Hate His Touch

Hate His Touch
Taman Bermain


__ADS_3

Aku membuang muka untuk menghindari sentuhannya.


"Kau harusnya mengatakan itu kepada pelacurmu itu! Dia yang selama ini kau tiduri, bukan aku!" ucapku sinis.


"Aku senang mengetahui kau cemburu. Secara tidak langsung kau mengatakan kalau kau tidak suka aku dekat dengan Clara. Bersabarlah sayang, aku akan segera menjadi milikmu. Aku janji tidak akan membuatmu cemburu," ucapnya dengan nada yang membuatku jijik mendengarnya.


"Mimpi saja kau!" ucapku sinis.


"Buka mulutmu," ucapnya.


"Apa itu kau beri racun?" ucapku menatap curiga pada makanan yang dia sodorkan untukku.


Tanpa pikir panjang, dia melahap makanan yang tadi dia sodorkan. "tidak beracun, aku hanya mencampurkan obat perangsang. Cobalah," ucapnya tenang.


Aku menatap tajam ke arahnya. Albert hanya terkekeh melihatku.


"Aku bercanda, tanpa itu aku yakin bisa membuatmu basah dan menginginkanku. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh," ucapnya sambil menyodorkan sendok yang berisi makanan ke arah mulutku.


Sudah 4 bulan aku tidak bertemu dengan Andrew. Terakhir dia mengabarkan sedang berada di miami untuk mengurus pekerjaan. Dia beberapa kali sempat menelfonku untuk membicarakan bisnis atau membicarakan hal pribadi. Entahlah aku merasa nyaman dengan perhatiannya kepadaku. Aku bersyukur dia tidak ada di sini saat aku memakai kursi roda. selama menjalin kerja sama dengan Andrew, aku merasa ada hal baru yang aku dapatkan. Dia orang yang sangat lucu hingga aku tidak bisa menahan tawaku saat bersamanya. Kerja sama kami juga berlangsung baik. Hari ini adalah hari keduaku tanpa kursi roda. Albert sudah berhenti mengantarku. Walau begitu sesekali dia akan menelfonku dan akan datang bila aku tidak mengangkat telfonnya. Aku mendesah kesal saat mengingat kelakuannya.


"Masuk," ucapku saat mendengar suara ketukan di pintu.


Aku masih asik menatap pemandangan dari dinding kaca. Aku penasaran dengan orang yang baru saja aku suruh masuk. Orang itu tidak bicara apapun untuk menyampaikan maksudnya. Aku menoleh dan mendapatkan Andrew yang tersenyum lebar sambil menatapku. Aku menutup mulutku yang terbuka karna terkejut melihatnya ada didepanku.


"Apa kabar Miss killer?" ucapnya.


Aku menyipitkan mataku tanda aku tersinggung dengan panggilannya. Dia terkekeh melihatku dan membuatku ikut terkekeh.


Aku terus tertawa mendengar ceritanya tentang perjalanan dan masa kecilnya. Dia sangat layak menjadi seorang pelawak. Dengan berbagai gaya dan ekspresi dia menceritakan semua hal lucu hingga aku tertawa terbahak - bahak.


"Kau tahu mereka menyebutku dulu si cupu dari goa hantu. Itu karna aku selalu menyendiri dan selalu berpakaian culun. Sebenarnya aku malas harus sekolah di sekolah umum, tapi yaah sekali lagi itu karna pilihan orang tuaku. Kau tahu? Kata salah satu murid yang selalu membullyku, aku seperti ini...." Tiba-tiba Andrew bergaya aneh yang sontak membuatku tertawa melihatnya.

__ADS_1


Andrew ikut tertawa bersamaku.


"Ya kan kau juga menertawaiku. Akupun juga menertawai diriku saat melihat mereka memperagakan diriku," ucap Andrew dengan raut lucunya.


Aku memegangi perutku yang sakit karna banyak tertawa. Andrew hanya bisa menggeleng kepala menyikapi sikapku.


"Hah kau ternyata tidak semengerikan yang ada di gosip. Aku fikir dulu aku akan kembali lagi gagal meyakinkan klien untuk bekerja sama denganku," ucap Andrew yang membuatku menghentikan tawaku.


"Aku menyeramkan?" tanyaku.


