Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 31


__ADS_3

Rafka duduk termenung di sisi ranjang dengan handuk yang melilit dipinggangnya, membiarkan tetesan air dari rambutnya yang basah berjatuhan. Entah sudah berapa kali pria itu menghela napas, seolah mengurangi rasa sesak di dada yang begitu menyiksa.


"Mas..."


Rafka menoleh ke arah Azkiya yang memanggilnya. Wanita itu menutupi tubuh telanjang bagian atas suaminya dengan selimut.


"Kebiasaan, seharusnya setelah mandi langsung berpakaian," nasehat Azkiya perhatian. Rafka hanya menanggapi dengan senyuman tipis.


"Sebaiknya Mas tidak usah masuk kantor untuk beberapa hari ini. Aku tidak mau Mas sampai sakit apalagi sekarang Mas seperti orang frustasi hanya masalah pekerjaan."


"Tidak, Sayang. Aku hanya kelelahan. Mungkin besok sudah kembali segar."


Tapi saat ini yang lelah bukan hanya pikirannya tapi juga perasaannya. Ia benar-benar dibuat gundah gulana hanya karna seorang Salsa, wanita bermata bulat dan bertubuh mungil. Yang kecantikannya standar tapi berhasil membuat Ia seperti ini.


"Mas!" sentak Azkiya membuat Rafka langsung memudarkan senyumannya kala membayangkan istri sirinya itu.


"Kamu kenapa senyum-senyum seperti itu?" tanya Azkiya dengan kening mengernyit.


"Tidak apa-apa." Rafka langsung bangkit dari sisi ranjang dan melangkah ke arah lemari pakaian.


Azkiya menatap gerak-gerik suaminya yang terlihat berbeda. Di tambah Rafka selalu melamun beberapa hari ini.


*


*


Setelah makan malam selesai, Rafka memilih segera masuk ke dalam kamar. Setidaknya dengan tidur lebih cepat membuat perasaannya sedikit tenang. Bohong, bila Ia tidak memikirkan Salsa. Ia seperti ini karna wanita itu.


"Mau langsung tidur, Mas?" tanya Azkiya pada Rafka yang hendak membaringkan badannya ke kasur.


"Iya, Sayang," jawab Rafka singkat, setelahnya membaringkan badannya ke kasur empuk itu.


Baru beberapa menit memejamkan matanya dan rasa kantuk yang mulai menyerang, Azkiya menyentuh pundaknya membuat Ia yang tidur dengan posisi memunggungi sang istri membalikkan badannya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Rafka serak dengan mata yang sayu karna mengantuk.


"Mas, kita sudah seminggu tidak melakukannya," ucap Azkiya dengan suara yang mendayu-dayu. Menggoda sang suami dan meraba-raba bagian dada Rafka dengan sensual.


Pandangan mata Rafka menelisik pakaian Azkiya yang transparan dan memperlihatkan lekuk tubuh indah istrinya tersebut dari balik lingerie merah maron itu. Azkiya tampak tersenyum manis, dan tidak lupa menggunakan parfum serta berdandan secantik mungkin.


"Maaf, Sayang. Aku benar-benar lelah, lain waktu saja kita melakukan nya, ya," tolak Rafka selembut mungkin, dan mencoba membujuk Azkiya untuk mengerti keadaannya sekarang. Saat ini perasaannya benar-benar tak karuan dengan mood yang buruk.

__ADS_1


Senyuman Azkiya langsung luntur dan berganti dengan wajah yang terlihat masam.


"Biasanya kamu tidak pernah menolak, Mas." Wajah Azkiya memberengut tak suka dengan penolakan Rafka.


Pria itu bangun dari pembaringannya, dan kini duduk berhadapan dengan sang istri.


"Aku tidak pernah menolak apapun yang kamu inginkan, termasuk untuk berhubungan, Azkiya. Tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa," ucap Rafka menatap sendu Azkiya tanpa ada percikan gairah ataupun berhasrat pada wanita yang berstatus istri sahnya itu.


Mata Azkiya memanas. Wanita itu menepis kasar kedua tangan Rafka yang menyentuh pundaknya. Ia turun dari ranjang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Brak!


Suara bantingan pintu yang sangat keras membuat Rafka terperanjat kaget. Ia menatap sendu pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


"Kenapa aku jadi seperti ini..." lirih Rafka mengusap wajahnya frustasi. Ia benar-benar tidak tahu kenapa dirinya seperti ini.


"Jangan sampai hubungan ku dengan Azkiya hancur hanya karna Salsa," monolog Rafka menggelengkan kepalanya, mencoba menghalau sesuatu yang ada dalam benaknya.




