Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 30


__ADS_3

"Aku pergi dulu, jaga diri mu baik-baik." Adan mengusap pucuk kepala Salsa sebelum beranjak pergi meninggalkan adik sepupunya tersebut dengan waktu yang cukup lama.


"Mas..." Salsa menahan pergelangan tangan  Adan."Bagaimana dengan ayah dan ibu? Aku takut mereka curiga bila aku tidak ada kabar sama sekali," ucap Salsa dengan raut wajah yang terlihat gelisah dan cemas.


Adan tersenyum."kau tenang saja, biar itu menjadi urusan ku. Kau hanya fokus pada kandungan mu."


Salsa mengangguk dengan rasa sesak yang melanda. Ia tidak pernah menyangka takdir hidupnya akan serumit dan semenyedihkan ini.


Wanita itu menatap nanar kepergian Adan yang mulai menghilang dari pandangan matanya. Sebelum matahari terbit sempurna, Adan lebih dulu meninggalkan kampung itu. Air mata jatuh bebas membasahi pipi Salsa.


"Ayo kita masuk ke dalam, Salsa," ajak Ayu menyentuh pundak wanita muda itu."Kamu jangan sedih ataupun khawatir, semuanya akan baik-baik saja," ucap Ayu, seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Salsa.


"Maaf ya Mbak, aku sedikit cengeng." Salsa mengusap kasar air matanya.


Wanita yang jauh lebih tua lima tahun dari Salsa itu tersenyum."Tidak apa-apa. Wajar bila kau bersedih seperti ini, apalagi kau harus diasingkan ke tempat ini."


Salsa menundukkan kepalanya seraya mengusap perut datarnya.


"Apa kau lapar?" tanya Ayu.


Dengan ragu-ragu Salsa mengangguk.


"Baiklah, aku siapkan dulu makanan untuk mu. Tapi maaf bila menu makanan pagi ini nasi jagung dan urap sayur. Aku belum belanja ke pasar."


"Tidak apa-apa, Mbak."


"Kau tunggu di sini, aku akan kembali membawa makanan untuk mu." Salsa mengangguk patuh.


Ayu beranjak dari hadapan Salsa. Wanita muda itu menelisik ke setiap sudut rumah yang benar-benar sederhana. Kedua kaki jenjangnya melangkah ke pintu keluar. Sorot mata Salsa mengarah pada beberapa warga yang berlalu lalang. Sepertinya mata pencaharian di kampung ini sebagai petani, bathin Salsa.


"Salsa..."


Wanita itu tampak terkejut ketika Ayu menyentuh pundaknya. Ia menoleh menatap ke arah Ayu.


"Ayo makan dulu, aku sudah menyiapkannya."

__ADS_1


"Iya, Mbak."


Salsa duduk bersila di lantai, menghadap ke hidangan sederhana yang Ayu buat. Ayu mengambil piring dan memasukkan nasi jagung serta urat sayur yang sudah Ia hangatkan ke dalam piring plastik.


"Makanlah."


Salsa mengambil piring plastik yang sudah di isi makanan oleh Ayu. Ia memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya. Jujur, ini pertama kali untuknya memakan nasi jagung.


"Bagaimana? Apa kau menyukainya?" tanya Ayu sambil menatap mimik wajah Salsa yang tiba-tiba berubah.


"Aku..." Sebelum menyelesaikan ucapannya Salsa membekap mulutnya, tiba-tiba saja perutnya bergejolak dan mual.


Wanita itu segera bangkit dan berjalan ke arah jendela. Ia langsung memuntahkan makanan dalam mulutnya. Ayu tampak panik dan khawatir. Yang bisa gadis itu lakukan mengusap tengkuk Salsa yang begitu banyak memuntahkan isi dalam perutnya hingga cairan bening yang wanita itu muntahkan.


