjamin bayi yang lahir akan selamat apalagi kondisi kandungan pasien sangat lemah," papar dokter Arya serinci mungkin.


Kedua lutut Adan langsung gemetar dan lemah. Wajah pria itu langsung memucat. Bagaimana bila dua bayi itu tidak selamat, apa yang harus Ia katakan pada Salsa nantinya.


"Seharusnya selama kehamilan pasien harus rutin mencek kandungannya. Dan sekarang baru ketahuan kondisi bayi dalam kandungan sangat lemah," sambung dokter Arya kembali berucap. Dan tak habis pikir dengan kedua orang yang mengaku saudara pasien yang Ia tangani sekarang.


"Maaf Dok, tapi kami bertempat tinggal di kampung yang sangat jauh dari perkotaan, jadi sangat sulit__"


"Tapi setidaknya kalian memiliki inisiatif, karna ini menyangkut tiga nyawa sekaligus," tekan dokter Arya memotong ucapan Ayu yang langsung diam membisu.


Sedangkan di rumah yang sangat senyap dan sepi, Rafka meringis kesakitan memegangi perutnya yang tiba-tiba sangat sakit sekali. Keringat dingin membasahi sekujur badan pria itu.


"Ini, di minum dulu teh hangatnya, Tuan." ucap pelayan wanita yang menyerahkan segelas teh hangat pada Rafka. Setidaknya sakit perut pada majikannya itu sedikit berkurang.


Dengan tangan gemetar pria itu menyambut teh yang diberikan pelayan tersebut. Entah apa yang terjadi pada dirinya sampai Ia harus merasakan sakit di perut yang luar biasa. Sedangkan Azkiya entah pergi ke mana lagi.


Sekelebat bayangan Salsa muncul dalam pikiran Rafka.


_________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2