Hate His Touch

Hate His Touch
Meminta Izin


__ADS_3

"Kau cemburu kepadanya?" tanya Albert.


Aku memutar bola mataku malas.


"Kalian berdua makhluk yang menjijikkan," ucapku.


"Dia tidak akan ke sini," ucap Albert tenang.


Aku hanya bisa mendesah kesal karna Albert yang masih bertahan di sini.


***


Aku menatap Albert yang baru saja menerima telfon. Dia nampak menatap berkas yang baru saja di antar oleh sekertarisnya dengan serius.


"Lebih baik kau pergi ke kantor. Aku tahu saat ini kau harus ke sana," ucapku lembut untuk membujuknya.


"Aku tidak perlu ke sana. Aku sudah menyuruh asisten dan sekertarisku melakukan semua pekerjaanku. Aku yakin mereka mampu," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya kepadaku.


"Jangan memberatkan mereka. Mereka memiliki pekerjaan yang harus dikerjakan. Lagi pula aku sarankan untuk tidak terlalu mempercayai orang lain. Pengalaman mengajarkanku seperti itu," ucapku meyakinkan.


"Sayang, terima kasih atas perhatianmu. Aku jamin mereka tidak akan berani melakukan itu kepadaku. Akan ada konsekuensi di setiap kesalahan. Aku memberi mereka hal yang lebih dari orang lain bisa kasih kepada mereka, namun aku juga menuntut hal yang sempurna di setiap pekerjaan kepada mereka. Bila sedikit saja ada kesalahan, mungkin mereka akan kehilangan nyawa mereka. Itu sudah tertera di kontrak mereka dan mereka menyetujuinya," ucap Albert dengan senyum misteriusnya.


Aku menelan ludah melihatnya yang menatapku dengan intens. Aku bisa merasakan aura kelam yang dia pancarkan. Aku sungguh kasihan pada karyawan yang bekerja di bawah kepemimpinan Albert yang memiliki sifat yang sangat kejam. Aku bergidik takut membayangkan apa yang dia akan lakukan saat ada kesalahan yang di buat karyawannya.


"Jangan lakukan itu kepada mereka. Mereka hanya manusia yang membutuhkan bantuan kita. Coba pikir bila kita yang ada di posisi mereka," ucapku pelan sambil menunduk.


Aku merasa belaian di kepalaku. Aku mendongak dan melihat Albert yang tersenyum lembut.


"Inilah mengapa aku membutuhkanmu untuk mendampingiku. Ini salah satu alasannya. Kau selalu bisa meredamku walau terkadang kau adalah sumber kemarahanku dengan sikap penolakkanmu. Kau yang selama ini menghangatkan hatiku yang dingin. Kau tahu? Selama ini hanya kau yang berhasil menyentuh hatiku," ucapnya.


Albert meraih tanganku dan menaruh tanganku di dadanya.


"Detak jantung ini hanya milikmu. Hanya kau yang berhasil membuatnya berdetak kencang seperti ini," ucap Albert lembut.


Entah mengapa pipiku terasa panas. Aku menunduk menyembunyikan wajahku.

__ADS_1


"Aku tahu itu bohong. Selama ini kau selalu bersama Clara. Aku tahu kau hanya menginginkan hartaku selama ini," ucapku parau.


"Mengapa aku harus menginginkan harta yang jelas nilainya sangat jauh di bawah hartaku. Aku memiliki harta yang melebihi apa yang ayahmu miliki. Yang harus kau curigai adalah orang lain yang tiba-tiba mendekatimu," ucap Albert sambil mengecup keningku dan berjalan ke kamar mandi.


Aku mencoba mencerna apa yang dia katakan. Aku merasa ada yang harus aku selidiki dengan kata-katanya. Aku tersentak dari lamunan saat melihat ketua maid yang datang.


"Nona," ucapnya sambil memberi hormatnya.


"Cari tahu keberadaan Andrew," ucapku yang sukses membuat ketua maid menatapku tidak suka.


"Saya akan cari tahu," ucapnya.


"Jangan biarkan dia datang ke sini saat ada Albert," ucapku.


"Siapa?" ucap Albert yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Aku menatap ketua maid panik.


