Hate His Touch

Hate His Touch
Meninggalkannya


__ADS_3

Aku yakin mommy bahagia melihat adiknya yang kembali walau kembali dengan membawa kehancuran untuknya hingga menghilangkan nyawanya dan anak yang dia kandung.


"Semuakesalahan kakek dan nenekku telah terbayar dengan kematian mom dan adikku," ucapku lirih.


***


Clara yang mengetahui kenyataan pahit itu hanya bisa menangis histeris merasakan sakit yang mommy rasakan. Aku tersenyum tipis melihatnya yang menyesal akan perbuatannya. Dia menyesal menghancurkan hati kakaknya yang mencintainya. Kakaknya yang berusaha mencarinya tanpa melihat statusnya. Dia membunuh kakaknya yang pernah melindunginya dari ibu tirinya.


"Aku memaksamu tetap tinggal di sini. Aku tidak akan membiarkanmu mati untuk lari dari penyesalanmu. Apa yang kau perbuat tidak akan bisa di bayar dengan nyawa atau apapun. Itulah balasan kejahatanmu," ucapku dingin.


Clara menatapku dan langsung sujut didepanku yang sama sekali tidak bergeming di tempatku.


"Maafkan aku ... maafkan aku...."


"Selamanya kau tidak akan mendapatkan itu semua. Aku akan membiarkanmu sendiri di rumah ini bersama kenangan menyedihkan. Aku akan tinggal di rehabilitas seperti mau mu," ucapku melepaskan tangan Clara yang menggenggam tanganku.


Ketua maid nampak terkejut mendengar keputusanku. Aku berjalan mendekatinya yang mematung menatapku. Dia meneteskan air mata saat melihatku.


"Aku minta kau tetap di sini bersama dia. Awasi dia, itu tugas terakhir dariku. Perusahaan akan di tangani tuan Robert dan Albert. Mungkin aku tidak akan kembali selamanya," ucapku datar.


Aku berjalan pergi meninggalkan mereka. Aku menolak supir untuk mengantarku. Aku tidak ingin siapa pun lagi membantuku.


***


Aku datang ke rumah Albert. Aku melihat Albert nampak senang melihatku datang. Aku mengecup bibirnya lembut. Aku merasakan tubuhnya menegang menerima ciumanku.


"Miliki aku," ucapku lembut di telinganya.


Albert menatap mataku dengan tatapan takjub. Aku tersenyum untuk meyakinkannya. Perlahan Albert mulai mencium bibirku lembut dan menggendongku menuju kamarnya. Dia menurunkanku di ranjang. Aku menatapnya yang menatapku. Perlahan dia menempelkan kening kami.


"Aku seperti bermimpi indah. Aku benar-benar tidak menyangka mimpiku benar-benar terwujud. Tahukah kau betapa aku tersiksa menunggumu dan selalu berharap kau melihatku?" ucapnya.


Aku membelai lembut pipinya.


"Aku di sini sekarang, aku di sini untukmu ... lakukan apa yang selama ini menjadi mimpimu. Aku menginginkanmu, sangat menginginkanmu. Jadi lakukanlah," ucapku lembut.

__ADS_1


Albert dengan lembut membuka pakaianku dan pakaiannya. Dia menatapku takjub yang berbaring tanpa ada sehelai benang yang menutupi tubuhku. Aku mengulurkan tangan untuk menyambutnya. Perlahan dia mengecup bibirku dan kembali mengecup berkali-kali hingga kami memperdalam ciuman kami. Albert menuruni ciumannya menuju leherku. Aku membiarkannya memuaskan hasrat yang dia pendam selama ini kepadaku sebelum aku pergi. Rasa nikmat yang aku rasakan di setiap sentuhannya terasa berbeda dari sebelumnya. Kenikmatan ini terasa nyata saat ini. Ini mungkin karna aku melakukannya tanpa paksaan.


Aku meminta Albert tidak memakai pengaman. Kami bercinta tanpa henti. Entah mengapa aku merasa sangat tergila-gila dengan sentuhannya dan terus mendambanya tanpa henti. Albert menempelkan kening kami saat kami mendapat pelepaskan kami yang entah ke berapa kali. Dia tersenyum bahagia saat aku meleguh menyebut namanya saat dia mencabut miliknya dariku.


