Hate His Touch

Hate His Touch
Dunia Luar


__ADS_3

Ana mengerjakan soal yang diberikan ketua maid dalam keheningan. Setelah selesai dia memberikan bukunya kepada ketua maid. Ketua maid tersenyum senang melihat jawaban Ana.


"Bagus, nona. Pelajaran hari ini sampai di sini dulu. Apa nona yakin tidak mau pergi bersama tuan muda Francisco?" ucap ketua maid.


Ana memiringkan kepalanya sambil menatap ketua maid dengan tatapan kosong.


"Apa nona tidak penasaran dengan dunia luar?" ucap ketua maid.


Ketua maid mencoba merayu Ana. Ini atas perintah tuan dan nyonyanya. Selama ini ketua maid lah yang berhasil merayu nonanya untuk melakukan apapun yang diinginkan orang tuanya.


"Dia mengerikan," ucap Ana sambil berjalan menuju teddy bearnya.


Ketua maid menatap Ana dengan penuh minat. Perlahan dia membereskan peralatan tulis Ana yang ada di meja belajar. Ketua maid membuang nafas sebelum menghampiri Ana. Dia tahu nonanya akan tetap bersikeras untuk tidak menurut.


"Nona, apa dia melakukan sesuatu yang tidak anda sukai?" ucap ketua maid langsung.


"Aku tidak suka orang asing sepertinya," ucap Ana.

__ADS_1


"Nona, anda harus belajar melihat dunia luar. Anda tidak akan bisa terus- terusan mengurung diri anda di sini. Saya yakin tuah Albert....


"Aku tahu kau juga bisa melihat senyum menakutkannya. Dia berbahaya," ucap Ana sambil menatap kosong ketua maid yang mengernyitkan dahi.


Ya, jujur saja sebenarnya ketua maid merasa ada yang aneh saat melihat Albert. Sebenarnya ketua maid kurang suka dengah Albert yang nampak berbahaya bagi keluarga ini, namun dia tidak menyangka nonanya yang baru berumur 8 tahun ini bisa merasakan itu. Ketua maid memang diam-


diam mengetahui bakat Ana yang sangat jenius dalam segala hal, termasuk menilai orang Ana tidak seperti layaknya gadis berumur 8 tahun. Dia seperti wanita dewasa yang terjebak dalam tubuh gadis berumur 8


tahun dan ini hanya ketua maid yang tahu, karna Ana hanya mengeluarkan sikapnya ini saat bersama ketua maid saja.


"Aku membencinya," ucap Ana sambil mencabut kalung yang dia kenakan dengan kasar.


Ketua maid hanya diam menatap Ana yang memberi kalungnya kepada ketua maid.


Ana turun ke ruang keluarga saat ketua maid memberitahukannya kalau daddy-nya memanggil Ana. Ana memeluk erat boneka teddy bear-nya sambil berjalan menuju daddy-nya.


Daddy-nya menepuk tempat di sebelahnya. Ana membenamkan wajahnya di tubuh teddy- nya. Tidak lama mommy-nya datang membawa cake stoberry untuk mereka.

__ADS_1


"Ana, mengapa tidak mau pergi bersama kak Albert?" tanya daddy-nya sambil membelai sayang rambut Ana.


Ana hanya diam menikmati belaian lembut daddy-nya. Dia tidak berniat menjawab sama sekali.


"Kak Albert sangat baik kepadamu. Dia bahkan memberikan kalung yang indah kepadamu. Mommy yakin kak Albert tidak akan menyakitimu, sayang" ucap mommy- nya.


"Ya, daddy juga merasa kak Albert bisa menjaga Ana dengan baik," ucap daddy-nya.


Ana masih diam menyembunyikan wajahnya.


"Kau mendengar kami, sayang?" ucap mommy-nya.


Ana yang awalnya memejamkan mata karna merasa nyaman dengan belaian daddy-nya, mendadak membuka mata. Perlahan Ana menaruh teddynya disebelahnya. Dia menatap lurus ke depan. Menatap ke arah pria yang masih tersenyum kepadanya sambil


menatapnya intens. Ana tahu Albert ada didepannya sejak tadi. Dengan tatapan tajam dia membalas tatapan Albert.


"Anabella," tegur daddy-nya. Perlahan Ana menatap daddy-nya yang membalas tatapannya.

__ADS_1


__ADS_2