
Perlahan aku mencoba membalas ciuman Andrew. Andrew mulai menarikku lebih mendekat dan memperdalam ciuman kami. Suara leguhan keluar dari bibirku di sela ciuman kami. Perlahan Andrew melepas ciumannya dan menempelkan kening kami. Dia menatapku tepat di manik mataku. Aku tersenyum lembut saat menatap matanya yang indah. Perlahan dia mengecup bibirku dan membawaku dalam pelukkannya. Dia selalu berhasil membuat jantungku berdebar. Dia selalu berhasil membuatku nyaman dalam sentuhannya. Dalam hati aku memohon kepada tuhan. Permohonan yang jarang terucap beberapa tahun ini. Aku hanya meminta hidupku di perpanjang dan Tuhan membiarkanku untuk hidup bersama Andrew.
***
Aku tersenyum malu sambil menunduk. Selama perjalanan Andrew tidak melepas tanganku dari genggamannya. Sesekali dia mengecup punggung tanganku hingga membuatku bersemu.
"Sudah sampai," ucapnya lembut.
Aku menatap sekelilingku. Tanpa aku sadari ternyata kami sudah sampai dirumahku.
"Maaf aku tidak bisa membawamu masuk," ucapku menyesal.
"Aku mengerti, Sayang," ucapnya lembut.
Aku masih menatap mata indahnya yang menatapku.
"Mimpikan aku," ucapnya.
Aku bersemu mendengar kata-katanya. Perlahan aku mendekat dan menarik bajunya. Aku mengecup bibirnya lembut.
"Kau juga ... night," ucapku buru-buru keluar dari mobilnya.
Aku tersenyum malu saat ingat apa yang aku lakukan tadi. Aku menoleh dan mendapati mobilnya masih di sana. Buru-buru aku langsung masuk ke rumah dan mendengar suara mobil yang berjalan pergi. Aku masih memasang senyumku saat menyentuh bibirku. Aku menggigit bibirku saat masih merasakan kelembutan bibirnya di bibirku.
"Kau pulang dengan siapa?" tanya seseorang dari kegelapan di ruang keluarga.
Aku sempat tersentak saat mendengar suara itu. Aku menoleh ke arah ruang keluarga. Lampu menyala secara mendadak dan memperlihatkan Albert yang sedang menatapku tajam dari tempatnya. Aku menunduk sambil memasang wajah datarku.
__ADS_1
"Jawab aku," ucapnya dingin.
"Bukan urusanmu," ucapku.
Aku memilih berlari pergi kekamarku sebelum dia menyusulku kekamarku. Dia nampak semakin menakutkan dan aku semakin tidak nyaman berada di dekatnya. Albert akan menjadi penghalang hubunganku dengan Andrew. Aku tahu seharusnya aku tidak menyukai Andrew karna tidak mungkin kami bersatu. Aku akan menyakitinya saat aku harus pergi meninggalkannya.
"Anda terlalu nekat, Nona," ucap ketua maid yang baru saja masuk kekamarku.
Aku menoleh dan menatapnya yang sudah berjalan mendekatiku.
"Bagaimana anda bisa memiliki keberanian untuk membawanya ke sini. Anda lupa seperti apa Tuan Albert bila mengetahui Andrew memiliki hati anda? Saya yakin dia tidak akan tinggal diam bila mengetahui itu semua. Mengapa anda tidak berusaha menerima tuan Albert di hati anda? Jangan keras kepala dan membuat semua menjadi lebih rumit nona. Anda dan saya tahu mustahil anda bisa bersama Andrew," ucap ketua maid menohokku.
Aku menatap ketua maid dengan pandangan terluka.
"Menerima Albert dalam kehidupanku? Aku lebih baik mati ketua maid. Aku takut dan tidak nyaman akan obsesi dan sikapnya kepadaku. Lihat betapa intimnya dia dengan Clara. Apa itu bisa di anggap sebagai prilaku pria yang tepat untukku? Aku bukan ******* atau wanita yang mengemis cinta. Aku tidak mau dan aku bukan itu semua. Albert pria jahat yang selalu mengatur hidupku tanpa mengetahui keinginanku. Dia memaksa dan menjeratku. Aku dan dia terlalu jauh dan sangat tidak cocok. Aku tidak nyaman memiliki hubungan dengan orang yang seharusnya layak menjadi pamanku. Hati seseorang tidak bisa di paksa. Apa tidak bisa sedikit saja aku merasa bahagia dengan pilihanku saat ini. Kau sangat tahu aku sangat lelah dan menderita selama ini. Apa sangat diharamkan untukku bahagia? Jawab aku ketua maid, apa aku tidak pantas bahagia? Hanya Andrew yang bisa membuatku bahagia. Hanya dia pria yang ada dihatiku. Aku hanya menginginkannya," ucapku dengan lirih.