"Saat nona jatuh ada rekan kerja yang sedang membicarakan bisnis dengan nona. Saya mendapat kabar kalau beliau akan datang mengunjungi nona, namun nona meminta untuk tidak ada yang boleh menjenguknya," ucap ketua maid.


"Apa kau takut kepada Clara?" tanya Albert.


"Aku tidak pernah takut kepadanya. Hanya saja belum waktunya aku untuk mati sebelum kebenaran terungkap," jawabku sinis sambil menatapnya.


Albert hanya tersenyum menanggapi kata-kataku.


Hampir sebulan aku harus terbaring di rumah sakit. Aku bersikeras untuk diizinkan pulang hari ini juga. Rasanya aku sangat tersiksa meninggalkan kantor selama ini. Aku tidak bisa terlalu lama istirahat. Banyak pekerjaan yang harus aku tangani. Aku juga sudah muak melihat Albert di sini. Walaupun begitu entah mengapa aku merasa mimpi buruk yang sering aku alami sudah lama tidak muncul lagi semenjak aku berada di rumah sakit. Aku merasa mimpi buruk itu berubah menjadi mimpi yang sama seperti mimpiku saat aku ulang tahun. Aku merasa ada yang memelukku dengan erat. Aku tidak kuasa untuk menolak atau melihat siapa yang memelukku. Aku terlalu terhanyut akan rasa aman dan hangat yang aku rasakan. Ada rasa penasaran dengan mimpi itu. Awalnya aku curiga Albert yang melakukan itu, namun semua terbantahkan saat aku bangun dan melihatnya masih tertidur di sofa.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Albert menyentakku ke alam nyata.


Aku menggeleng pelan sambil mengaduk makananku. Dia menatapku yang hanya diam menatap makananku tanpa selera.


"Kau ingin sesuatu?" ucapnya.


"Aku mau pulang," ucapku.

__ADS_1


"Tidak bisa...."


"Aku sudah lebih baik. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku mohon Al.. Izinkan aku.." ucapku lirih.


Aku merutuki mulutku yang mengeluarkan suara lirih yang sangat aneh itu.


"Dengan satu syarat," aku langsung menatapnya.


"Kau harus mau aku antar jemput. Tidak ada lembur sampai gips kaki dan tanganmu di buka," ucapnya serius.


Aku menatapnya tidak suka. Itu artinya aku akan sering menghabiskan waktu dengannya. Aku benci hal itu. Aku malah berencana ingin tinggal di kantor.


"Terima persyaratan atau kau takkan bisa keluar dari sini hingga.."


"Baiklah," ucapku pada akhirnya.


Aku tahu Albert orang yang sangat nekat. Dia akan melakukan apa yang dia katakan tanpa sungkan apalagi ragu.


"Ngomong-ngomong, aku suka panggilan barumu untukku. Hanya kamu yang boleh memanggilku Al," ucapnya sambil tersenyum lembut.


Aku terpaksa harus duduk di kursi roda agar Albert tidak menggendongku hingga keruanganku. Ketua maid mendorong kursi rodaku dengan hati - hati. Aku menatap sekelilingku yang menatapku aneh. Aku mulai merasa tidak nyaman saat mereka menatapku.


"Percepat jalanmu ketua maid," ucapku datar.


Ketua maid menyadari rasa gelisahku walau aku memasang wajah dingin dan bersuara datar. Dia menatap tajam para pegawai yang masih menatapku dengan aneh.


"Benar-benar membuatku mual," ucapku kesal.


***


Aku menatap dingin ke arah Albert yang tiba-tiba masuk ke dalam ruanganku tanpa izin. Dia tersenyum lebar sambil mengangkat bungkusan yang dia pegang. Albert mendekatiku dan melempar berkas yang aku pegang kemejaku. Dengan paksa dia mendorong kursi rodaku ke arah sofa.


"Bisakah kau meminta izin dulu sebelum mendorong kursi rodaku!" bentakku.


"Aku tidak perlu izin siapa pun untuk memberi makan calon ibu anak-anakku," ucapnya lembut sambil membelai lembut pipiku.

__ADS_1


__ADS_2