
Aku tahu mommy bisa melihat kami dari surga. Aku memejamkan mata sambil menangis terisak. Tuan Robert membantuku untuk duduk di kursi. Dia memelukku dan berusaha menenangkanku. Aku tidak bisa lagi menolak sentuhannya. Aku hanya bisa menangis dipelukkannya.
***
Aku pulang dalam keadaan kacau. Aku mengacuhkan semua panggilan semua orang. Aku berjalan tertatih menuju kamarku. Sampai aku terjatuh saat mau menaiki tangga. Aku mencoba bangkit tapi aku sudah tidak sanggup lagi. Para maid berusaha membantuku. Aku menghempaskan tangan mereka dengan kasar. Aku kembali berusaha bangun tapi tidak bisa. Sampai ada seseorang yang menggendongku. Aku berusaha berontak dan memukul orang yang menggendongku. Dia menurunkanku di tempat tidurku. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku menangis tanpa memperdulikan Albert menatapku. Albert menarik tanganku dan memelukku erat. Aku berusaha mendorongnya menjauh, namun Albert memelukku dengan erat.
"Aku mohon ... lepaskan ... aku," ucapku melemah di sela tangisku.
Aku menangis di bahunya. Aku sudah tidak memiliki tenaga untuk mendorong Albert. Aku hanya bisa menangis memukul dadanya. Aku merasakan belaian lembut di punggungku yang menenangkanku. Aku meremas kemeja yang digunakan Albert.
"Aku lelah ... hiks ... aku lelah ... sakit ... ini terlalu sakit ... apa salahku ...
mengapa harus seperti ini," ucapku lirih sambil membenamkan wajahku di bahu Albert.
"Tenang aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi," ucap Albert lembut.
***
Albert masih memelukku saat tangisku sudah mereda. Sesekali dia mengecup puncak kepalaku dengan lembut. Perlahan aku melepas pelukkannya.
"Terima kasih," ucapku lirih sambil menunduk.
Perlahan Albert menangkup wajahku. Aku menatapnya yang menatapku lembut.
"Aku akan ada di sisimu selamanya. Aku tidak akan meninggalkanmu," ucapnya lembut.
Aku melihat kesungguhan dimatanya. Baru kali ini aku merasa nyaman ada didekatnya. Aku mengangguk pelan menatapnya. Perlahan dia melepas tangannya dari wajahku. Aku menggenggam tangan besarnya dengan erat berharap mendapatkan kekuatan dari tangan hangat itu.
"Bisakah kau menjadi kakakku? Bisakah kau tidak menakutiku lagi dengan sikapmu?" ucapku tanpa sadar.
Aku merasa memerlukannya sebagai sosok kakak yang selalu memelukku untuk menenangkanku. Mungkin dengan begitu aku akan merasa lebih nyaman dengannya. Albert menatapku sendu. Aku tahu dia ingin lebih, tapi aku tidak akan bisa menerimanya. Aku sudah mencintai orang lain.
"Bisakah kau belajar mencintaiku? Aku sudah mencintaimu selama 9 tahun. Aku sangat mencintaimu," ucapnya lembut membelai pipiku.
__ADS_1
"Kita tidak bisa, umur kita terlalu jauh dan-"
"Kita bisa, aku yakin kita bisa. Bahkan kedua orang tuamu yakin kalau kita bisa bersama. Tolong terima aku, aku menginginkanmu lebih dari nyawaku. Aku sangat mencintaimu," ucapnya.
Aku menunduk menghindari tatapannya. Perlahan Albert menggenggam tanganku.
"Mungkin kita bisa memulai menjadi kakak dan adik, namun setelah itu kita akan saling mencintai. Satu hal yang penting. Kau harus membuka hatimu dan mulai menerimaku," ucapnya lembut.
Albert mengecup keningku lembut. Dia menarikku dalam pelukkannya.
Aku menatap kosong ke arah laporan yang ada dimejaku. Ketua maid menyentuh bahuku dengan lembut.
"Mommy orang yang baik," ucapku lirih.
"Anda harus kuat. Saya yakin Nona bisa," ucap ketua maid.
Aku hanya diam. Suara ketukkan di pintu menyadarkanku. Aku melihat sekertarisku datang.
"Tolong suruh Tuan Brown menunggu," ucap ketua maid.
Sekertarisku menatapku untuk meminta izinku. Aku mengangguk menyetujui permintaan ketua maid. Sekertarisku keluar dari ruanganku.
"Mohon anda ikut saya ke ruangan pribadi anda," ucap ketua maid.
