
"Aku tidak akan sama dengan orang itu. Aku tidak akan melupakan mommy seperti dia," jawabku sambil tersenyum sinis.
Ketukkan pintu menyadarkan pengacara daddy yang nampak mematung melihatku. Aku melempar foto-foto di meja ke lantai dengan kasar.
"Nona kepala divisi keuangan sudah-"
"Laporkan mereka yang terlibat ke pihak berwajib. Buang foto - foto menjijikan itu dan taruh foto mommy di sana," ucapku tanpa melihat mereka.
Aku mengangkat wajahku saat mendengar suara benda terjatuh. Aku melihat kepala divisi keuangan nampak lemas mendengar keputusanku. Aku tahu dia terkejut mendengar keputusanku. Aku tidak akan mempertahankan benalu di perusahaan ini, karna aku tidak ingin menghancurkan perusahaan ini dengan mempertahankan mereka.
"Saring semua karyawan di sini. Aku tidak berminat membayar karyawan yang tidak memiliki kemampuan dan hanya bisa menggelapkan dana perusahaanku," ucapku kepada pengacara daddy yang nampak pucat.
Ketua maid nampak tenang melihatku. Jelas dia tidak terkejut melihat sikapku. Inilah aku yang sebenarnya dan hanya ketua maid yang tahu sikapku sejak kecil, karna hanya di depannya aku menunjukkan diriku yang sebenarnya.
Semakin hari aku semakin sibuk di kantor. Bahkan aku sampai tidak pulang selama beberapa hari untuk lembur. Aku berusaha mengubah image perusahaan hanya dalam waktu 1 minggu. Aku mengubah dari semua aspek pendukung di perusahaan ini. Dengan perubahan yang aku buat ternyata membuahkan hasil. Keuntungan yang kami terima jauh lebih besar dari pada sebelumnya.
Awalnya ini semua sangat berat karna aku yang masih belum bisa memegang perusahaan sebesar ini. Di tambah dengan protes yang dilayangkan pemegang saham di perusahaan ini yang memprotes kehadiranku sebagai pengganti daddy dan meminta Clara yang menggantikan posisi daddy. Entah apa yang ada difikiran mereka saat memintaku menyerahkan perusahaan ini ******* itu di banding kepadaku yang jelas adalah anak kandung daddy.
Selain itu aku merasa lebih mampu mengurus perusahaan ini di banding Clara yang hanya bisa menghamburkan uang. Aku terpaksa membuat perjanjian kepada orang idiot itu yang tidak mendukungku untuk membuktikan kalau aku bisa meningkatkan keuntungan perusahaan ini dalam waktu 2 minggu dengan jaminan aku akan menyerahkan semua kepada Clara kalau aku tidak bisa menambah keuntungan perusahaan ini, tapi aku akan meminta mereka menyerahkan saham mereka bila aku berhasil menaikkan keuntungan perusahaan.
Hasilnya sekarang mereka menyesal karna kehilangan saham diperusahaanku akibat kebodohan mereka yang meremehkanku. Aku juga menyeleksi dan tidak membiarkan pihak luar mendapatkan saham perusahaanku dengan mudah, karna aku tidak ingin orang sembarangan yang memiliki saham diperusahaanku. Aku benci saat menerima kenyataan kalau Albert tidak mengikuti para orang idiot itu untuk menolakku. Sebaliknya dia malah mendukungku dan membuatku tidak bisa mengusirnya dari perusahaan. Aku menatap kosong ke arah foto mommy yang terpajang di ruang kerjaku.
"Masuk," ucapku tanpa mengalihkan pandanganku ke arah mommy.
"Nona, tuan Francisco ingin bertemu dengan anda, " ucap sekertaris baruku.
"Tolak dan bila dia melawan panggil security," ucapku tegas.
"Siapa yang mau kau tolak?" ucap sebuah suara.
Aku menoleh ke arah Albert yang mulai berjalan kearahku.
"Panggil security," ucapku kepada sekertarisku.
"Aku masih salah satu pemegang saham di sini," ucap Albert membuat sekertarisku terdiam menatapku.
Aku memberinya kode untuk keluar dari ruanganku. Aku menatap Albert yang masih memasang senyum mengerikan untukku. Aku berjalan menjauhinya sebelum dia lebih dekat lagi denganku.
"Katakan apa maumu," ucapku dingin.
"Aku menginginkan calon istriku," jawabnya tenang.
__ADS_1
"Calon istri?" ucapku mengejek.
"Temui Clara dan jangan ganggu aku," ucapku kembali.
Albert nampak menaikan sebelah alisnya. Albert berjalan cepat kearahku. Aku mengangkat tanganku untuk menghentikannya.
"Kenapa?" tanyanya sambil meraih tanganku.
Aku memalingkan wajahku yang berjarak begitu dekat dengannya. Dia sengaja menundukkan kepalanya agar lebih dekat denganku.
"Kau cemburu? Kau tidak suka aku berdekatan dengan Clara?" ucapnya mengejek.
Aku menoleh dan menatapnya dingin.