"Aku mencintaimu ... sangat mencintaimu...." Aku bisa merasakan hatiku terasa hangat mendengar kata-katanya.


Aku tersenyum saat merasakan kehangatan itu. Aku merasa bebanku sedikit terangkat. Aku membenamkan wajahku dilekungan lehernya untuk menghirup aromanya. Aroma yang akan aku ingat dan aku kenang.


***


Albert menjatuhkan gelas yang dia pegang saat aku memberitahunya tentang rencanaku.


"Apa?"


"Aku harus pergi, aku akan pergi rehabilitasi dan mungkin tidak akan kembali saat aku masih belum siap. Maafkan aku Albert," ucapku menyesal.


"Jadi tadi malam ... untuk perpisahaan? APA ITU MAKSUDMU?" ucap Albert marah.


Aku menunduk saat mendengar bentakkan Albert. Albert mencengkran kedua tanganku. Aku mendongak menatap matanya yang berkaca-kaca menatapku.


Aku meneteskan air mata melihatnya yang terluka. Aku membelai lembut pipinya. Aku melihatnya memejamkan mata untuk menikmati sentuhanku. Hatiku sakit melihatnya yang terluka karna aku. Aku menyadari ketulusannya. Aku menyadari cintanya kepadaku. Aku sangat beruntung mendapatkan semua itu darinya. Walau aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku kepadanya. Aku hanya merasa sangat terlindungi dan merasa bebanku berkurang saat merasakan kehangatan hatinya.


"Maafkan aku ... aku harus pergi ... tolong biarkan aku pergi ... aku harus


... aku butuh bantuan itu. Aku butuh memperbaiki diriku ... aku mohon," ucapku terisak.


"Aku yang akan membantumu. Kita menikah dan hidup bahagia bersama. Kita ubah kenangan kelam kita dengan hal yang lebih indah," ucap Albert berusaha meyakinkanku.


Aku masih menatapnya dengan tatapan memohon. Aku menunduk saat merasakan cengkraman Albert melemah. Dia menatapku dengan tatapan hancur. Aku merasa sakit saat melihatnya hancur. Aku tahu sehancur apa dia. Aku tahu sesakit apa dia.


"Pergilah," ucapnya lemah.


Aku merasa sesak di dadaku saat dia mengatakan itu kepadaku. Dia menunduk dan menangis dalam diam. Aku mencoba mendekat untuk meraihnya dalam pelukkanku, namun dia menjauh. Aku tahu dia akan semakin hancur saat aku menyentuhnya sedikit saja, tapi aku benar-benar ingin memeluknya untuk terakhir kalinya.


"Jangan sentuh aku hingga kau kembali. Kau harus kembali kepadaku. Aku akan menunggumu hingga kapan pun. Saat kau kembali atau aku menemukanmu.. aku akan menikahimu saat itu juga ... jadi kalau kau belum siap.. jangan biarkan dirimu ditemukan olehku," ucapnya tanpa menatapku.

__ADS_1


Aku tahu dia menangis dan berusaha kuat melepasku. Yang bisa aku lakukan adalah berusaha tegar dan tersenyum agar dia yakin kalau kita akan baik-baik saja dengan keputusanku. Aku tersenyum menatapnya yang berusaha menahan isak tangisnya.


"Ya ... aku akan lakukan itu," ucapku penuh janji.


Albert menatapku untuk terakhir kalinya. Aku melihat air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya. Aku berusaha tersenyum untuknya walau air mata sudah membasahi wajahku.


"Terima kasih mau menungguku," ucapku tulus.


Perlahan aku berbalik pergi meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun. Aku tidak boleh menoleh, karna aku akan membuat pertahananku dan dia hancur. Aku membekap mulutku untuk menahan isak tangisku. Aku harus kuat, karna ini keputusanku.






Halo readers!


Jangan lupa Mampir juga di Novel terbaru ku...


Judul : ( My sweet baby sitter ) dan tinggal kan jejak ya!


komen boleh!


like boleh!


vote lebih boleh lagi!


Plis jgn lupa klik favorit ya


thank you :-)


__ADS_1


__ADS_2