
"Ya, kami akan tunggu di ruang keluarga. Ayo, Clara," ucap Albert tenang.
"Aku berhak tahu," ucap Clara menolak ajakan Albert.
"Kita harus bicara," ucap Albert berhasil mengalihkan perhatian Clara.
Clara mengikuti mau Albert.
"Ini bukan tulisan daddy," buruku melempar surat wasiat yang pertama kali dibacakan pengacara.
"Saya tahu Nona curiga. Apa anda tidak curiga dengan kecelakaan yang tuan Evelyn alami? Saya tahu ini bukan tuan yang buat tapi Nona Clara. Saya mencurigai nona clara yang merencanakan pembunuhan tuan Evelyn, namun saya butuh waktu untuk mendapatkan buktinya. Dia terlalu licik dan pintar, Nona. Berhati-hatilah dan jangan sampai anda lengah," ucap pengacara itu menasehatiku.
"Lalu mengapa surat wasiat yang asli ini memberatkanku? Mengapa aku harus menikah dengan Albert? Dia sengkokol dengan Clara," ucapku kesal.
"Surat ini di buat dihadapan saya dan saya berani bersumpah kalau ini surat yang dituliskan oleh ayah anda sendiri tanpa ada paksaan dari siapapun. Mungkin tuan Evelyn lebih mempercayai tuan Francisco. Saya yakin Tuan Francisco tidak berniat buruk kepada anda," jawab pengacara daddy.
"Lalu bagaimana?" tanyaku.
"Sementara saya akan mengambil jalan tengahnya sampai kita mendapatkan bukti. Biarkan nona Clara tinggal di rumah ini sampai semuanya terbongkar," ucap pengacara daddy kepadaku.
"Apa aku bisa mengurus perusahaan mulai besok? Jabatan daddy harus terisi," ucapku.
"Iya, Nona. Besok saya dan ketua maid yang akan membantu anda. Saya harap anda bisa mulai menyesuaikan diri di keramaian," ucap pengacara daddy yang membuatku mengernyitkan dahi.
Aku tidak pernah tahu dia mengetahui tentangku. Pengacara daddy meminta izin untuk pergi. Aku hanya mengangguk sambil menatapnya kosong.
***
Ketua maid mengobati luka punggungku yang mulai membaik. Aku tidak tahu apa yang Albert berikan sampai lukaku cepat membaik.
"Anda yakin besok mau berangkat ke kantor?" tanya ketua maid.
Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan ketua maid. Ketua maid membantuku memakaikan dress tidurku.
"Nona harus makan malam," ucap ketua maid.
"Aku lelah ketua maid. jangan biarkan siapa pun masuk."
"Kecuali aku." Aku menatap Albert yang baru saja masuk kekamar ku.
Aku mencengkram tangan ketua maid yang mau beranjak pergi.
__ADS_1
"Kau harus turun untuk makan malam," ucap Albert sambil mendekatiku yang berada di tempat tidurku.
"Tidak," jawabku tegas.
"Kalau begitu kau tidak boleh pergi," ucapnya lembut.
"Kau tidak bisa menahan ku!" bentak ku.
"Pilih kau mau makan malam atau kau akan aku buat tidak bisa pergi besok. Aku bersumpah akan melakukan apapun untuk menahan mu termasuk memasuki mu, Sayang."
Aku mengeratkan pegangan ku kepada ketua maid. Albert mengatakannya dengan lembut namun tidak dengan matanya yang menatapku tajam.
"Pergi duluan, aku akan menyusul. Jangan menungguku di depan pintu," ucapku bergetar.
Albert tersenyum lembut kepadaku. Dia meraihku dan mengecup keningku.
"Aku akan menunggumu," ucapnya sebelum pergi.
Aku keluar dari kamarku dan tidak menemukan Albert di depan kamarku. Aku menghembuskan nafas lega dan langsung turun menuju meja makan. Aku terdiam saat melihat Albert dan Clara yang nampak sedang bercumbu di meja makan. Clara duduk di meja makan sambil membalas ciuman Albert. Albert membuka matanya dan menatapku sambil mencium Clara. Dia menatapku dengan intens. Entah apa maksudnya menatapku seperti itu. Aku berniat pergi saat tidak melihat niat mereka untuk menghentikan kelakuan mereka yang memalukan.
"Berhenti di sana," ucap Albert.
Aku menoleh ke arah mereka yang nampak terengah-engah.
"Kau cemburu?" ucap Albert.
Aku mendengar suara tawa Clara yang mengejekku. Aku benar-benar benci mereka berdua yang sangat menjijikan.
"Kau jangan harap bisa memiliki Albert. Setelah pengacara itu memutuskan aku pemegang seluruh harta ayahmu, aku akan segera memasukkan mu ke panti asuhan. Jangan bermimpi Nona Evelyn," ucap Clara mengejek.
"Aku tidak akan bermimpi dengan mata terbuka, Nona pel*cur."
