Hate His Touch

Hate His Touch
Di Landa Musibah


__ADS_3

Tidak lama kemudian ada suara ketukan di pintu kamar Ana. Ana dan ketua maid memandang pintu. Ketua maid menatap Ana yang menatapnya.


"Jangan izinkan siapapun kecuali orang tuaku," ucap Ana tenang.


Ana menatap kosong ke arah susunya saat ketua maid membukakan pintu kamar Ana. Ketua maid membungkuk hormat sambil munduk saat Mikaila dan Lucas datang.


"Ada apa, Sayang? Kau sakit?" ucap mommy-nya sambil memeluk Ana.


Ana memejamkan mata menikmati kehangatan yang diberikan mommy dah daddy-nya.


"Apa yang sakit, Sayang?" ucap daddy-nya cemas.


Ana hanya diam menikmati belaian lembut di salah satu punggung tangannya. Perlahan Ana membuka mata dan melihat daddy-nya yang duduk di sebelah mommy-nya. Ana mengernyitkan dahi bingung karna merasa bukan tangan mommy-nya lah yang membelai lembut tangannya. Ana menatap ketua maid yang berdiri di belakang daddy nya. Ketua maid menatap Ana dengan tatapah menyesal. Ana menoleh dan mendapati Albert yang membelai sayang tangannya. Albeft masih memasang senyum mengerikannya sambil menatap Ana.


Kedua orang tuanya meninggalkan Ana bersama Albert. Ana mengaduk- ngaduk makanannya tanpa minat. Albert masih diam duduk di sampingnya. Perlahan Albert meraih piring makanan Ana dan menyodorkan sendok berisi makanan ke arah Ana.


"Buka mulutmu, Sayang," ucap Albert lembut.


Ana masih diam tak bergeming. Perlahan Albert memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Ana sempat melirik sebentar. Dengan lembut Albert menarik Ana dan menahan tengkuk Ana. Albert mencium bibir Ana dam memaksa Ana membuka mulutnya dengan menggigit lembut bibir Ana. Albert


memasukkan makanan yang ada dimulutnya ke dalam mulut Ana. Ana di paksa memakan makanan itu. Albert tidak melepas ciumannya hingga Ana menelan makanan itu. Ana berusaha melepaskan diri dan mendorong Albert, tapi tenaganya terlalu lemah dibandingkan Albert. Albert melepaskan Ana, saat Ana sudah menelan semua makanannya yang ada dimulutnya. Ana meraih susunya dan menyiram wajah Albert.


"Menjijikkan ..." ucap Ana sambil mengatur nafasnya.


Albert tersenyum dan menatap Ana yang menatapnya dengan tajam.


"Kau nampak lebih cantik dengan semburat merah dipipimu dan bibir bengkak akibat perbuatanku," ucap Albert lembut.


Ana menepis tangan Albert dan berlari keluar kamar meninggalkan Albert yang masih menatap punggung Ana. Perlahan Albert menjilat bibirnya.


"Kau tidak akan bisa pergi dariku, Sayang" ucap Albert sambil menyeringai.

__ADS_1


Sudah 3 bulan Albert terus mendekati Ana. Dia tidak pernah menyerah walaupun Ana mencoba menjauh. Dia yakin Ana akan menjadi miliknya.


"Ana sayang, mau pergi denganku?" ucap Albert lembut.


Ana hanya diam sambil memainkan teddy bearnya. Albert menyentuh rambut Ana. Ana langsung menangkis tangan Albert. Albert tersenyum saat Ana menatapnya dengan tajam.


"Kau mau pergi denganku?" tanya Albert lembut.


Ana mengerutkan kening sambil menatap Albert. Albert masih menatapnya sambil tersenyum. Kalau orang lain yang melihatnya mungkin akan memuji ketampanan Albert, namun tidak untuk Ana. Dia bisa melihat kemarahan di senyum Albert. Ana mundur dari duduknya untuk menjauh dari Albert.


"Katakan kenapa kau tidak suka kepadaku?" ucap Albert lembut.


Ana memilih pergi meninggalkan Albert di ruang tamu. Albert hanya terdiam menahan rasa sakit_di hatinya. Dia mencoba menetralkan amarahnya. Dia tidak ingih kehilangan kontrolnya dan membuatnya harus menodai anak di bawah umur.


Keesokannya Albert diharuskan pergi keluar negri untuk mengurus perusahaannya yang sedang dilanda musibah akibat kebakaran. Di curigai kebakaran disebabkan oleh pihak dalam yang memiliki dendam kepada ayah Albert. Albert nampak kecewa saat tidak


melihat Ana ikut mengantar Albert. Albert menatap sekeliling bandara dan berharap Ana akan datang.


"Aku akan cepat kembali," ucap Albert.