Aku mendesah lelah dan mulai bangkit menuju ruang pribadiku yang memang berada di dalam ruangan ini. Ruangan ini berfungsi untuk tempat istirahatku. Di sini ada sebuah ranjang dan lemari pakaian. Ruangan ini kedap suara. Aku yakin ketua maid ingin mengatakan sesuatu yang sangat rahasia hingga dia mengajakku masuk ke sini.
"Bisakah nona menjaga jarak dengan tuan Brown?" ucap ketua maid.
Aku mengerutkan keningku menatap ketua maid.
"Aku mencintainya," ucapku.
Ketua maid nampak terkejut dan menatapku tidak percaya.
__ADS_1
"Tidak, Nona ... anda tidak boleh."
"Biarkan aku bahagia. Dia yang bisa membuatku bahagia. Lagi pula aku tahu ini hanya akan sementara. Aku tidak akan bisa merasakan kebahagiaan ini lagi setelah menyelesaikan masalah Clara," ucapku geram.
Ketua maid menutup matanya untuk mengontrol emosinya.
"Setidaknya jangan beritahu apapun tentang informasi yang baru saja nona dapatkan. Saya mohon anda tetap menjaga informasi ini," ucap ketua maid.
Aku mengangguk menyetujui permintaannya. Aku sebenarnya bingung mengapa dia melakukan ini. Aku merasa ada yang dia sembunyikan. Ketua maid keluar meninggalkanku sendiri di ruangan ini. Aku duduk di sofa. Aku meneteskan air mata saat mengingat kenyataan kalau aku tidak akan lama lagi harus berpisah dengan Andrew. Aku memukul dadaku yang terasa sesak. Aku terlalu terbuai hingga melupakan semua rencanaku. Aku menutup mataku saat menyadari kesalahan terbesarku. Aku memberikan Andrew kesempatan memiliki hatiku. Aku tidak bisa bayangkan saat melihatnya yang kecewa saat aku harus pergi meninggalkannya. Aku terisak menangis menahan rasa sakit didadaku. Mengapa tuhan begitu tidak adil kepadaku? Mengapa aku harus hidup bila hanya luka yang menyakitkan untukku terima?
Aku tersenyum menatap Andrew yang memasuki ruanganku. Dia memelukku erat dan mengecup puncak kepalaku.
"Apa kau merindukanku beberapa hari ini?" ucapnya.
"Iya," ucapku sambil mendongak menatapnya.
Aku langsung di hadiahi sebuah senyum lembut yang menenangkanku. Matanya yang berwarna hijau semakin membuatku merasa nyaman dan aman. Aku memejamkan mata mengubur wajahku didadanya sambil menghirup aromanya. Aku mencoba mengingat dan menyimpan aroma dan wajah Andrew.
"Aku membawa sesuatu," ucapnya lembut.
Aku melepaskan pelukan kami dan menatapnya yang mengambil sesuatu dari kantung jasnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak putih dan menyerahkannya kepadaku. Aku membuka kotak itu dan menemukan sebuah gelang dengan bandul 2 huruf A. Aku tersenyum melihat itu. Andrew mengambil gelang itu dan memakaikannya dilenganku.
"Cantik sekali," ucapku menatap gelang yang terpasang dilenganku.
"Aku mencintaimu," ucapnya lembut.
Aku menatap Andrew yang menatapku. Perlahan dia membelai lembut pipiku. Aku menutup mata menikmati belaiannya. Perlahan dia mendekat dan mencium bibirku lembut. Aku membalas ciumannya dan mengalungkan tanganku ditengkuknya. Tuhan aku benar-benar tidak ingin kehilangannya. Aku ingin selalu bersamanya.
Aku ingin di sisinya hingga maut memisahkan kami. Kami tersentak kaget saat mendengar suara keras di pintu. Aku melihat Albert yang nampak mengerikan. Dia menatap tajam Ke arah kami berdua. Dengan cepat dia menerjang Andrew. Aku terpaku melihatnya memukul Andrew berkali - kali. Aku melihat Andrew yang sudah berdarah. Aku mencoba menghentikan Albert yang terus memukul Andrew. Albert mendorongku hingga aku terjatuh di lantai. Aku sempat merasakan sakit dikepalaku. Aku memegang kepalaku yang terasa berdenyut. Sebuah tarikan ditanganku membuatku terpaksa berdiri. Aku menatap Albert yang menyeretku pergi. Aku berusaha meronta saat melihat Andrew tidak sadarkan diri.
"Diam atau aku ledakkan kepala orang itu!" ucap Albert yang menoleh kearahku.
Aku merasa tubuhku bergetar ketakutan melihatnya yang nampak mengerikan. Albert terus menarikku keluar dari gedung. Semua karyawan nampak menatap kami dengan tatapan bertanya-tanya.
__ADS_1