
Entah sekarang kami berada di mana. Rumah ini nampak asing karna aku belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di sini. Albert membawaku semakin dalam. Aku berusaha berontak darinya, tapi tenagaku terlalu lemah dibandingkannya. Aku semakin panik saat melihat dia membawaku ke sebuah ruangan. Dia melemparku ke tempat tidur. Aku beringsut mundur saat dia mulai melepas kemejanya.
"Tidak, aku mohon jangan. Aku mohon jangan lakukan ini," ucapku lirih.
Aku menjerit ketakutan saat Albert mulai menaiki tempat tidur. Dia menarik kakiku kasar dan mulai menaikiku. Dengan kasar dia menahan kedua tanganku di atas kepalaku dia mengikat kedua tanganku dengan dasinya. Aku berusaha berontak, namun dia terlalu kuat untukku. Dia mencium bibirku dengan kasar. Menggigit bibirku yang menutup rapat untuk menolaknya. Aku tersentak saat tiba-tiba jarinya membelai pangkal pahaku. Aku membuka mulutku saat merasakan itu. Albert membelit lidahku. Dia menurunkan ciumannya saat aku hampir kehabisan nafas.
"A ... a ... aku ... mohon ... lepaskan aku," ucapku di sela rintihanku.
Dengan kasar Albert merobek bajuku. Dia menatap nyalang tubuhku yang terpampang didepannya.
"Kau milikku," ucapnya geram di depan bibirku.
Jarinya masih bergerak menggodaku hingga aku menjerit saat sesuatu terasa meledak di dalam diriku. Perlahan Albert bangkit dari tubuhku dan meraih gunting di nakas tempat tidur. Dia menggunting pakaian dalamku dan membuangnya secara asal. Aku menangis saat semua pelindungku sudah tidak menutupi tubuhku lagi.
"TIDAAAKK ... aaahh jangan," ucapku terengah-engah saat merasakan apa yang dia lakukan.
"Kau ... milikku," ucap Albert sambil menggerakkan miliknya.
Aku berusaha menggigit bibirku untuk menahan suara desahan yang hampir keluar dari mulutku. Aku tidak mau membuatnya semakin senang karna berhasil membuatku mendesah.
***
Aku terbangun dan menatap kosong ke arah dinding. Aku mencoba bergerak, namun rasa sakit di pangkal pahaku membuatku berhenti. Aku membuka selimutku dan menemukan bercak darah kesucianku di seprai. Aku menangis meratapi diriku yang kehilangan kesucianku. Aku menatap sekelilingku yang tidak nampak satu pun orang. Bahkan orang yang mengambil kehormatanku pergi begitu saja meninggalkanku. Apa sangat tidak pantas aku merasakan kebahagiaan sedikit saja di hidupku yang penuh luka. Aku membenci hidup dan takdirku.
Aku benci semua yang membuatku terluka hingga aku tidak mampu bertahan. Entah apa salahku hingga aku harus mengalami ini semua. Aku berusaha mengeratkan selimutku untuk menutupi tubuhku yang sudah ternoda.
Aku mendengar suara pintu yang terbuka. Aku melihat pria br*ngsek itu datang dengan nampan berisi makanan. Aku meringkuk ketakutan di ranjang saat dia mendekat. Aku menatapnya dengan marah. Dia duduk di sampingku sambil menyodorkan sebuah piring. Aku melempar kasar piring itu hingga terjatuh di lantai. Aku berusaha menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Aku melihatnya yang terpaku melihat makanan yang berserakan di lantai.
Perlahan aku mencoba turun dari tempat tidur. Aku berusaha sekuat mungkin menahan rasa sakit di pangkal pahaku. Dengan tertatih aku berjalan menuju kamar mandi tanpa memperdulikan Albert. Air mata terus menetes deras dari mataku. Aku terjatuh di lantai karna sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya. Aku menggigit bibirku dengan keras dan berusaha bangkit. Aku menyentak kasar tangan Albert yang berusaha menolongku.
"Jangan sentuh aku!" ucapku dingin.
__ADS_1
Albert tetap bersikeras membopongku. Aku menamparnya dengan keras.
"JANGAN SENTUH AKU!" ucapku histeris.
