
Aku sempat berhenti sejenak karna rasa sakit yang aku rasakan. Semua menatapku bingung. Aku mulai menjadi sorotan mata mereka. Aku merasa tidak nyaman menjadi tontonan mereka. Saat rasa takut menyelimutiku, aku merasa ada yang menangkup wajahku. Aku melihat Albert yang melakukan itu. Perlahan mataku mulai terhipnotis oleh matanya. Albert menggenggam tanganku dan membawaku menuju meja tempat ijab kobul berlangsung. Dengan lembut dia memasangkan cincin dijemariku. Aku juga melakukan hal yang sama dan mulai mencium punggung tangan suamiku sebagai bakti pertamaku sebagai seorang istri. Aku tersenyum kepadanya yang juga tersenyum lembut.
Aku menikmati moment saat dia mengecup keningku sebagai tanda cintanya kepadaku. Aku menatap Abraham yang menghambur ke arah kami. Aku membelai sayang kepala jagoan kecil kami hingga dia mendongak dan menatapku dengan bahagia. Aku bagai melihat Albert kecil saat menatap Abraham. Dia sangat mirip dengan Albert. Sama sekali tidak ada perbedaan. Hanya sifat mereka yang berbeda sedikit. Albert orang yang selalu memaksakan kehendaknya namun aku mengajarkan Abraham untuk tidak memiliki sifat itu.
***
Aku mendesah lelah saat kami mendapat pelepasan kami. Albert tersenyum sambil meraihku ke dalam pelukkanya.
Aku merasa ketenangan saat mendengar suara deru nafas dan detak jantungnya yang berdebar. Aku mengeratkan pelukkan kami untuk mencari kenyamanan. Albert berkali-kali mengecup puncak kepalaku dengan lembut.
"Kau bahagia?" ucap Albert.
"Iya," ucapku lembut sambil mengecup rahangnya.
"Aku merasa jiwaku terisi penuh," ucapnya lembut.
Aku mengangkat wajahku untuk menatapnya. Dia membelai lembut rambut yang menutupi wajahku. Aku tersenyum lembut saat menatapnya.
"Aku penasaran dengan hidupmu saat kau kecil. Aku merasa Abraham benar - benar sangat mirip denganmu. Aku berusaha mendidiknya untuk tidak memiliki sifat burukmu. Maaf jangan marah, tapi aku tidak pernah suka saat kau memperlakukanku seperti seorang psyco. Itu sangat mengerikan," ucapku lembut sambil menatapnya dengan tulus.
Aku mengira dia akan marah dan tersinggung, namun yang aku dapatkan adalah sebuah senyuman tulus.
"Wajahnya memang mirip denganku, tapi sifatnya lebih baik dari aku. Aku bangga kau bisa mendidik jagoan kita dengan baik. Aku tahu kalau aku keterlaluan, tapi aku tidak bisa menahan sisi jahatku. Saat kau pergi, aku berusaha mengontrol diriku. Aku tidak mau kau merasa takut kepadaku. Aku sangat hancur saat melihatmu bersama Anak kita tinggal di sebuah rumah sederhana.
Aku membayangkan saat kau melahirkan tanpa aku. Aku merasa b*jingan paling br*ngsek yang membuatmu harus melahirkan sendiri tanpa aku mendampingimu. Kalau boleh dan bisa, lebih baik aku yang merasa sakit. Aku tidak bisa bayangkan kalau aku kehilangan kalian berdua. Aku bersumpah akan membakar diriku sendiri bila itu terjadi. Kalian lebih dari apapun yang aku miliki. Kalian lebih berharga dari pada nya...."
"Kami tidak akan meninggalkanmu lagi," ucapku menahan ucapannya.
Albert tersenyum bahagia menatapku. Aku membenamkan wajahku di dadanya.
***
Aku menatap Abraham yang nampak berbinar melihat hewan paling menjijikkan bagiku. Aku menjaga jarakku sejauh mungkin dari Abraham dan Albert yang nampak senang melihat ular. Aku panik saat Abraham mulai mendekat ke arah ular itu. Ini ide buruk saat aku menyetujui permintaan Abraham untuk pergi ke kebun binatang.
"Jangan dekat-dekat Abraham! Mom akan marah kalau ... JANGAN!!!" histerisku saat melihat pawang ular itu menaruh tubuh besar ular itu di tubuh Abraham dan Albert. Aku berlari menuju Abraham dan menarik Abraham tanpa memperdulikan rasa takut kepada ular.
