
"Daddy tidak suka sikapmu yang seperti ini. Mommy dan daddy tidak pernah mengajarkanmu menjadi seperti ini," ucap daddy-nya geram melihat tingkah Ana.
"Daddy," panggil mommy-nya.
"Daddy tahu aku memang tidak pernah suka keramaian dan orang asing di rumah kita," ucap Ana pelan namun mnenusuk.
Suaranya terdengar lirih dan dingin namun mampu membuat kedua orang tuanya terdiam. Ana bangkit dan mengecup pipi daddy-nya lembut. Dia beralih kemommy-nya dan mengecup mommy-nya.
"Selamat malam," ucap Ana pelan, namun bisa di dengar oleh mereka yang masih terpaku dengan kata-kata Ana.
Albert menyeringai menatap Ana yang mulai menjauh. Tatapannya tak pernah lepas dari punggung Ana. Hanya dia yang tidak terpengaruh dengan suara Ana. Baginya suara Ana bagaikan suara panggilan untuknya lebih berusaha mendapatkan Ana.
Ana menatap datar ke arah Albert yang tiba- tiba datang sambil membawa buku-buku pelajaran. Albert menaruh buku-buku itu di depan Ana.
"Hari ini aku yang akan menjadi gurumu. Mungkin ini akan selamanya," ucap Albert lembut.
Ana hanya diam menatap datar ke arah Albert. Dia mulai mengetuk ngetuk mejanya dengan kukunya.
__ADS_1
"Kemana kalungmu?" tanya Albert.
Ana masih diam tanpa niat menjawab pertanyaan Albert. Perlahan Albert mendekati Ana yang masih duduk ditempatnya. Ana mulai bangkit dari tempatnya saat Albert mulai mendekat. Ana berjalan menghampiri pintu kamarnya.
"Berhenti di sana, Sayang!" titah Albert.
Ana menoleh sedikit ke arah Albert yang nampak geram. Perlahan Albert tersenyum kepada Ana. Dengan langkah perlahan Albert berjalan mendekati Ana.
"Di mana kalung yang aku berikan?" ucap Albert
kalung pemberiannya. Albert menahan Ana yang mau beranjak pergi dan memaksanya duduk di sofa. Albert memakaikan kalung itu dengan lembut di leher Ana. Ana bisa merasakan napas Albert yang memburu di
lehernya. Setelah kalung itu terpasang, Albert membenamkan wajahnya dilekungan leher Ana. Albert menghirup aroma Ana dengan rakus. Ana berusaha mendorong Albert, tapi tangannya di tahan oleh Albert. Perlahan Albert mengecup leher Ana dan terakhir dia mengecup liontin mawar di kalung Ana.
"Jangan merusaknya lagi. Aku akan menghukummu kalau kau melepas atau buang kalung ini, Sayang," ucap Albert di depan bibir Ana.
Ana mendorong Albert hingga menjauh darinya. Albert tersenyum dan mengecup dahi Ana.
__ADS_1
"Sampai jumpa besok," ucap Albert sebelum pergi
Ketua maid masih diam menatap Albert yang baru saja keluar dari kamar Ana. Ketua maid masih setia bersembunyi di balik tembok sambil memperhatikan Albert.
"Aku tahu kau di sana," ucap Albert menatap tajam ke arah ketua maid.
Ketua maid nampak bergetar melihat seringai dingin Albert. Perlahan Albert turun dari tangga. Dia sengaja menunggu di dekat kamar Ana karna dia merasa tidak tenang dengan keputusan yang di buat tuannya untuk menyatukan Ana dengan Albert. Ketua maid berusaha menenangkan dirinya akibat ketakutannya kepada Albert. Dia memang sosok mengerikan yang sulit di tebak.
***
Ketua maid mengantarkan makanan ke kamar Ana. Ana menolak untuk ikut sarapan di meja makan bersama keluarganya. Dia tahu kalau Albert akan ada di sana.
"Nona," panggil ketua maid.
Ana bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi. Ketua maid sibuk menyiapkan alat makan Ana di meja. Tidak lama kemudian Ana keluar dan duduk tenang sambil memperhatikan susunya.
"Tuan besar tadi menanyakan anda. Saya bilang anda sedang kurang sehat," ucap ketua maid.
__ADS_1