"Kamu tunggu di bawah pohon ini saja, Sal. Kamu sedang hamil jadi jangan banyak beraktivitas," ucap Ayu memperingatkan. Sebenarnya Ia sudah meminta Salsa untuk tetap di rumah, tapi wanita itu menolak dengan alasan bosan terus berada di rumah. Sudah terhitung satu minggu Salsa tinggal bersamanya.


"Mbak Ayu tidak usah khawatir. Kandungan ku tetap baik-baik saja, apalagi hanya membantu memanen terong dan cabai," balas Salsa tersenyum, menyakinkan Ayu." Ayo kita panen, Mbak."


Salsa lebih dulu melangkah masuk ke dalam perkebunan itu dan mulai memetik cabai. Ayu memandang Salsa dengan pandangan yang sulit terbaca.


Sesekali kedua wanita itu bersenda gurau. Meski perkenalan mereka berdua baru satu minggu, namun keduanya sudah sangat akrab. Sinar matahari yang cukup terik membuat peluh membasahi wajah keduanya. Sesekali Salsa mengusap  wajahnya yang tampak memerah.


"Kau kenapa?" tanya Ayu dengan perasaan khawatir ketika melihat Salsa meringis kesakitan sambil mencengkram bagian perutnya.


"A-aku tidak apa-apa, Mbak. Ini sudah biasa, nanti sembuh sendiri," jawab Salsa menetralkan ekpresi kesakitannya agar Ayu tidak terlalu khawatir.


"Sudah biasa? Berarti kau sering merasakan sakit perut seperti ini? Iya?"


Salsa mengangguk pelan.


"Astaga, Salsa. Sudah kau cek ke rumah sakit? Aku takut terjadi apa-apa dengan kandungan mu itu." Ayu mengusap lembut perut Salsa dari balik kaos biru yang wanita itu kenakan.


Salsa menggeleng." Belum, Mbak."

__ADS_1


"Kalau begitu, bulan depan kau minta Adan membawa mu ke rumah sakit di kota. Bila memeriksa puskesmas di sini alatnya tidak terlalu lengkap."


"Tidak usah, Mbak. Aku tidak mau," tolak Salsa. Ia hanya takut bila harus bertemu kembali dengan Rafka. Pria itu akan dengan mudah menemukannya bila Ia berada di pusat kota.


Ayu menghela napas kasar." Sekarang kau istirahat saja di bawah pohon, tidak usah membantu ku." Ia mengambil keranjang yang Salsa pegang sekarang."Kau harus ingat, kandungan mu lebih penting."


Salsa mengangguk. Ia mengusap perutnya. Senyuman terbit di bibir pucat wanita itu, apalagi perutnya sudah mulai membuncit.




Delapan bulan berlalu...


Semenjak Salsa pergi meninggalkannya, Rafka selalu uring-uringan dan tampak tak bergairah menjalani hari-harinya. Dan beberapa minggu ini hubungannya dengan Azkiya mulai merenggang. Tiada hari tanpa adu mulut dan bertengkar.


Dan kedua orangtuanya belum mengetahui tentang dirinya yang sudah menikah siri. Termasuk masalah dalam rumah tangganya dengan Azkiya yang selalu cekcok.


"Darimana saja kamu, Azkiya?" tanya Rafka yang  duduk bersandar di bahu ranjang dengan laptop di pangkuannya. Pria itu menatap tajam istrinya tersebut.


"Menurut kamu?" Azkiya balik bertanya. Wanita itu melepaskan jaket jeans yang membalut tubuhnya yang mengenakan tanktop.


"Sudah aku katakan agar kamu tidak pulang larut malam! Beberapa minggu ini kamu mulai berubah!" sentak Rafka.


Azkiya tersenyum kecut." Berubah? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Mas! Dan Aku juga seperti ini karna kamu. Kamu kira aku tidak tahu, kalau kamu masih mencari-cari Salsa! Perempuan murahan yang mungkin suka rela di gilir__"


"Azkiya!" bentak Rafka. Rahang pria itu mengeras dengan kedua tangan yang terkepal.


"Kenapa?! Marah!" Wanita itu semakin menjadi-jadi memancing emosi Rafka."Aku istri kamu, orang yang seharusnya kamu prioritaskan. Tapi kamu lebih sibuk mencari-cari keberadaan j*lang sialan itu, yang mungkin sudah mati!"


Rafka diam seribu bahasa dengan tubuh yang membeku.


Tak terasa air mata merembes membasahi kedua pipi Azkiya. Wanita tersebut mengusap kasar cairan bening yang membuat Ia terlihat sangat menyedihkan.


___________


Hei girl. Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like, vote dan komen agar cerita ini semakin mudah ditemukan pembaca lain.


See you di part selanjutnya:)

__ADS_1


__ADS_2