Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 22


__ADS_3

...Jika dia jodoh mu, dia akan mencari mu sampai seluruh penjuru dunia. Karna cinta sejati tidak akan berpaling ke lain hati hanya karna sebuah jarak. ...


Senyuman mengembang di bibir Salsa menatap uang 10 juta yang sudah Ia cairkan dari ATM milik Rafka. Setidaknya Ia memiliki pegangan uang untuk saat ini. Pandangan mata wanita itu mengarah pada restoran yang tidak jauh dari tempat Ia mengambil uang dari mesin ATM.


"Pasti kau juga lapar," gumam Salsa mengusap perut datarnya. Ia tidak pernah menyesal janin ini tumbuh di rahimnya tapi Ia sangat menyesal harus melakukan hubungan terlarang itu tanpa ada ikatan pernikahan dengan Rafka.


Dengan langkah kaki yang sangat semangat wanita itu berjalan menuju ke restoran yang menyajikan makanan khas lokal Indonesia, kali ini Ia akan memesan makanan yang Ia inginkan sesuka hatinya. Kedatangan Salsa sudah di sambut ramah oleh pelayan restoran tersebut.


"Selamat datang di restoran kami. Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya seorang pelayan pria yang menampilkan wajah ramahnya.


"Aku ingin pesan makanan di sini," jawab Salsa seraya mengedarkan pandangan matanya ke sekitar restoran tersebut.


"Baik, Nona. Mohon ikuti saya."


Salsa membuntuti pelayan tersebut yang membawanya ke meja kosong. Mata wanita itu menatap liar pada restoran tersebut. Begitu banyak pengunjung di restoran ini.


"Menu apa yang ingin anda pesan, Nona?" Pelayan pria itu kembali bertanya setelah Salsa mendudukkan dirinya di kursi.


Wanita itu membuka buku menu yang tersedia di sana dan menunjuk tiga menu makanan dalam buku tersebut.


"Baiklah, mohon di tunggu sebentar, Nona." Salsa mengangguk.


Wanita itu menyandarkan tubuhnya di bahu kursi bersamaan dengan helaan napas panjang. Saat ini otaknya berpikir keras, memikirkan untuk pergi sejauh mungkin dari Rafka.


"Sepertinya kembali ke Bogor bukan ide yang bagus," gumam Salsa. Karna Ia yakin Rafka akan sangat mudah menemukannya di sana.


Salsa mengigit bibir bawahnya kelu dengan kebingungan yang membuat Ia gundah. Tidak mungkin Ia tetap berada di Jakarta.




"Salsa!" panggil Rafka seraya menutup pintu. Pandangan mata pria itu bergerak liar mencari sosok Salsa. Dengan menenteng plastik kresek hitam yang berisi rujak buah yang sengaja Ia beli, pria itu mencek setiap ruangan yang ada di dalam unit apartemen miliknya.

__ADS_1


Jantung Rafka berdegup tak karuan ketika tidak menemukan wanita itu. Raut wajah yang awalnya tampak berbinar kini langsung berubah merah padam dengan emosi yang bergejolak.


"Ke mana dia? Salsa!" Teriakan Rafka semakin nyaring. Pria itu melangkahkan kakinya menuju ke kamar yang di tempati wanita itu karna hanya ruangan itu yang belum Ia periksa.


Brak!


Rafka mendorong kasar pintu kamar tersebut dan yang Ia dapati hanya kamar yang kosong. Napas Rafka memberat dengan kedua tangan yang terkepal. Ia melangkah masuk ke dalam kamar dan membuka lemari dan seperti dugaannya, semua pakaian wanita itu tidak ada di dalam sana.


"Jadi kau benar-benar ingin kabur dari ku dan membawa anak ku..." desis Rafka yang tampak murka.


Rafka kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan aura yang sangat menyeramkan dan itu tampak jelas dari raut wajahnya.


"Sebelum kau pergi jauh dari ku, aku lebih dulu menemukan mu. Takkan ku lepaskan kau Salsa!" Rafka menutup kasar pintu unit apartemennya dan bergegas menuju ke lobby.


Sementara di depan lobby apartemen, Arjo tengah menunggu Rafka, atasannya. Menatap ke sekitar apartemen yang tampak beberapa orang  keluar masuk dari bangunan bertingkat itu.