Aku bangkit dan berusaha bangun meninggalkan Albert yang terdiam di tempat. Aku mengunci pintu kamar mandi agar Albert tidak masuk. Aku membuang selimut yang menutupi tubuhku dengan kasar ke lantai. Aku membersihkan tubuhku dengan kasar di bawah shower. Aku kotor dan hina. Apa ini jawabanmu tuhan atas permintaanku? Aku benar-benar lelah untuk tetap hidup. Aku lelah mengharapkan kematian yang tidak kunjung datang. Aku lelah mengharap apapun karna akhirnya hanya kekecewaan yang aku dapat. Aku berteriak histeris melampiaskan rasa marahku. Aku jatuh terduduk di lantai kamar mandi.
"Mom ... tolong ... jemput aku ... aku tidak tahan ada di sini ... aku mohon...." Ucapku mengiba.
Aku memeluk diriku sendiri untuk mencari kekuatan yang mungkin masih tersisa, namun semua percuma, karna yang aku temukan hanya rasa jijik dan kotor. Masa depanku hancur di tangan Albert. Aku takkan bisa lagi bersama Andrew. Dia takkan mau lagi menemuiku atau melihatku yang sudah ternoda. Aku memukul kepala dan dadaku yang terasa sakit.
Aku berjalan gontai saat keluar dari kamar mandi. Aku meraih pakaian yang sudah disiapkan untukku di tempat tidur. Aku memakai pakaian itu dengan kasar meluapkan rasa benciku kepada Albert. Aku buru-buru berjalan keluar kamar saat selesai bersiap untuk pergi. Aku merasa layaknya pel*cur. Aku menatap tajam ke arah maid yang menghalangi jalanku.
"Minggir!" ucapku penuh penekanan.
Para maid yang menghalangiku nampak bergeming. Mereka tidak menggeser sedikitpun tubuh mereka untuk membiarkanku pergi.
"MINGGIR!" bentakku.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" ucapku geram.
"Tuan menyuruh anda tetap di kamar an..."
"Aku bukan budak iblis itu! Jadi aku tidak perlu mengikuti perintahnya," ucapku memotong omongan salah satu maid.
"Kau bukan budak, tapi calon istriku. Kau tidak boleh pergi dari rumah ini tanpa izinku," ucap seseorang dari belakangku.
Aku melihat maid yang berdiri didepanku memberi hormat dan pergi meninggalkanku dan Albert. Aku berjalan cepat menyusul para maid.
"Berhenti di sana!" ucap Albert.
Aku masih terus berjalan tanpa memperdulikan ucapan Albert.
__ADS_1
"Selangkah lagi, sayang. Aku bersumpah akan membunuh semua orang yang kau sayangi. Kau tahu aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku," ucap Albert dingin.
Aku berhenti mendengar kata-katanya. Aku mengepalkan kedua tanganku untuk menahan diri agar tidak menerjangnya dan membunuhnya.
"Bisakah kau tidak mengancamku? Kau nampak seperti banci yang hanya bisa mengancam!" ucapku penuh penekanan.
Albert melangkah mendekatiku sambil tersenyum sinis.
"Banci? Bahkan kau menikmati saat pria yang kau sebut banci ini mencumbumu, sayang. Kau tidak akan keluar. Kau akan tinggal di sini suka atau tidak suka," ucap Albert ditelingaku.
Albert memutar tubuhku dan menakup wajahku.
"Hanya aku yang boleh memilikimu dan itu tercantum di surat wasiat daddy-mu. Aku tahu mommymu juga menginginkan itu, jadi jangan coba-coba memberontak. Kau hanya milikku," ucapnya dingin.
"Kau mungkin memiliki ragaku, tapi tidak dengan hatiku. Kau hanya akan mendapatkan mayatku karna aku hanya mencintai Andrew," ucapku dingin.
Albert nampak sangat marah mendengar kata - kataku. Dia menarikku memasuki kamarnya.
"Lepas!"
"Kenapa? Bukankah aku memiliki ragamu? Artinya aku bisa menyetubuhimu kapanpun aku mau bukan?" ucapnya dingin sambil melemparku ke tempat tidurnya.
"Aku bukan p*lacur!"
"Kau bukan p*lacur, tapi CALON ISTRIKU!" ucapnya penuh penekanan.
"Aku tidak sudi...."
"Aku tidak peduli! Kau memang milikku dan aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu!" ucap Albert.
Albert menarik kakiku saat aku mulai beranjak menjauh darinya. Dengan cepat Albert merobek bajuku dan membuka bajunya. Dengan kasar dia ******* bibirku tanpa memperdulikanku. Aku berusaha mendorongnya untuk melepaskanku, namun ini terlalu sulit.
__ADS_1
"Nikmati saja dan meleguhlah. Aku suka suara leguhanmu," ucapnya dengan suara serak.