Aku menatap ketua maid yang mendesah lemah. Dia memejamkan mata untuk meredam rasa emosinya. Aku tahu dia akan semakin membujukku untuk melupakan Andrew. Namun kali ini aku takkan bisa dia bujuk. Aku benar - benar menginginkan Andrew. Aku merasa benar dan pas pada tempatnya saat aku bersamanya. Aku bisa merasakan kebahagiaan yang sudah lama sekali tidak aku rasakan saat bersama Andrew.
"Kau sudah bangun? bagus karna aku lebih suka bermain denganmu saat kau terjaga," ucapnya. Aku berusaha berontak darinya. Aku menendang-nendang tubuhnya.
"Ini hukumannya saat kau melepas kalungmu dan mengacuhkanku," ucap Albert.
"Lepaskan aku," ucapku geram.
"Aku akan memilikimu," ucapnya tepat di depan bibirku.
"Aku mohon jangan lakukan ini," ucapku terisak.
__ADS_1
Tubuhku bergetar ketakutan saat menatapnya. Albert nampak terpaku menatapku yang terisak.
"Ka ... kalung itu ... tidak bisa lagi aku pakai ... itu ... bukan ukuranku lagi," ucapku di sela isak tangisku.
"Siapa orang yang mengantarmu?" ucap Albert dingin.
"Salah satu karyawan ... aku ... aku pulang terlalu larut ... aku menyuruh ketua maid pulang ... duluan ... karna dia ... butuh istirahat," ucapku di sela isak tangisku.
Albert menatapku yang ketakutan di bawahnya. Aku bisa merasakan dia menghela napas. Dengan lembut dia berusaha menangkup wajahku dan memaksaku untuk menatapnya.
"Oh, dear. Maafkan aku, Sayang. Aku meragukanmu. Aku akan mengganti kalungmu dengan yang baru. Kalau kau pulang larut telpon aku, aku akan menjemputmu. Jangan pulang larut malam karna itu sangat berbahaya. Kau tahu? Aku hampir gila saat kau mengacuhkanku dan melihatmu di antar dengan mobil yang tidak aku kenal. Aku tidak suka kau berdekatan dengan pria manapun. Aku akan membunuh pria itu dan mengurungmu dikamarku bila kau sampai berdekatan dengan seorang pria. Aku tidak suka milikku di sentuh orang lain. Kau mengerti?" ucap Albert lembut.
Aku mengangguk cepat untuk menjawabnya. Aku terlalu sulit untuk mengeluarkan suara aku sangat takut dengannya saat ini. Dia membenamkan wajahnya dileherku. Aku menegang merasakan dirinya memelukku erat.
"Mana janjimu untuk tidak menyentuhku?" ucapku.
Albert mengangkat wajahnya dan menatapku lekat-lekat.
"Dan kau belum memberikan hadiahmu untukku," ucapnya lembut.
Aku berusaha berontak agar dia menyingkir.
"Aku ingin kau menerimaku sebagai pemilikmu, Sayang," ucapnya lembut di telingaku.
Aku begidik ngeri mendengar permintaannya. Perlahan Albert melepaskan ikatan ditanganku. Dia mengecup pergelangan tanganku yang memar sambil menatapku dengan mata berkabutnya. Aku berusaha menarik tanganku.
"Secepatnya aku akan memilikimu, Sayang," ucapnya sambil bangkit dari tubuhku.
__ADS_1
"Turunlah dan ikut sarapan denganku. Hari ini kita sarapan berdua saja," ucapnya sebelum keluar dari kamarku.
Aku bernafas lega saat dia pergi. Aku menangis ketakutan mengingat apa yang tadi dia lakukan kepadaku. Aku hampir saja kehilangan kesucianku kalau aku tidak berhasil meyakinkannya. Aku memeluk diriku yang bergetar ketakutan. Andai mommy masih hidup, aku tidak akan mengalami ini semua.