Hate His Touch

Hate His Touch
Mawar Merah


__ADS_3

Seorang gadis kecil berjalan pelan ke arah mawar yang menghiasi taman rumahnya. Tanpa menggunakan perlindung tangan dia memetik mawar merah itu. Darah yang muncul dari jari-jari kecilnya akibat tertusuk duri mulai menetes, namun gadis kecil itu


nampak tidak merasakan apa pun. Tidak ada air mata atau ringisan kesakitan. Dia hanya menatap kosong ke arah mawar yang dia petik.


"Anabella, kau memetik mawar lagi?" ucap sebuah suara yang membuat gadis itu menoleh sedikit ke arah asal suara itu.


Ya, dia Anabella Curtina Evelyn atau biasa di panggil dengan Ana. Gadis mungil yang memiliki bola mata dan rambut yang sepekat langit di malam hari dan memiliki kulit yang putih pucat selayaknya salju. Tak lupa bibir mungilnya berwarna merah yang menambah


nilai kecantikkan yang dia miliki. Dia adalah putri tunggal dari pasangan Lucas Evelyn dan Mikaila Evelyn. Mikaila menghampiri putri tunggalnya yang hari ini berusia 8 tahun. Mikaila membawa putrinya masuk ke dalam rumah dan meraih mawar yang dipegang Ana. Dengan lembut Mikaila mengobati jari


kecil Ana.

__ADS_1


"Mom sudah bilang, jangan memetik bunga mawar sendiri. Mengapa kau masih memetiknya? Lihat jarimu terluka. Anak perempuan harus menjaga tubuhnya dengah baik. Tidak boleh ada bekas luka sedikit pun.


Berjanjilah kau tidak akan mengulangi ini lagi," ucap Mikaila.


Ana memiringkan kepalanya sambil menatap kosong ke arah ibunya. Ibunya menyodorkan kelingkingnya ke arah Ana. Ana mengaitkan kelingkingnya di kelingking ibunya. Mikala mengecup pipi tembam Ana dengan lembut. Dia memeluk Mikaila dengan erat


menyalurkan rasa sayangnya kepada putri tunggalnya. Ana hanya diam beradadipelukkan ibunya.


Ana berbeda dari gadis yang seumuran dengannya. Dia gadis yang pendiam dan sulit bergaul. Kesehariannya dia hanya menghabiskan waktunya dengan mengurung diri di kamar atau memetik mawar di taman belakang rumahnya. Ana hanya berbicara kepada mommy, daddy dan kepala maid-nya.


di rumah dengan kepala maid sebagai guru Ana. Bagi kedua orang tuanya, kenyamanan Ana lebih diutamakan.

__ADS_1


"Aku pulang!" ucap seseorang pria tampan yang datang dengan bungkusan besar bergambar mawar di tangannya.


Ana dan Mikaila menatap pria itu yang menampakkan senyum lebarnya. Pria itu meraih Ana dalam gendongannya dah memutar-mutar tubuh kecil Ana. Ana mengalungkan lengannya pada leher sang pria dengan erat.


"Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga kamu menjadi anak yang berguna bagi negara dan agamamu. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu," ucap pria itu sambil mengecup bibir Ana dengan lembut.


Senyum kecil terukir di bibir Ana untuk pria yang dia sebut daddy. Lucas meraih bungkusan besar yang tadi sempat dia taruh di sofa sebelum mengangkat Ana. Dia memberikan bungkusan itu ke Ana. Lucas duduk sambil memangku Ana yang menganmati gambar mawar dibungkusah besar yang dia terima. Daddy-nya mengecup mommy-nya yang datang dari dapur sambil


membawa cake ulang tahun Ana. Jangan tanya mengapa mereka tidak merayakan ulang tahun putri tunggalnya dengan meriah. Mereka bisa saja menyewa hotel bintang lima untuk putri kesayangan mereka, namun Ana pasti tidak akan menyukai rencana mereka.


"Bukalah, Princess," ucap sang ayah sambil mengecup pipi tembem Ana

__ADS_1


"Tiup lilin dulu," ucap mommy-nya.


Ana menatap cake bergambar mawar buatan mommy-nya. Dia memejamkan matanya untuk mengucapkan permohonannya dalam hati. Permohonannya hanya satu dan selalu dia ulang seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia hanya ingin keluarganya tetap utuh dan bahagia. Perlahan dia meniup lilin itu dan suara tepuk tangan menggema di ruangan itu.


__ADS_2