
"Menyingkir dari sana," ucap Ana dingin.
Semua menatap kaget ke arah Ana yang baru kali ini menampakkan emosinya. Hanya Clara yang tidak terkejut. Dia malah menatap Ana dengan tajam. Dengan cepat Ana berjalan ke arah Clara dan menarik rambut Clara dengan kasar. Dia melempar Clara ke lantai.
"ANABELLA!"
Ana menatap daddy-nya yang baru saja membentaknya. Ana menatap tajam ke arah daddy-nya yang membiarkan wanita ****** itu menduduki tempat mommy-nya.
"Pernahkah tuan Evelyn yang terhormat ini ingat janjinya setelah istrinya meninggal? Pernahkah anda ingat kepada mendiang istri anda? Semudah itukah anda membuang istri anda? Semudah itukah anda membuang" Tamparan Lucas menghentikan ucapan Ana.
Ana terpaku saat mendapat tamparan yang menyakiti hatinya. Lucas menatap nanar ke arah putri kesayangannya yang tersungkur di lantai. Dia menyadari suhu tubuh Ana yang sangat panas. Dengan cepat Lucas mendekati Ana.
"JANGAN MENDEKATI SAYA LAGI TUAN EVELYN YANG TERHORMAT. Saya harap Doa saya di ulang tahun saya hari ini dan tahun-tahun sebelumnya setelah mommy dan adik saya meninggal terkabul. Semoga tuhan cepat mencabut nyawa saya," ucap Ana.
Ana menatap tajam ke arah daddy-nya yang nampak menyesal dengan apa yang dia perbuat. Demi tuhan Lucas merasa sangat bodoh karna melupakan hari ulang tahuh anaknya yang ke 16. Dengan tertatih Ana
bangun dan berjalan melewati Lucas yang menangis dalam diam. Ana mengunci pintu kamarnya. Dia tidak membiarkan ketua maid masuk. Dia tidak berniat menghiraukah panggilan ketua maid.
***
Ana membuka mata dan menatap sekelilingnya. Ada ketua maid yang duduk disebelahnya. Ketua maid nampak menangis menatap Ana yang terbaring lemah. Ketua maid bisa merasakan kalau Ana sudah benar benar putus asa. Dia benar-benar perihatih
dengan keadaan Ana. Ana menatap pintu kamarya yang rusak. Ana tahu ketua maid yang menyuruh pengawal mendobrak paksa pintu kamarnya.
"Betulkan pintu kamarku," ucap Ana lirih.
"Akan segera dikerjakan, namun kami mohon jangan mengurung diri saat anda sakit," ucap ketua maid.
Seorang maid membawakan cake ulang tahun untuk Ana. Ana hanya diam menatap kosong ke arah kue itu. Dia bahkan tidak mengharapkan ada kue ulang tahun di hari kelahirannya.
"Tidak, jangan berikan aku itu lagi. Aku tidak akan meniup lilin atau semacamnya lagi. Aku tidak ingin apapun kecuali kematian," ucap Ana lirih.
Ketua maid dan para maid menangis melihat Ana yang nampak putus asa. Ketua maid menggenggam tangan Ana dengan erat. Ketua maid berusaha menyalurkan kekuatannya untuk Ana agar dia tetap tegar menghadapi semua.
"Bertahanlah nona, kami mohon. Anda masih memiliki kami," ucap ketua maid.
Ana hanya menatap kosong ke arah ketua maid.
__ADS_1
***
Clara semakin kejam kepada Ana. Dia mengancam akan membuat salah satu maidnya di pecat dan mati kalau dia tidak menuruti kemauan Clara.
"Makan itu," ucap Clara sambil menunjuk makanan yang berceceran di tanah.
Ana menatap kosong ke arah makanan itu. Perlahan dia duduk di tanah dan mengulurkan tangan ke arah makanan kotor itu.
"Langsung dengan mulutmu," ucap Clara saat Ana mau mengambil makanan itu dengan tangannya.
Perlahan Ana menunduk dan memakan makanan itu tanpa protes. Para maid tidak bisa melakukan apapun. Mereka hanya bisa menangis melihat Ana diperlakukan kejam. Clara nampak puas menatap Ana.
"Inilah yang pantas untukmu," ucap Clara dingin sambil menekan kepala Ana ke tanah dengan kakinya dan membuat wajah Ana mengenai makanan yang ada di tanah.