Di kediaman Evelyn nampak seorang gadis kecil yang sedang menatap langit. Dia membelai liontin mawarnya yang nampak indah. Ana memejamkan matanya saat merasakan detak jantungnya yang berpacu dengan cepat saat dia membayangkan wajah


Albert yang mengerikan, namun entah mengapa dia merasa merindukannya. Ada perasaan menyesal karna tidak ikut pergi bersama kedua orang tuanya tadi untuk mengantar Albert pergi. Dia menghela napas


lemah. Dia bingung dengan dirinya yang semakin aneh semenjak kedatangan Albert.


***


Ana menatap kosong ke arah nisan yang ada didepannya. Air mata menetes deras dipipinya. Ana menangis dalam diam. Dia membelai ukiran nama yang tertera di nisan.


"Mommy. "Lirihnya.

__ADS_1


Isak tangis keluar dari bibir mungilnya saat dia memanggil mommy-nya yang baru saja dikebumikan. Mommy-nya tewas setelah mengalami kecelakaan bersama daddy-nya saat mereka dalam perjalanan pulang dari bandara. Mobil yang mereka kendarai


mengalami kerusakan pada rem. Mobil mereka menabrak pembatas jalan. Airbag di mobil mereka tidak berfungsi dan membuat Mikaila yang saat itu tidak memakai sabuk pengaman karna ingin mengambil tasnya yang berada di jok belakang terlempar dari mobil. Mikaila dan anak yang sedang


dikandungnya meninggal di tempat. Sementara itu Lucas harus terbaring lemah di tempat tidur. Lucas mengalami benturan yang membuat dirinya tidak sadarkan diri. Ana masih menangisi mommy dan adiknya. Dia meringkuk di makam mommy-nya. Tidak


perduli dengan hujan yang membasahi tubuhnya. Dia terus menangis sambil meringkuk di dekat makam mommy-nya. Dia berharap mommy-nya bangun dan


mendekapnya. Dia berharap mommy-nya manenang kan nya.


Lucas masih betah menutup matanya. Ana menatap daddy-nya dengan tatapan kosong. Tangannya tak pernah lepas di tangan daddy- nya. Dia berharap daddy-nya cepat sadar. Ana terlalu lelah menanggung semua kesedihah ini sendiri. Sudah sebulan Ana menunggu daddy-nya sadar tanpa istirahat. Dia selalu


berdoa agar daddy-nya cepat sadar. Dia hanya memiliki daddy-nya sekarang. Ana mengecup tangan daddy-nya. Air mata menetes dari matanya. Samar-samar dia merasakan gerakan dari tangan daddy-nya. Perlahah daddy-nya membuka mata.


"Ketua maid," panggilnya kepada ketua maid yang sedang menerima telfon.


Ketua maid memencet tombol yang berada di dekat tempat tidur. Ketua maid membawa Ana ke dalam pelukkannya saat dokter dah suster berdatangan.


Lucas menangis saat mengetahui keadaan istrinya. Ana hanya bisa diam menatap kosong ke arah mawar mawar yang tertanam di taman belakang. Air hujan mulai menetes dari langit membasahi tubuhnya. Tanpa ada yang menyadari Ana meneteskan air mata. Dulu saat dia melukai dirinya sendiri akan ada mommy-nya yang memarahinya sambil mengobati lukanya namun sekarang tidak ada lagi sosok itu.


Bahkan mommy-nya hanya membawa adiknya. Ana sadar selama ini dia selalu membuat mommy-nya marah, namuh mommy-nya tidak pernah pergi meninggalkannya.


Apa kesalahannya sangat fatal hingga tuhan mengambil mommy agar dia tidak lagi membuatnya marah? Ana memukuli kepalanya dengan keras. Dia menyesal selalu membuat mommy-nya repot.


"Mommy," lirih Ana.


Ana terjatuh di tanah dan tidak sadarkan dirį


***


Ana tidak pernah lagi keluar dari kamarnya. Dia hanya diam dalam kamarnya. Dia hanya diam memandang gaun yang dibelikah mommy- nya. Sesekali ketua maid datang untuk memberinya makan dan pelajaran untuk Ana. Biar bagaimanapun Ana harus tetap meneruskan pendidikannya. Ana meminta ketua maid tetap membantunya menyelesaikan pelajarannya dengan cepat. Beberapa kali daddy-nya meminta Ana untuk keluar dari kamarnya untuk makah bersamanya, namun dia menolak untuk makan di meja itu. Di meja itu terlalu dingih tanpa mommy-nyya. Dia tidak akan bisa menahan tangisnya bila dia ada di sana dan itu akan membuat daddy-nya khawatir. Ana tidak ingin membuat daddy-nya khawatir. Dia hanya butuh waktu untuk membuat hatinya iklas menerima kepergian mommy-nya. Biar

__ADS_1


bagaimanapun dia tetap hanya gadis berumur 8 tahun. Dia masih membutuhkan mommy-nya berada di sampingnya. Dia masih butuh dekapan seorang ibu.


__ADS_2