Aku berjalan menjauh setelah mengatakan hal itu. Aku tidak mau mendengar jawaban Clara tentang perkataan ku. Aku meminta ketua maid membawa ku makanan. Rasanya aku ingin muntah bila berlama-lama berada di satu ruangan.
***
Keesokkannya aku melihat diriku di kaca sebelum pergi. Aku menggunakan rok span outfit biru tua dan dipadukan dengan kemeja putih. Aku sedikit merasa risih karna bajuku terlalu ketat dan menampilkan lekuk tubuhku. Di tambah dengan rambutku yang di kuncir kuda membuat leherku terlihat. Aku hanya bisa mendesah pasrah. Ketua maid tersenyum melihatku yang nampak merona karna tatapan kagumnya.
"Ayo," ucapku.
Ketua maid mempersilahkan ku keluar dari kamarku.
__ADS_1
"Anda sudah di tunggu di meja makan," ucap ketua maid.
"Bawakan saja makananku. Aku tidak mau melihat hal kotor lagi," ucapku sambil berjalan menuju pintu keluar.
Ketua maid memberi kode kepada maid yang mengikuti kami. Ketua maid masih terus mengikuti ku sambil membawa tasku. Maid yang di beri kode ketua maid muncul dengan kotak bekal. Ketua maid menerima kotak bekalnya dan kembali mengikuti ku. Aku tersentak saat ada yang menarikku. Aku melihat Albert nampak rapih dengan baju kerjanya. Aku menghentakkan tanganku, namun Albert menarikku dan ******* bibirku lembut. Aku memukul-mukul dadanya. Dia melepas ikat rambutku hingga rambut panjangku tergerai kembali. Dia melepas ciuman kami dan aku langsung menamparnya dengan keras.
"Br*ngsek! Kau menjijikkan!" ucapku marah.
Aku menghapus bibirku dengan kasar dan berjalan cepat menuju mobilku. Ketua maid membantuku membersihkan lipstik yang berantakkan. Dia kembali membenarkan dandanan ku namun tidak mengikat rambutku.
"Ikat rambut anda masih di tuan Albert," ucap ketua maid.
Aku berdecak kesal dan merapihkan rambutku yang tergerai.
"Itu yang kau sebut membantu?" ucapku geram.
Aku keluar dari mobil tanpa melepas sunglass ku. Semua karyawan memberiku hormat. Aku berjalan melewati mereka tanpa perduli dengan sekelilingku. Aku hanya ingin cepat keruangan ku. Rasanya aku sulit sekali bernafas berada di sekitar mereka. Para karyawan yang melihatku menuju lift langsung memberiku jalan. Lift sengaja dikosongkan untukku pakai.
"Anda baik-baik saja?" tanya ketua maid.
"Tidak," ucapku sambil menghela nafas lelah.
***
Aku mendengarkan semua penjelasan ketua maid dan pengacara daddy. Ketukan di pintu membuat kami menghentikan pembicaraan kami. Aku membaca laporan tanpa perduli siapa yang mengetuk pintu.
"Permisi nona Evelyn. Saya Rachel Emanuel, sekertaris Mr. Evelyn. Sekarang saya akan menjadi sekertaris anda," ucapnya.
Aku masih menatap laporan ku tanpa perduli dengannya yang menungguku menatapnya. Tanpa melihat pun aku tahu apa yang dia pakai sekarang dan apa yang dia pajang di depanku.
"Aku beri waktu 30 menit untuk membetulkan bajumu yang nampak seperti *******. Bila kau tidak bisa berpakaian dengan benar setelah 30 menit mu habis, segera serahkan surat pengunduran dirimu Ms. Emanuel," ucapku dingin tanpa menatapnya.
"Per ... per ... permisi, Nona," ucapnya terbata-bata.
Rachel nampak terburu-buru keluar dari ruanganku. Aku melempar laporan keuangan yang aku pegang.
"Ini nampak seperti prostitusi dari pada kantor. Ketua maid tolong panggilkan kepala devisi keuangan," ucapku kesal.
"Baik, Nona," jawab ketua maid.
"Tenanglah, Nona. Perjalananmu masih sangat panjang. Aku harap kau bisa melaluinya. Aku bangga melihat auramu yang lebih tegas dari Daddy mu dulu. Aku tidak menyangka kau bisa setegas ini," ucap pengacara daddy.
__ADS_1
Aku hanya diam menatap foto daddy dan Clara yang terpasang menggantikan foto keluarga yang dulu ayah pajang. Aku pernah melihat ruangan ini dalam foto saat daddy dulu di wawancara oleh majalah terkenal. Aku ingat foto yang dulu terpajang adalah foto daddy dan mommy yang menggendongku. Aku berjalan menuju foto itu dan menurunkan foto besar itu sendirian. Pengacara daddy mendekat untuk membantuku. Aku melempar kasar ke lantai foto itu.