Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 41


__ADS_3

...Jika kau mengira akan diperlakukan bak ratu dan akan dijadikan wanita satu-satunya oleh kekasih mu, kau keliru. Nyatanya mencari laki-laki yang benar-benar tulus seperti mencari jarum dalam jerami. Apalagi laki-laki yang sangat mudah mengatakan cinta....


"Aku mohon Fano jangan tinggalkan aku hiks..." Azkiya menyatukan kedua tangannya, memohon."Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, aku sangat mencintaimu."


Azkiya menangis sesegukan dihadapan Fano.


"Maaf, hubungan kita cukup sampai sini." Fano menghapus air mata Azkiya yang mungkin terakhir kalinya."Kau bisa tidur di apartemen ku sementara waktu, aku akan tidur di rumah orangtua ku," ucap Fano.


Azkiya menggeleng.


"Fano! Fano...!!" Azkiya berteriak histeris disertai tangisan kala Fano meninggalkan dirinya di apartemen yang kini dipenuhi suara tangisannya.


Tubuh Azkiya langsung meluruh ke lantai dengan sorot mata yang sangat terluka. Ia memeluk dirinya sendiri dengan air mata yang semakin mengucur deras.


"Andai aku tidak mandul dan bisa hamil, pasti Fano tidak meninggalkan ku..."


"Kenapa Tuhan sangat jahat dengan ku? Memberikan takdir yang sangat buruk, kenapa?"


Suara tangisan sudah tak terdengar lagi dari bibir Azkiya yang merasakan titik di mana kesedihan itu sudah sangat berat baginya. Tubuh wanita itu bergetar dengan wajah memucat.


Sementara Fano yang belum jauh dari apartemen itu, menyandarkan tubuhnya di tembok. Ia menghela napas panjang dan mengusap kasar wajahnya.


"Maafkan aku..." gumam Fano lirih merasa bersalah sudah mempermainkan wanita itu.




"Kita akan ke mana?" tanya Salsa ketika Rafka memintanya mengenakan gaun yang tidak bisa dikatakan sederhana.


Rafka tersenyum." Saya ingin memberikan mu kejutan."

__ADS_1


Kening Salsa berkerut, bingung. Rafka meraih tangan sang istri dan menggenggamnya.


"Ayo ikut saya..." Rafka menarik lembut tangan Salsa, menggiringnya keluar dari kamar.


Salsa tertegun ketika suasana dalam rumah mewah itu terlihat sangat sepi. Biasanya akan terlihat beberapa pelayan sedang bebersih.


Kening Salsa semakin berkerut kala Rafka membawanya menuju ke taman belakang rumah dengan raut wajah penuh tanya.


"Salsa!" Teriakan wanita paruh baya membuat wanita itu menoleh.


Air mata seketika membanjir di pelupuk mata Salsa. Wanita itu segera melangkah ke arah Asiah.


"Ibu hiks..." Salsa menangis histeris ketika berpelukan dengan wanita paruh baya itu.


"Ibu, maafkan aku..." ucap Salsa sesegukan tanpa melepaskan pelukannya.


Kedua wanita itu menangis dalam kerinduan yang beberapa bulan begitu menyiksa. Elsa yang menyaksikan pemandangan itu tidak bisa menahan air matanya. Adan dan Ayu yang turut hadir tampak terharu melihatnya.


Rafka tersenyum melihatnya. Setidaknya ini menjadi penebus atas kesalahan yang Ia lakukan.


"Kenapa aku ikut menangis," gerutu Arjo yang mengusap kasar air matanya yang tiba-tiba merembes.


"Tenangkan diri mu, Nak," ucap Seno mengusap-ngusap punggung belakang Salsa yang terlihat sesak napas.


"Maafkan aku, seharusnya aku mengatakan semua yang menimpa ku," ucap Salsa dengan napas tercekat.


"Lupakan saja masalah itu, Sal. Semuanya sudah terjadi. Rafka dan kedua orangtuanya sudah menceritakan semuanya," balas Asiah.


Salsa langsung menoleh ke arah Rafka yang tersenyum tipis padanya. Salsa tampak meringis ketika menyadari bagian wajah suaminya yang memar.


"Bapak memukul dia?" tanya Salsa. Karna Ia tahu betul bagaimana sikap Seno. Pria paruh baya itu tidak mudah memaafkan seseorang yang sudah membuat putrinya seperti ini.

__ADS_1


"Iya, dia pantas mendapatkan itu. Seharusnya sejak awal dia datang kepada kami dan mengakui semuanya. Tapi dia baru mengakui semuanya setelah kamu harus menelan menderitaan yang entah sesakit apa. Sungguh, hati Bapak sakit mendengarnya."


Salsa memeluk Seno yang membalas pelukannya.


*


*


Kini, semua orang sudah berkumpul di taman yang sudah di hias sedemikian rupa hingga meja dan kursi di tata serapi mungkin.


"Sedang ada acara apa?"


Dua pelayan yang tengah mengintip di balik pohon melihat pertemuan dua keluarga Rafka dan Salsa, terlihat sangat terkejut ketika mendapati Azkiya sudah berada dibelakang mereka.


"Ah, Nona Azkiya..."


"Mereka sedang apa?" Azkiya kembali bertanya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Rafka yang tengah berbincang dengan pria paruh baya.


"Bila tidak salah, keluarga nona Salsa dipanggil ke rumah ini untuk membahas tentang pernikahan nona Salsa dan tuan Rafka."


Pupil mata Azkiya membulat. Kenapa secepat ini? Perceraian mereka berdua belum di sahkan pengadilan tapi Rafka sudah merencanakan pernikahan. Yang tentunya mempublikasikan Salsa istri sahnya sekarang pada semua orang.


Sementara dua pelayan tersebut sudah pergi meninggalkan Azkiya yang termenung dengan segala pemikirannya.


Ia datang ke sini berniat mengharap belas kasihan Rafka dan kedua mertuanya. Saat ini Ia sudah tidak memiliki apa-apa termasuk uang.


Entah memang urat malunya sudah putus. Azkiya melangkah mendekat pada orang-orang yang ada di sana dan tujuannya adalah Rafka.


___________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2