
"Aku mengunjungi Ana," ucap Albert lembut.
Albert berjalan ke arah Clara. Albert melingkarkan tangannya di pinggang Clara. Aku baru menyadari kalau Albert dan Clara bersekongkol.
"Ayo kita keluar," ucap Clara.
Albert masih menatapku yang menatap mereka dengan tatapan waspada. Aku harus waspada karna Albert sudah kembali. Aku membenci hidupku yang di penuhi ketakutan. Aku membenci hidupku yang tidak pernah berakhir dengan bahagia. Aku benar-benar tidak sanggup lagi untuk hidup. Mengapa tuhan memberiku cobaan sebesar ini. Aku lelah dan menginginkan kematian. Mengapa tuhan mengambil orang-orang yang aku sayangi? Mengapa Tuhan memberiku cobaan yang begitu mengerikan?
***
Aku meminta ketua maid untuk menaruh penjaga di depan kamarku. Aku tahu Albert atau Clara bisa menyelinap masuk kekamarku. Mereka orang yang berbahaya bagiku.
"Nona apa anda yakin ingin belajar?" ucap ketua maid.
Aku menatapnya yang masih berdiri didepanku. Perlahan dia menaruh buku pelajaran di mejaku.
"Aku harus mengambil alih perusahaan, banyak nyawa yang bergantung padaku. Aku minta kepadamu tolong bantu aku. Aku mau menyingkirkan mereka berdua," ucapku.
"Nona saya akan membantu anda. Sebenarnya, Tuan Albert."
Ucapan ketua maid terhenti saat Albert masuk ke kamarku.
"Apa yang aku katakan tentang penjagaan di depan kamarku?" ucapku dingin.
"Maaf aku yang membuat penjagamu pingsan," ucap Albert sambil tersenyum.
Aku ingat senyum mengerikan itu. Aku bangun dan menghampiri ketua maid. Aku bersembunyi di belakangnya.
"Masih sama seperti terakhir kita bertemu. Kau begitu manis, sayang. Aku selalu menyukai sikapmu," ucap Albert kepadaku.
__ADS_1
Aku mengeratkan peganganku kepada ketua maid. Perlahan aku membawa ketua maid mendekati pintu keluar kamarku. Aku harus keluar dan mencari Clara. Aku tahu Clara sangat tertarik pada Albert. Dia akan membuat Albert tidak bisa mendekatiku.
"Mau kabur?" tanya Albert kepadaku.
Albert berjalan cepat dan menarikku ke dalam pelukkannya. Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan diri, namun gagal. Aku melihat ketua maid keluar dari kamarku.
"Ketua maid!" bentakku.
"Wah sudah banyak kemajuan ya? Kau sudah lebih banyak bicara dan bisa membentak. Ternyata tidak hanya tubuhmu yang mengalami perubahan," ucap Albert ditelingaku.
Alarm dikepalaku berbunyi dan itu menandakan aku harus segera menjauh dari Albert. Aku berusaha mendorong Albert dengan keras. Albert terjatuh di lantai, namun dia menarikku hingga aku juga terjatuh di atas tubuhnya.
"Kau suka di atas ternyata, aku juga sangat menyukainya saat kau ada diatasku. itu terlihat seksi," ucap Albert dengan seringainya.
Aku langsung bangun dari tempatku. Saat aku mau beranjak dari sini, Albert menahan tanganku. Aku menangkis tangannya, namun dengan sigap Albert memutar tubuhku dan mengunci tanganku di belakang punggungku. Dia memaksaku berjalan mendekati meja belajarku. Dia memaksaku untuk menungging. Aku bisa merasakan tubuhnya menekanku semakin menghimpit meja.
"Aku ingin sekali bermain denganmu di meja ini," ucap Albert ditelingaku.
"Memohonlah," jawabnya cepat.
"Aku mohon," ucapku lirih karna punggungku terasa sakit sekali.
Jujur memang punggungku belum sembuh. Itulah mengapa rasanya sulit sekali bernafas saat Albert menghimpitku. Aku terjatuh di lantai menahan sakit dipunggungku. Tiba - tiba Albert merobek bagian belakang dress putihku dengan gunting. Aku yang terkejut berusaha menutupi dadaku dan berusaha berbalik agar Albert tidak melihat punggung telanjangku.
"Siapa?" ucapnya dingin.
Aku berusaha mundur, namun Albert menahan kakiku.
"Siapa yang melakukan itu kepadamu?" ucapnya dengan nada yang mengerikan.
__ADS_1
Keringat dingin mulai membasahiku. Aku masih menatapnya was - was. Aku takut sekali saat ini. Albert dengan lembut membantuku berdiri. Dia membantuku berjalan ke tempat tidurku.
"Jangan sentuh aku," ucapku dingin.
Albert mengeluarkan ponselnya dan menelfon seseorang. Dia menggenggam tanganku erat. Dia tidak membiarkanku lepas.
"Katakan kepadaku, siapa yang melakukan ini?" ucap Albert lembut.
Albert menyentuh pipiku, aku bergetar merasakan belaiannya di pipiku.
"Aku mohon jangan sentuh aku," ucapku lirih.
Aku takut pada sentuhannya. Aku takut padanya yang terobsesi kepadaku. Aku berusaha berontak darinya. Sebuah ingatan di masalalu saat aku bersamanya kembali berputar.
"Aku mohon ... jangan sentuh aku," ucapku lirih.
Air mata menetes dari mataku. Aku menunduk takut saat dia menangkup wajahku dan memaksaku melihatnya. Aku melihatnya menatapku dengan lembut, tapi itu tidak menghilangkan rasa takutku kepadanya. Aku menggeleng kepala berusaha melepaskan diri. Albert menarikku dalam pelukkannya. Dia tidak membiarkanku lepas dari pelukkannya.
"Tidak, kau milikku. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi," ucapnya parau.
Entah mengapa aku merasa dia menangis. Aku hanya terdiam di dalam pelukkannya. Aku juga tidak mengerti mengapa aku merasa kesedihan dan terlindungi saat ini. Padahal aku selalu membenci sentuhannya.
Albert tidak mengindahkan permintaanku untuk tidak mengobatiku. Dia memaksa membalikkan tubuhku. Dia mengikat tanganku di kepala tempat tidurku. Aku berusaha berontak saat dia merobek dress-ku semakin lebar. Aku terpekik saat dia menyentuh punggungku yang membiru. Aku merasakan napasnya di kulit telanjang punggungku. Aku semakin panik saat menyadari dia mengecup punggungku. Suara ketukan membuatnya berhenti mengecupku. Albert menutup tubuhku dengan selimut.
"TOLONG!!!" teriakku saat Albert membuka pintu.
Aku menarik tanganku untuk melepaskan diri. Aku tersentak saat merasakan seseorang duduk didekatku.
"Aku akan mengobatimu," ucap Albert lembut.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku!" bentakku saat merasa dia mau kembali menyentuhku.
Albert menusuk lenganku dengan sebuah suntikkan. Perlahan aku kehilangan kesadaran.