Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 34


__ADS_3

Rafka segera turun dari mobil sedan hitam miliknya ketika sudah sampai di tujuan. Ia mendongak menatap hotel bintang lima yang menjulang tinggi, penginapan yang cukup terkenal di kota ini. Arjo sudah berdiri di lobby hotel. Pria yang mengenakan pakaian formal tersebut melangkah menghampiri Rafka.


"Di mana Salsa?" Rafka langsung menodong dengan pertanyaan, pandangan matanya bergerak liar. Seolah mencari keberadaan wanitanya.


Arjo meneguk ludahnya kasar dan berusaha menampilkan raut wajah  tenangnya. Yang sempat terlihat tegang dan gugup.


"Mari saya antar, Tuan. Nona ada di dalam kamar hotel ini," balas Arjo.


"Bagaimana kau bisa menemukan Salsa?" tanya Rafka penasaran seraya melangkahkan kakinya sejajar dengan asistennya.


Meskipun begitu, pancaran kebahagiaan tidak bisa di sembunyikan dari raut wajah Rafka.


Arjo menoleh sekilas dan tersenyum tipis."Tuan akan tahu sendiri."


Arjo menghentikan langkahnya di depan pintu kamar hotel dengan nomor 252.


"Silahkan masuk Tuan. Nona ada di dalam," ucap Arjo yang bernapas lega karna pintu tidak tertutup rapat.


Dengan senyuman lebar di bibir tipisnya, Rafka langsung mendorong pintu tersebut. Baru satu langkah kakinya masuk ke dalam senyuman pria itu langsung luntur dan tergantikan dengan ekpresi wajah yang terlihat sangat terkejut dan shock.


Terlihat sepasang kekasih dengan nyamannya saling berpelukan tanpa mengenakan sehelai benang pun menutupi tubuh keduanya yang polos. Aroma cairan percintaan langsung menusuk ke indra penciuman Rafka yang merasakan nyeri  dalam dadanya.


"Azkiya...!!" Teriakan Rafka yang menggelegar dan bergetar membuat sepasang kekasih tersebut langsung terbangun dari tidurnya setelah kelelahan melakukan aktivitas bertukar keringat dan menguras tenaga.


Sementara Arjo memilih menjauh. Ia tidak ingin kembali ikut campur dengan masalah rumah tangga antara Rafka dan Azkiya.


Rafka melangkah lebar dengan amarah dan cemburu yang berkobar. Ia langsung menarik selimut yang menutupi tubuh polos keduanya. Mata Rafka semakin menajam dan memerah ketika menelisik tubuh polos Azkiya yang begitu banyak tanda kissmark.


Sedangkan Azkiya memalingkan wajahnya, menghindari bersitatap dengan suaminya dan terlihat wanita itu tampak pasrah. Toh, tidak perlu lagi Ia menutup-nutupi hubungan terlarang ini.


Pelupuk mata Rafka membanjir ketika harus melihat pemandangan yang sangat menyakitkan.


"Apa kamu ingin balas dendam?" tanya Rafka menatap nanar Azkiya.


Azkiya hanya diam. Ia kembali menutupi tubuh telanjangnya  dengan selimut tanpa ada raut penyesalan atau merasa bersalah sama sekali di wajahnya.


"Dan kau," Rafka beralih menatap Fano yang terlihat sangat bersalah."Kenapa harus istri ku? Kenapa? Aku kira kau sahabat yang baik, ternyata tidak!" sarkas Rafka dengan napas menggebu-gebu.


Bugh!


Tanpa aba-aba Rafka langsung menghajar Fano membabi buta. Arjo yang mendengar suara keributan tidak jauh dari kamar itu langsung berlari masuk ke dalam dan menarik Rafka yang terlihat belum puas menghajar Fano yang sudah jatuh ke lantai. Cairan kental merah keluar dari mulut Fano yang terbatuk-batuk.


"Bawa Tuan mu itu pergi dari sini!" perintah Azkiya dengan suara yang meninggi pada Arjo. Wanita itu segera memberikan tissue pada Fano, menghapus sisa cairan kental merah yang merembes ke dagu pria itu.


Sedangkan Rafka semakin memanas melihatnya.

__ADS_1


"Sangat menjijikkan," desis Rafka.


"Iya, dan kita tidak jauh berbeda. Jadi tidak usah terlalu menghakimi aku ataupun Fano," balas Azkiya menatap sinis.


Rafka mengepalkan kedua tangannya dan  rahang yang mengeras.


Arjo menarik paksa Rafka keluar dari ruangan tersebut. Sebelum terjadi keributan yang semakin besar dan bisa saja atasannya tersebut menghilangkan nyawa seseorang.