Aku meraih Abraham dalam gendonganku dan berlari menjauh dari mereka. Aku berusaha mengatur nafasku dan menajamkan penglihatanku. Rasanya aku ingin pingsan. Aku tidak bisa mendengar suara apapun karna kupingku mendengung. Aku berusaha menatap sekelilingku dengan was-was. Sampai aku merasa sebuah tarikkan dari belakang. Aku melihat Albert yang menatapku dengan raut wajah yang kacau. Aku melepas tangannya dari tanganku. Aku masih tidak bisa mendengar suaranya karna kupingku yang mendengung. Aku berjalan mundur sambil menatap sekelilingku waspada.
"JANGAN MENDEKAT!" teriakku.
Aku benar-benar sudah tidak bisa lagi berfikir jernih. Aku menghentikan taksi dan masuk tanpa memperdulikan Albert yang berusaha menahanku. Aku meminta supir taksi itu mengantarku pulang. Aku menatap Abraham yang ternyata menangis dalam pelukkanku. Aku masih tidak bisa mendengar suara apapun.
"Abraham maafkan mom, tapi mom tidak bisa mendengarmu. Mom minta kamu berhenti menangis," ucapku lirih. Aku semakin tersiksa dengan rasa sesak didadaku. Tenagaku sudah terlalu banyak terkuras hingga perlahan semua terlihat gelap.
Aku terbangun dengan panik saat melihat sekitarku. Aku tidak menemukan Abraham disebelahku. Aku mengernyit bingung menatap sekelilingku. Ini kamarku dan Albert. Aku menatap pintu saat mendengar suara pintu yang terbuka. Aku mendesah lega saat melihat Abraham dan Albert yang masuk. Aku memeluk erat Abraham untuk menenangkan diriku.
__ADS_1
"Mom, hiks ... " ucap Abraham di sela tangisnya.
"Maaf membuatmu harus berdekatan dengan ular. Maafkan aku," ucap Albert.
Aku mengangguk karna masih merasa lemas untuk berbicara.
***
Aku membelai rambut Abraham dan Albert yang tidur di sisiku. Aku tersenyum menatap mereka yang kelelahan karna aku menghukum mereka. Aku merasa bahagia melihat mereka berdua. Aku merasa hatiku yang hancur mulai pulih kembali ke semula saat melihat senyum mereka. Aku bisa merasakan kehangatan dihatiku saat melihat senyum menawan mereka. Semakin lama perasaanku kepada Andrew semakin menghilang dan digantikan oleh Albert. Dia masuk perlahan memenuhi hati dan pikiranku. Dia tidak membiarkan siapapun kecuali Abraham masuk ke dalam hatiku. Aku menatap langit dari dinding kaca.
"Lihatlah, sekarang aku sudah bahagia dengan keluarga kecilku. Aku harap kalian melihatku bahagia dari sana mom ... dad ..." ucapku lirih.
Aku hanya tersenyum menatap langit malam yang nampak indah. Aku harap mereka tenang di sana karna melihatku yang bahagia.
Semakin hari aku disibukkan menjadi ibu rumah tangga. Aku dan Albert sepakat untuk menunda memiliki anak kedua hingga Abraham berumur 5 tahun. Aku tidak ingin jarak usia anakku terlalu dekat. Albert menyetujui keinginanku. Baginya asal aku bahagia dia akan menuruti semua yang aku mau.
Aku sebagai istri tidak pernah berusaha mencari kesempatan untuk membuatnya kecewa saat mengetahui sikap Albert yang akan menuruti mauku. Aku berusaha menjelaskan semua alasan dari permintaanku. Aku tidak mau hubungan kami hancur. Aku menikmati cinta Albert yang sangat tulus dan besar kepada kami berdua.
Albert membuatku semakin ketergantungan dan berhasil membuatku melupakan perasaanku kepada Andrew. Dia berhasil mencuri hatiku sepenuhnya. Aku tersentak saat merasa pelukkan di pinggangku. Aku tersenyum saat mencium parfum yang aku kenal. Albert mengecup leherku untuk membuatku kegelian. Aku terkikik merasakan geli saat dia menjilati leherku. Aku menyikut perutnya untuk melepaskan diri. Albert terkekeh melihat reaksiku. Aku cemberut sambil memutar tubuhku menghadapnya. Albert mengecup bibirku berkali-kali sampai aku membalas ciumannya dan berlanjut keciuman yang lebih panas. Aku melepaskan diri saat mendengar suara pintu kamar yang terbuka. Albert nampak kecewa saat aku melepaskan ciuman kami.
Aku melepaskan pelukkan Albert dan berjalan menghampiri Abraham yang menangis. Aku melihat lutut Abraham terluka. Albert yang melihat Abraham terluka nampak marah.
"MAID!!!" teriak Albert yang membuat Abraham terkejut.
Abraham nampak ketakutan melihat Albert. Albert menyadari ekspresi Abraham yang ketakutan melihatnya. Aku mencubit paha Albert dengan keras hingga dia meringis.