"Ya katanya sulit mendapatkan kontrak kerja sama denganmu. Katanya kau itu super galak dan dingin. Kau tahu kemarin rekan kerjaku memberiku ucapan selamat saat aku baru saja datang ketempatnya karna berhasil mendapat kesempatan bekerja sama denganmu. Kau benar - benar seorang legenda diumur yang masih belia dan itu sangat menabjubkan," ucap Andrew dengan gaya lucunya.


"Ya itu memang benar," ucapku tersenyum geli melihatnya.


"Lalu mengapa kau mau menerimaku?" ucap Andrew.


"Tekad dan kemauanmu yang membuatku berfikir kau masih memiliki kesempatan. Aku yakin kau bisa sukses," ucapku tulus.


"Benarkah? Wah kau seperti cenayang," ucap Andrew yang membuatku menggeleng kepala.


***


Aku membiarkannya tetap tinggal di rumah dan tidak memasukkannya ke penjara. Belum saatnya melakukan itu. Aku memekik kaget saat merasa ada tarikkan yang membuatku membentur tubuh seseorang.


"Kenapa kau tidak pulang?" ucap Albert.


Aku berusaha melepaskan diri dari pelukkannya. Albert mengeratkan pelukkannya.


"Se ... sak...." Ucapku terbata-bata.


Albert melepaskan pelukkannya tanpa melepas tangannya dari tanganku.

__ADS_1


"Jawab aku, apa kau merasa takut kepada Clara?" ucap Albert.


"Itu kebalikannya, aku tidak mungkin takut kepadanya. Lepaskan aku!" ucapku kesal.


"Kalau begitu pulang," ucapnya.


"Aku jijik melihat kelakuan kalian dan mendengar kata - katamu. Kau seakan seperti suami yang memiliki 2 istri dalam satu rumah. Dengar bila kau ingin bermain rumah-rumahan maka jangan ajak aku dalam permainanmu! Aku sangat jijik kepada kalian berdua. Aku benci berada di rumah itu karna kalian. Bisakah kau membawa Clara pergi kerumahmu? Seharusnya kalian tahu diri karna menempati rumah orang tanpa seizin orang itu! Cepat keluar dari rumahku dan bawa pelacurmu! Jangan kotori rumahku dengan kelakuan kalian!" ucapku marah.


Aku menghentakkan tanganku kasar dan mendorongnya pergi dari apartemenku.


***


Andrew mengajakku pergi ke taman bermain. Entah apa yang dia fikirkan hingga membawaku ke tempat ramai.


"Kenapa kau bawa aku ke sini?" ucapku.


"Aku juga ingin ke sini, tapi aku tidak mau sendiri. Lagipula mungkin ini bisa menyembuhkanmu dari ketakutanmu pada keramaian," ucapnya sambil tersenyum lembut.


Andrew turun dari mobilnya dan memutari mobilnya untuk membuka pintu mobil disebelahku. Dia mengulurkan tangan padaku. Aku sebenarnya ragu, namun saat melihat mata hijau Andrew yang menenangkan perlahan aku menyambut tangannya. Aku menunduk saat Andrew menutup pintu mobilnya. Andrew menangkup wajahku dengan kedua tangan hangatnya. Entahlah aku merasa baik - baik saja saat bersentuhan dengannya.


"Aku janji tidak akan meninggalkanmu," ucap Andrew dengan lembut.


Kata - kata tulus Andrew membuatku tersenyum. Entahlah hatiku serasa hangat saat bersamanya. Seakan semua beban terangkat. Andrew menggandengku selama kami berjalan dikeramaian. Aku menggenggam tangannya erat hingga dia beberapa kali menoleh kearahku dan memberiku senyum lembutnya.


"Kita naik itu," ucap Andrew sambil menunjuk sebuah wahana yang nampak seperti mangkuk besar berputar-putar. Aku hanya mengangguk menyetujuinya.


***


Aku tertawa lepas saat melihat Andrew yang nampak pucat setelah kami menaiki jetcoster selama 5 kali karna permintaanku. Aku tidak pernah menyangka bermain di taman bermain sangat menyenangkan. Semua wahana sudah kami naiki dan ini membuatku merasa lepas dan bebas karna aku bisa berteriak sesuka hati. Hatiku terasa plong saat ini. Aku menghela nafas senang sambil tersenyum menatap langit yang cerah.


"Kau haus?" ucap Andrew.

__ADS_1


Aku mengangguk cepat sambil tersenyum kearahnya.


"Baiklah tunggu di sini sebentar aku akan ke sana membelikan minuman," ucap Andrew.


__ADS_2