"Arjo!" Suara keras Rafka membuat pria yang mengenakan kemeja putih dan jas hitam itu menoleh.


"Kau cari keberadaan Salsa sekarang. Lacak dia dan bila perlu kau kerahkan beberapa anak buah untuk menemukannya. Aku ingin hari ini dia sudah kau temukan!" perintah Rafka tegas dengan rahang yang mengeras.


Arjo mengkerutkan keningnya mendengar itu." Apa nona Salsa melarikan diri, Tuan?"


Rafka mendengus." Laksanakan saja tugas yang ku perintahkan tanpa banyak bertanya!" ketus Rafka.


"Baik, Tuan." Arjo langsung tertunduk mendengar balasan ketus Rafka.


"Sekarang antarkan aku ke rumah. Dan ingat..." Rafka menunjuk Arjo." Hari ini Salsa harus kau temukan, paling lambat malam ini!"


Arjo hanya bisa mengangguk patuh. Rafka segera masuk ke dalam mobil, andai bukan karna Azkiya yang terus menelponnya tidak mungkin Ia akan pulang ke rumah. Karna tentunya Ia akan mencari Salsa yang membawa kabur benihnya yang sekarang wanita itu kandung.


Di dalam mobil Rafka hanya bisa termenung sambil memijit pangkal hidungnya dan pikiran yang tidak lepas dari Salsa. Tangan kirinya terkepal kuat seolah menyalurkan emosi, khawatir dan takut dalam waktu bersamaan. Pria itu terkesiap ketika hujan turun sangat deras membasahi jalanan yang menimbulkan bau basah aspal.


"Ke mana di melarikan diri..." Pria itu menatap langit yang tertutup awan hitam pekat dengan semburat kekhawatiran. Bahkan yang Ia rasakan sekarang adalah takut terjadi apa-apa dengan wanita itu.

__ADS_1


Sesekali Arjo melirik Rafka yang termenung dengan tampang frustasi. Sepertinya atasannya sangat memikirkan nona muda. Senyuman tersungging di bibir Arjo, namun sarat akan makna yang tersirat.


"Mas, kenapa kau baru saja pulang? Dari tadi aku menunggu mu." Azkiya langsung menghadiahi beberapa pertanyaan pada Rafka yang tampak malas menanggapinya.


Sementara Arjo sudah meninggalkan area rumah Rafka untuk segera mencari Salsa.


"Maaf, Sayang. Ada banyak pekerjaan," balas Rafka seraya melepaskan dasi yang melingkar di lehernya.


"Sini, biar aku bantu Mas," ucap Azkiya hendak melepaskan kancing kemeja suaminya.


Rafka langsung menepis pelan tangan Azkiya."Aku bisa sendiri." Setelah mengucapkan itu, Rafka melenggang pergi dari hadapan Azkiya yang berdecak.


"Ini pasti karna perempuan murahan itu," gumam Azkiya.




Salsa menyandarkan kepalanya di jendela kaca bus. Setelah dari restoran Ia langsung menuju ke terminal bus. Ia takut Rafka mencari keberadaannya. Dan wanita itu memilih kota Bandung sebagai tempat pelariannya yang Ia yakini Rafka tidak akan bisa menemukannya.


"Semoga kau baik-baik saja di dalam sini. Tidak apa-apa bila ayah tidak bersama kita. Karna itu lebih baik daripada aku harus menjadi penghancur rumah tangga perempuan lain..." lirih Salsa meneguk ludahnya kasar dengan pelupuk mata yang membanjir.


Salsa membekap mulutnya, meredam isak tangisnya. Ia benar-benar berat meninggalkan pria itu, bohong bila Ia tidak meletakkan harapan pada ayah dari calon anaknya. Beruntung di dalam bus ini tidak terlalu banyak penumpangnya.


Bus berwarna putih itu melaju dengan kecepatan normal di jalan tol yang akan mengantarkan mereka ke kota kembang itu. Salsa tampak tertidur begitu nyenyak dan memeluk erat tas ranselnya. Perjalanan dari Jakarta dan Bandung membutuhkan waktu 2,5-3, 5 jam bila tidak mengalami kemacetan.


_______________


Hai girl! Terima kasih sudah mampir.


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.


See you di part selanjutnya:)

__ADS_1


__ADS_2