Albert yang menyesal langsung duduk di sebelah Abraham. Abraham memelukku dengan erat. Seorang maid datang dengan tergesah - gesah dengan kotak P3K di tangannya. Wajahnya sangat pucat saat melihat Albert yang menatap tajam maid itu.
"Apayang terjadi kepada putraku? Mengapa dia sampai terluka? Apa kalian tidak bisa menjaga anakku dengan baik!" ucap Albert dengan suara dingin.
"Maa.. maa ... maafkan saya ... Tuan," ucap maid itu ketakutan.
"Al, sudahlah," ucapku sambil mengambil kotak P3K di tangan maid itu.
Aku melihat maid itu nampak ketakutan sampai gemetar. Aku yakin sekali lagi Albert memarahi maid itu, dia akan pingsan.
"Tapi...."
"Abraham tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil," ucapku menenangkannya.
"Panggil dokter sekarang," ucapnya marah kepada maid.
"Tidak usah, aku bisa mengobatinya sendiri," ucapku.
"Tidak, ini harus ditangani dokter. Kalau infeksi bagaimana?" ucap Albert berlebihan.
__ADS_1
Aku memutar mataku malas. Albert menatapku tidak suka dengan perilakuku.
"Akan ada hukuman untuk apa yang kau lakukan tadi," ucap Albert memperingatiku.
"Kau pergilah," ucapku kepada maid yang masih mematung.
"Albert kau berlebihan," ucapku kesal.
"Ini tidak...."
"Ini ya! Jangan berlebihan. Ini hanya luka kecil dan aku bisa menangani ini. Aku sudah sangat terbiasa menangani ini," ucapku kesal.
Perlahan aku mengusap punggung Abraham dengan lembut. Aku mengecup puncak kepalanya. Perlahan Abraham mengendurkan pelukkannya. Aku menangkup wajah Abraham dengan kedua tanganku dan mengecuk wajahnya hingga dia tertawa.
"Sakit?" tanyaku.
Abraham mengangguk.
"Baiklah, sekarang mom akan menyembuhkanmu. Kau percaya mom?" ucapku.
Abraham mengangguk. Aku mengecup pipi tembamnya. Perlahan aku bersenandung dan tidak lama di ikuti Abraham. perlahan dia yang bernyanyi dan aku mulai mengobati kaki Abraham. Albert merangkul Abraham sambil memperhatikanku.
***
Albert nampak masih cemas menatap Abraham yang sudah tertidur. Dia menatap luka di kaki Abraham yang sudah aku balut. Aku mengusap pundak Albert dengan lembut untuk menangkannya. Aku terkejut saat Albert menarikku keluar dari kamar Abraham.
"Ap...."
"Kau harus mendapat hukuman," ucapnya sambil menyeringai.
Aku merasa bulu kudukku merinding melihatnya yang nampak menyeramkan.
Hari ini aku dikejutkan dengan undangan pernikahan yang diberikan Albert kepadaku. Aku menganga saat membaca nama pengantin. Aku menatap Albert yang tertawa melihatku kebingungan melihat undangan ditanganku.
"Serius ini."
"Ya, ketua maid-mu dan tuan Robert. Biarkan mereka bahagia, Sayang," ucap Albert.
Aku menatap kembali undangan yang aku pegang. Perlahan senyum muncul diwajahku. Aku sangat bahagia melihat mereka bisa meraih kebahagiaan. Albert merangkulku dan mengecup pelipisku dengan lembut. Rasanya hatiku lega saat mengetahui bukan hanya kami bertiga yang bahagia. Aku menatap Albert yang tersenyum manis kepadaku. Aku mengeluarkan sebuah amplop dari kantung bajuku. Aku menyerahkan amplop itu kepadanya. Dia mengernyit bingung dan langsung membuka amplop itu. Dia menatap kaget saat membaca surat itu. Dia menatapku dengan wajah yang tegang. Aku mengangguk untuk meyakinkannya. Bibirnya terbuka dan perlahan senyum muncul di wajahnya. Dia meraihku dalam pelukkannya.
"Oh, Tuhan aku sangat senang kau hamil, Sayang. Oh maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku untuk menunggu Abraham sampai berumur 5 tahun," ucapnya menyesal.
"Aku berubah pikiran dan aku pikir tidak masalah kalau kita memberi adik kepada Abraham," ucapku yang membuatnya semakin sumringah.
Aku terkekeh saat dia kembali memelukku dengan erat. Aku bahagia saat kami berujung dengan penuh kebahagiaan. Aku bersumpah tidak akan ada lagi tangis dan kesedihan di antara kami. Cukup sudah penderitaan yang kami alami. Mulai sekarang tidak akan ada lagi kesedihan itu. Hanya akan ada tawa di masa depan kami.
__ADS_1
The end