"Salsa!" pekik Ayu kala tubuh Salsa ambruk dan beruntung Ayu menahan tubuh wanita itu sebelum jatuh menghantam lantai.


"Salsa, kau kenapa?! Salsa..." Ayu menepuk-nepuk pipi wanita itu yang setengah sadar dan tidak merespon ucapannya.


Jantung Ayu berdebar-debar tak karuan, Ia takut terjadi apa-apa dengan Salsa. Di tambah wanita ini sedang mengandung. Dengan susah payah Ayu memapah Salsa ke dalam kamar miliknya. Ia membaringkan  wanita itu di kasur lantai. Dada Ayu berdenyut nyeri melihat wajah pucat pasi Salsa.


"Malang sekali kau, Salsa..." lirih Ayu. Gadis itu memilih meninggalkan Salsa di kamar, Ia akan membeli obat di warung yang sekiranya membuat demam wanita itu turun. Karna suhu tubuh Salsa cukup panas.




"Saya tidak berbohong, Tuan. Nona Salsa tidak tinggal di kontrakan ini. Dan saya sudah menanyakannya langsung dengan pemilik kontrakan," balas Arjo yang langsung menundukkan kepalanya. Ia tidak berani terus  menatap Rafka yang memberikan tatapan menusuk padanya.


Hampir dua jam pria itu menunggu Salsa di depan gang.


Rafka meremas buket bunga mawar yang Ia pegang. Hatinya langsung memanas dan kecewa. Berani-beraninya Salsa kembali meninggalkan dirinya setelah membuat Ia melayang bahagia dan membuat harapannya semakin besar untuk membangun rumah tangga dengan wanita itu. Rafka memejamkan matanya rapat-rapat merasakan perih dalam dadanya. Ia tidak pernah merasakan sesakit ini.


"Seharusnya aku seret paksa perempuan itu agar ikut dengan ku ke Jakarta..." desis Rafka penuh kemarahan yang mendalam."Dia ingin bermain-main dengan ku."


Arjo hanya diam dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


Bugh.


"Sialan kau, Salsa!" umpat Rafka seraya menendang ban mobil dengan sangat keras. Meluapkan emosi yang menggebu-gebu dalam benaknya.


"Tu-tuan?"


"Diam, bodoh!" umpat Rafka penuh emosi pada Arjo yang langsung terkena semprot.


Arjo langsung meneguk ludahnya kasar.


*


*


Brak!


Rafka membanting pintu mobil sangat keras. Dengan langkah lebar pria itu masuk ke dalam rumah seraya melepaskan dasi yang melingkar di lehernya, rahang pria itu mengetat dengan mata yang memerah.


Beberapa pelayan yang melihat tingkah majikannya tersebut memandang penuh tanya. Karna bagi mereka Rafka bukan tipe orang yang memperlihatkan amarahnya pada orang lain. Pria itu akan terlihat tenang walaupun masalah besar yang sedang Ia hadapi. Tapi kondisinya saat ini berbeda


"Mas, kamu kenapa?" tanya Azkiya ketika mendapati Rafka sudah duduk di sofa ruang tamu dengan penampilan yang tampak kacau.


"Siapkan aku air hangat, aku ingin berendam..." pinta Rafka dengan suara rendah.


Azkiya tak mengindahkan permintaan suaminya. Ia berjalan mendekat dan duduk di samping Rafka.


"Kamu kenapa Mas? Apa ada masalah di perusahaan?" tanya Azkiya lembut seraya mengusap pelan pipi Rafka.


"Tidak, aku hanya kelelahan," jawab Rafka menepis pelan tangan Azkiya. Terlihat jelas pria itu sangat tidak berminat membalas pertanyaan sang istri.


Sementara Azkiya tampak ragu dengan jawaban suaminya. Tatapan wanita itu bergulir seolah menerka-nerka masalah apa yang membuat Rafka seperti orang frustasi.


_________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like, vote dan komen.


See you di part berikutnya:)


__ADS_2