Hate His Touch

Hate His Touch
Kehadiran Clara


__ADS_3

2 tahun Ana hidup mengurung diri di dalam kamarnya. Semakin lama dia seperti terlupakan. Dia seperti tidak ada di rumah ini. Daddy-nya yang selalu datang untuk menjenguk putrinya sudah tidak lagi


melakukan itu. Daddy-nya yang dulu selalu memohon putrinya untuk makan bersamanya sekarang sudah tidak melakukan itu lagi. Daddy-nya lebih memilih menghabiskan waktunya di luar. Hanya para maid dan ketua maidlah yang masih memperdulikan gadis berumur 10 tahun yang terlupakan itu. Ana menyimpan rasa sakit dan sedihnya sendiri Dia sedih karna terlupakan oleh daddy-nya sendiri. Dia sakit karna harus menanggung semua beban sendiri.


Perlahan dia mulai keluar dari kamar dan menghampiri kamar daddy-nya. Dia mengetuk kamar itu, namun tidak ada sahutan dari dalam. Ana memberanikan diri membuka pintu. Dia hanya melihat


kekosongan di kamar orang tuanya. Perlahan dia melangkahkan kaki kecilnya ke walk in closet yang berada di kamar ini. Dia menatap nanar ke arah sekelilingnya. Tidak ada lagi barang-barang mommy yang dulu selalu berada di sini berdampingan dengan barang-barang daddy. Air mata menetes saat


menyadari daddy-nya mulai melupakah mommy. Perlahan dia keluar dari walk in closet dengan menyeret tubuhnya yang terasa lemas.


Langkahnya terhenti saat melihat sepasang sepatu berada di depannya. Tanpa melihat siapa pemilik sepatu itu dia tahu siapa yang berdiri di depannya. Dia memilih tetap menunduk sambil berjalan keluar kamar orang tuanya.


"Ana.." panggil daddy-nya, namun Ana tetap berjalan tanpa menoleh sedikitpun.


Baginya jelas daddy-nya sudah melupakah mommy dan adiknya. Itu artinya daddy-nya sudah melupakan dirinya juga dan berharap dirinya juga secepatnya menghilang. Ana berusaha menahan isak tangisnya dengah menggigit bibirnya hingga berdarah.


"Nona..


Ana menoleh ke arah ketua maid yang berada di depan kamarnya. Dia menatap ketua maid dengan tatapan sedihnya.


"Di mana barang mommy?" tanya Ana lirih.


"Ada di gudang, Nona," jawab ketua maid.


Hening sesaat, Ana menahan nafasnya saat mendengar jawaban ketua maid. Dia berusaha bersikap tetap tenang walau rasanya dia ingin pingsan mendengar itu.


"Taruh semua itu dikamarku," ucapnya lirih.


Hatinya sakit mendengar daddy-nya menaruh semua barang-barang mommy-nya di gudang. Ana tetaplah anak berumur 10 tahun yang sangat rapuh.

__ADS_1


Semenjak kejadian itu Ana semakin mengubur dirinya di dalam kamar. Terkadang dia menatap kosong ke arah foto keluarganya yang dulu masih lengkap dengan mommy-nya. Bahkan semenjak kejadian itu daddy-nya tidak sama sekali berusaha menjelaskan ke


Ana tentang barang - barang mommy-nya. Keluarga ini seakan hancur tanpa kehadirah nyonya Evelyn. Lucas lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor dan di tempat hiburan malam untuk melampiaskan


rasa kesepiannya. Ketua maid merasa sangåt prihatin dengan sikap tuan besarnya yang memilih meninggalkan putri tunggalnya yang membutuhkan kasih sayang daddy-nya.


***


Tidak terasa 5 tahun berlalu setelah kejadian itu. Ana melewati setiap tahunnya di dalam kamarnya. Tidak ada lagi ucapan selamát ulang tahun atau hadiah untuknya di setiap dia ulang tahun dari kedua orang tuanya. Hanya ketua maid dan maid yang merayakan ulang tahun Ana dikamarnya. Jangan tanya


tentang Lucas, dia benar-benar tenggelam dengan dunianya sendiri. Sekarang dia sudah mendapatkan pengganti Mikaila mendiang istrinya yang pernah dia cintai.


Lucas sedang berhubungan dengan seorang wanita cantik yang dia temui di diskotik. Lucas membawa kekasih barunya itu untuk tinggal bersamanya di kediaman Evelyn tanpa persetujuan Ana. Setelah kejadian Ana memasuki kamar orang tuanya, dia tidak pernah lagi keluar atau melihat daddy-nya


masuk ke kamar ini. Bahkan saat dia sakit hanya ada ketua maid dan maid yang merawatnya. Ana berusaha tetap tegar menghadapi cobaan yang dia rasakan, namun tanpa ada yang tahu dia selalu berdoa agar kematian segera menghampirinya.