Ana menepis kaki Clara di kepalanya. Dia benci di sentuh. Apa lagi harus di sentuh oleh wanita rendahan seperti Clara. Ana bangkit dan berjalan menjauhi Clara.
Ana menangis di kamar mandi saat melihat dirinya yang begitu berantakkan.
"Mommy," lirih Ana.
"Jangan pernah masuk ke kamarku!" ucap Ana sambil menunjuk Clara. "ANABELLA!" bentak seseorang yang tiba-tiba muncul.
"Kalau kau berani memasuki kamarku, jangan harap kau akan tetap hidup. Aku akan membunuhmu kalau kau berani menginjakkan kaki dikamarku," ucap Ana
yang membuat Clara tiba-tiba bergidik.
Ana sempat menatap tajam ke arah daddy-nya. dia membanting pintu tepat di depan wajah daddy-nya saat daddy-nya mau menyusulnya masuk.
"Buka pintunya Anabella!" geram daddy-nya sambil menggedor pintu kamarnya.
Ana tidak memperdulikan panggilan Lucas. Baginya Lucas bukan lagi daddy-nya. Baginya Lucas hanya orang asing yang sudah tidak dia kenal lagi. Ana memukul dadanya dengan kesal. Dia benci merasa sakit karna melihat daddy-nya yang tidak lagi seperti dulu.
Ana terbangun dari tidurnya. Dia merasakan tubuhnya sangat sakit, karna semalaman dia tidur di lantai dekat dinding kaca. Ana menatap kosong ke arah teddy bear-nya. Boneka itu mengingatkannya kepada orang tuanya yang dulu sangat mencintai Ana. Daddy-nya yang dulu tidak pernah lagi ada. Daddy-nya sudah menganggap dirinya masa lalu. Ana merindukan mommy-nya.
"Mom jemput Ana," ucapnya lirih.
***
__ADS_1
Clara marah saat melihat maid yang tidak patuh dengan perintahnya. Clara melempar nampan berisikan makanan untuk Ana.
"Kau akan aku pecat karna membantah perintahku," ucap Clara.
Maid itu hanya diam menatap nanar ke arah makanan yang berserakan di lantai.
"Anda tidak bisa memecat dia, Nona. Tuan tidak akan berpihak kepada anda," ucap ketua maid dengan tenang.
Oh ya? Ketua maid kau lupa aku siapa?" ucap Clara angkuh.
"Saya tahu anda kekasih tuan besar, tapi anda masih masuk daftar orang lain di rumah ini. Biar bagaimanapun tuan besar akan lebih memilih membela anak kandungnya dari pada kekasihnya," ucap ketua maid tetap tenang.
Clara menghentakkan kakinya kesal. Ketua maid memilih meninggalkan Clara yang nampak kesal. Ketua maid menyuruh maid membawakan makanan yang baru untuk Ana.
***
"Nona....
"Antar aku ke mommy," ucap Ana dingin.
Ana merapihkan dress pendek berwarna putihnya. Ana berjalan menuju taman belakang dan memetik beberapa tangkai mawar dengan alat bantu. Kepala maid mempersilahkan Ana untuk masuk ke mobil
yang sudah disiapkan. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap mereka dengan sinis.
Ana membelai lembut nisan dihadapannya. Makam Mikaila nampak kurang terawat. Ana yakin daddy-nya sudah lama tidak datang ke sini untuk menjenguk wanita yang pernah dia cintai.
"Apa semudah itu dia melupakanmu, Mom?" ucap Ana lemah.
Ketua maid hanya bisa menatap sedih ke arah Ana. Dia berharap semua penderitaan yang Ana rasakan secepatnya menghilang. Dia mulai mencoba menimbang pemikirannya tentang seseorang yang mungkin bisa membantu Ana.
Ana pulang saat larut malam. Ana berjalan ke arah taman belakang. saat Ana melihat mawar-mawar yang tadinya tertanam rapih dan lebat hancur terbakar.
Ana berlari ke arah kobaran api, namun tertahan saat ketua maid memeluknya.
"Tidak.. MOMMY!!" Ana histeris saat melihat mawar yang dulu di tanam sendiri olehnya dan mommy-nya hancur terbakar.
Ana berusaha melepaskan diri dari pelukkan kepala maid. Ana terjatuh lemas saat menatap api semakin besar melahap mawar- mawarnya. Tubuhnya bergetar karna kebencian yang dia rasakan.
__ADS_1