"Tidak akan pernah, kalian berdua sama - sama menjijikkan. Aku tidak perduli dengan apa yang kalian lakukan. Aku hanya minta jangan ganggu aku," ucapku penuh penekanan.
"Aku suka melihatmu cemburu seperti ini. Kau nampak menggoda," ucapnya semakin mendekatiku.
Aku berusaha mendorongnya, namun Albert menahan tubuhku. Dia menarik tengkukku dan ******* bibirku dengan rakus. Aku berusaha memukul - mukul dadanya dengan keras.
"Aku ingin segera memilikimu. Aku ingin menyetubuhimu diranjangku. Aku ingin membuatmu meneriaki namaku saat aku memberimu klimaks," ucapnya di depan bibirku.
Tubuhku bergetar ketakutan mendengar kata-kata menjijikan itu. Albert menarikku ke sofa dan memaksaku duduk di pangkuannya. Albert membenamkan wajahnya di lekungan leherku. Dia menghirup aromaku dengan rakus.
Aku bisa merasakan senyumannya dileherku. Albert mengangkat wajahnya dan menatapku lembut.
"Kau banyak berubah, Princess. Kau semakin menawan dan aku beruntung akan menjadi suamimu," ucap Albert lembut.
Sekuat tenaga aku berusaha berontak dan berdiri menjauh darinya. Aku masih menatapnya tajam yang nampak menatapku lembut.
"Aku akan ada di sisimu mulai sekarang. Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi, my princess," ucapnya lembut.
Perlahan Albert berdiri dan berjalan meninggalkanku, namun sebelum benar-benar keluar Albert menoleh ke arahku.
"Pulanglah," ucap Albert lembut namun penuh ancaman.
Aku membuang mukaku tanpa niat menjawab ucapannya.
Aku turun dari mobilku. Rumah nampak sepi saat aku mulai memasuki pintu masuk.
"Anda ingin makan malam?" ucap ketua maid.
__ADS_1
Aku menatap jam di pergelangan tanganku. Sudah pukul 12 malam dan aku belum juga makan.
"Aku siapkan sendiri. Kau istirahatlah," ucapku.
"Tidak, Nona, saya akan menemani Nona makan malam. Saya akan siapkan makan malam anda," ucap ketua maid keras kepala.
Aku mendesah lelah. Mendengarnya yang keras kepala.
"Siapkan saja di taman belakang," ucapku meninggalkan ketua maid.
Aku berjalan cepat menuju kamarku untuk membersihkan diri. Aku menatap sekeliling kamarku yang nampak sama seperti sebelum aku tinggalkan.
Aku menatap kosong ke arah taman yang terlihat hampa tanpa mawar. Setetes air mata menetes saat mengingat mawar kesayangan mommy harus musnah karna pel*cur itu.
"Kami akan menanamkan mawar di sana besok," ucap ketua maid.
"Sudah tidak ada gunanya, mawar itu bukan mommy yang menanamnya. Tidak akan sama," ucapku lirih.
Seorang maid menuangkan air putih digelasku. Sekilas aku menatapnya dan terkejut melihat wajahnya yang lebam. Aku mencengkram tangan maid itu. Maid itu nampak gugup saat melihatku yang menatapnya tajam.
"Siapa yang lakukan ini kepadamu?" ucapku dingin.
Maid itu nampak takut. Dia nampak menunduk dan sesekali menatapku yang menunggu jawabannya.
"Jawab aku," ucapku lebih lembut.
Aku melihat maid itu mengangkat wajahnya dan menatapku sedih.
"No ... nona ... Cla ... Clara," ucapnya terisak.
"Obati maid ini dan jangan biarkan dia bekerja sampai lebamnya sembuh," ucapku tanpa menoleh kepada ketua maid.
Aku berjalan cepat menuju kamar Clara. Aku membuka kamarnya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Aku melihat Clara yang nampak sedang bercumbu dengan Albert. Tanpa mempedulikan Albert, aku menarik kasar rambut Clara. Aku menyeretnya hingga menyeret Clara ke taman belakang. Aku melemparnya dengan kasar dan membuat tubuh telanjangnya terjatuh di rumput. Dengan cepat aku menaikinya dan menamparnya berkali - kali dengan keras. Setelah puas aku bangkit dan menatapnya dengan tatapan membunuhku. Aku berusaha mengatur nafasku sambil menatapnya.
"Kalau kau masih berani melukai sedikit saja maid di rumah ini, jangan harap besok kau masih memiliki wajah cantikmu, MAID!" teriakku.
Dua orang maid datang menghampiriku.
"Obati dia dan lawan dia kalau dia menyakiti kalian," ucapku dingin.
Clara masih nampak gemetar ketakutan di bawah tatapanku. Aku memilih pergi meninggalkannya. Aku berjalan cepat menuju kamarku.
__ADS_1
"Hebat, aku kagum kepadamu princess. Kau menunjukkan taringmu yang sebenarnya, namun kau membuatku tidak terpuaskan, sayang. Kau harus bertanggung jawab," ucap Albert yang sedang berdiri di dekat pintu kamarku.
"Menjijikkan," ucapku dingin.