"Lepaskan aku! Aku belum puas menghajarnya!" ucapnya dengan murka. Arjo tak menghiraukan ucapan Rafka, Ia terus menarik tubuh pria itu menjauh dari sana.


"Jangan bertindak gegabah, Tuan. Sebaiknya anda tenangkan diri ada terlebih dahulu. Jangan sampai karna emosi anda berakhir di penjara."


"Tenang? Bagaimana bisa aku tenang setelah melihat istri ku baru saja bergulat di ranjang dengan sahabat ku sendiri!"


Arjo diam dan langsung tertunduk. Ia menghela napas berat.


"Dan kau menipu ku, kau mengatakan sudah menemukan Salsa tapi ternyata tidak."


Arjo mengangkat kepalanya kembali menatap Rafka."Jika saya tidak menggunakan nama nona Salsa, anda mungkin tidak akan percaya. Saya sudah mengadukan perihal perselingkuhan nona Azkiya dengan Fano, tapi anda selalu mengelak akan hal itu."


Rafka memejamkan matanya dan meremas rambutnya frustasi. Ia sudah kehilangan Salsa di tambah melihat istrinya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Kenapa Ia harus mendapatkan ini semua.


Arjo memejamkan matanya dan sedikit kaget ketika Rafka langsung meninju tembok dan meningggalkan luka lecet di tangan atasannya tersebut.




"Salsa..." Suara Adan membuat wanita itu menatap pada pria yang berdiri di samping brankar.


"Akhirnya kau sadar," ucap Adan menatap haru dan mengusap kepala Salsa lembut."Kau tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter."


"Di mana bayi-bayiku?" tanya Salsa serak dan hampir tidak terdengar.


Adan yang hendak beranjak, langsung mengurungkan niatnya. Wanita itu menatap lekat kakak sepupunya, menunggu jawaban dari Adan.


"Dia baik-baik saja. Lihatlah di samping mu."


Salsa menoleh ke samping, di mana bayi laki-laki terbaring di dalam kotak inkubator.  Bayi itu tampak nyenyak dalam tidurnya. Bibir Salsa berkedut, namun sedetik kemudian keningnya mengernyit.


"Di mana bayi ku yang satunya lagi?" tanya Salsa kembali menatap Adan.


Wajah pria itu langsung menegang kaku.


"Apa yang kau maksud, Sal? Kau hanya melahirkan satu bayi," balas Adan di sertai kekehan menutupi kebohongannya.

__ADS_1


Karena tidak mungkin Ia mengatakan yang sebenarnya, sedangkan kondisi Salsa belum pulih sepenuhnya. Ia hanya takut Salsa shock bahkan depresi bila mendengar kenyataan yang mungkin sangat menyakitkan.


"Tapi seingat ku, aku melahirkan dua bayi." gumam Salsa yang tidak yakin dengan jawaban Adan.


Adan sudah gelagapan dibuatnya.


Oeekk...


Tangisan bayi kecil itu membuat segala pemikiran dalam kepala Salsa langsung buyar.


Adan langsung mendekati kotak inkubator.


"Sepertinya dia kehausan, Sal."


"Bawa dia kemari." Salsa menatap berbinar pada putranya.




Rafka berjalan gontai dan lesu masuk ke dalam rumah. Wajah pria itu terlihat sangat menyedihkan dengan penampilan yang kacau.


Hancur, kata yang cocok menggambarkan perasaan pria itu saat ini.


"Rafka..."


Panggilan seseorang membuat Rafka menoleh. Ia menatap sayu pada Elsa yang entah sejak kapan sudah berada di rumahnya.


"Kamu dari mana saja, Nak? Bunda dan Ayah sudah lama menunggu mu. Dan di mana Azkiya?" tanya Elsa menatap ke arah pintu luar.


Pandangan mata Rafka semakin meredup. Hatinya semakin nyeri mendengar nama wanita itu.


"Bunda ke sini ingin membicarakan sesuatu."


"Bicara apa?"


Elsa menghela napas berat."Tadi malam Arjo menelpon Bunda dan mengatakan semuanya. Termasuk kamu yang kembali menikah, apa benar? Bunda hanya takut informasi yang Arjo berikan keliru."


Rafka memejamkan matanya sejenak. Sejak kapan asistennya tersebut suka ikut campur dengan permasalahan rumah tangganya.


___________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir


Maaf ya baru update 🙏 karna ada sedikit kesibukan.

__ADS_1


See you di part selanjutnya:))


__ADS_2