Ana menatap ketua maid yang membawa buku pelajaran. Ana menghampiri meja belajarnya. Ketua maid tahu kalau Ana selalu siap saat dia sudah duduk di meja belajarnya untuk menerima pelajaran darinya. Ketua maid selama ini berusaha membuat Ana tetap bertahan. Dia berusaha semaksimal mungkih untuk membantu Ana untuk menguasai semua hal. Diam diam ketua maid memberi bekal kepada Ana agar dia bisa bertahan hidup saat dia harus keluar dari rumah ini. Ketua maid merasa akan tiba saatnya Ana harus hidup sendiri tanpa keluarganya. Ketua maid tahu yang terjadi kepada tuannya dan nyonya besarnya. Tuannya lebih tempramental dan diktator. Selama ini ketua maid masih bisa menyembunyikan kamar Ana dari wanita iblis itu, namun ini tidak akan bisa bertahah lama. Dia yakin wanita iblis itu akah menemukan Ana di sini.


"Anda bisa kerjakan soal ini?" tanya ketua maid.


Ana mengangguk dan meraih buku yang di pegang ketua maid. Sebuah suara bantingan pintu menggema. Ana berhenti menulis saat mendengar suara itu. Ana menatap wanita yang nampak angkuh menatap Ana. Wanita itu mendekati Ana.


"Siapa dia ketua maid? Jadi ini yang selama ini kalian sembunyikan dariku?" ucap wanita itu.


Ana memiringkan kepalanya sambil menatap wanita yang baru dilihatnya. Ana menatap ketua maid.


"Perkenalkan ini nona Anabella Curtina Evelyn, anak dari tuan Lucas Evelyn dan nyonya Mikaila Evelyn. Nona ini..."


Oh, jadi ini calon anak tiriku? Menyedihkan sekali, anak idiot ini selama ini tinggal di kamar ini? Apa iní?" tanya kekasih Lucas yang baru.

__ADS_1


Dia memegang buku yang ada di meja belajar Ana. Dengan sigap Ana mencengkram tangan wanita itu. Wanita itu menjatuhkan buku Ana ke meja. Ana mendorong wanita itu dan membuat wanita itu mundur beberapa langkah. Wanita itu nampak kesal dan mau menyerang Ana. Ketua maid menahan wanita


itu.


"Cukup, Nona Clara, jangan ganggu nona muda lagi. Tuan tidak akan senang melihatmu mengganggu putri kesayangannya. Lebih baik anda keluar," ucap ketua maid.


Wanita itu menatap sinis ke arah Ana. Dengan kasar Clara pergi sambil membanting pintu. Ana terjatuh dari tempatnya. Air mata mengalir dipipinya. Tubuhnya bergetar hebat saat mengetahui daddy-nya yang selalu mengatakan kalau dirinya mencintai mommy-nya hingga hampir gila sudah benar - benar


menghapus mommy-nya dari hidup daddy-nya. Ya, Ana ingat dulu daddy-nya selalu mengatakan kata - kata cinta untuk mommy-nya. Daddy-nya bilang tidak akan bisa hidup tanpa mommy-nya. Daddy-nya bilang hanya


mommy-nya yang ada dihatinya, namun Ana sadar bahwa apa yang dikatakan daddy-nya hanya semu. Daddy-nya tidak benar-benar mencintai mommy-nya. Semudah itukah dia melupakan mommy-nya.


Keesokan paginya, Ana demam tinggi. Semua pelayan di larang keras mendekati kamar Ana. Clara meminta Lucas bertindak keras kepada putrinya yang selama ini dia manjakan.


"Suruh dia turun dan makan di meja ini bersama kami," ucap Lucas kepada ketua maid.


"Tuan tapi .."


"Ikuti perintahku!" bentak Lucas.


Ketua maid hanya bisa diam melihat Lucas yang berubah. Ketua maid memilih untuk mengikuti kemauan tuannya. Dengan hati-hati ketua maid membangunkan Ana. Ana membuka matanya dan menatap ketua maid. Rasanya berat sekali matanya untuk terbuka. Dia berusaha menahan rasa sakit di


kepalanya.


"Maafkan saya, Nona, Tuan .. meminta anda turun. Dia tidak menerima penolakkan," ucap ketua maid lirih.


Sekuat tenaga Ana berusaha bangkit. Dia menolak ketua maid memapahnya. Ana mencuci mukanya dan berjalan pelan keluar dari kamarnya. Ketua maid tahu kalau Ana sedang memaksakan tubuhnya. Perlahan dia


berjalan mendekati meja makan dan terpaksa saat melihat wanita itu menduduki bangku mommy-nya dulu.

__ADS_1


__ADS_2