
"Aku benar-benar bodoh sepertinya hingga tidak menyadari itu semua. Untung kau menasehatiku. Sepertinya aku perlu mencari calon istri sepertimu atau kita menikah saja?" ucap Andrew sambil tersenyum lebar.
Aku hanya menggeleng menatapnya yang seperti anak kecil.
***
Andrew memperlihatkan kemajuannya di bawah bimbinganku. Dia nampak berbeda dari sebelumnya yang nampak kaku. Aku benar menilai orang. Dia memiliki karisma yang bisa membuatnya lebih gampang untuk maju. Aku melihat beberapa pemegang sahamku yang awalnya nampak meremehkan Andrew sekarang memuja Andrew. Aku mendengar kisah Andrew yang menyedihkan setelah kedua orang tuanya meninggal. Dia yang notabennya sangat pemula dalam mengurus bisnis harus menangung beban saat kedua orang tuanya meninggal. Dia harus membuat perusahaannya bangkit kembali setelah di landa krisis. Aku melihat perubahan besar terjadi pada Andrew dan perusahaannya. Banyak orang yang berbondong-bondong membeli saham atau mengajukan kerja sama diperusahaannya.
"Kau tadi tidak mengalahkan?" ucap Andrew.
"Kau tahu aku. Aku bukan orang yang suka kalah," ucapku membohonginya.
Aku sengaja mengalah untuk membuat Andrew lebih kuat lagi. Lagipula aku tidak ingin menambah pekerjaanku yang masih menumpuk.
"Iya sih, tapi tumben kau kalah?" tanyanya dengan polos.
"Kau hanya sedang beruntung saja," ucapku mengejeknya.
"Tapi menyenangkan juga bisa mengalahkanmu," ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Lain kali kau tidak akan mengalahkanku," ucapku.
"Aku yakin aku bisa," ucapnya.
"Jangan bermimpi."
"Bagaimana kalau kita taruhan?" ucapnya yang membuatku mengerutkan kening.
"Kalau kau kalah maka kau harus mau berkencan denganku. Tapi kalau aku yang kalau maka aku akan menurutimu," ucapnya.
Aku terdiam mendengar permintaanya. Aku mengetuk - ngetuk mejaku dengan jariku. Andrew masih menunggu keputusanku.
__ADS_1
"Baiklah?" ucapku tanpa sadar.
Aku mengerutkan kening saat mendengar keputusanku sendiri. Andrew nampak sangat senang dengan jawabanku.
***
Aku tersenyum saat melihat wajah cemberut Andrew yang baru saja kalah dariku. Aku menggeleng kepala melihatnya merajuk karna kesal.
"Ayolah semua orang tahu kau butuh 1000 tahun untuk bisa mengalahkan gadis kecil sepertiku. Jangan berharap banyak dan jangan terlalu memfosir tenagamu. Itu sia-sia, Paman," ucapku dengan nada mengejek.
Andrew mengendus kesal kepadaku.
"Aku yakin suatu saat nanti aku bisa mengalahkanmu. Aku yakin bisa berkencan denganmu suatu saat nanti," ucapnya penuh keyakinan.
Aku memutar mataku malas mendengar keinginannya.
"Ya, mungkin sampai menjadi kakek tua. Dasar tukang khayal," ucapku mengejeknya.
Andrew merengut kesal dan aku tertawa melihat wajahnya yang aneh.
"Aku sudah bilang."
"Tidak, aku tidak akan bisa melakukan permintaanmu. Aku sudah berjanji bukan? Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri dan takkan aku biarkan kau terluka lagi. Tolong tatap dan lihat aku. Aku mencintaimu hingga ingin mati rasanya. Tolong balas perasaanku dan biarkan aku memilikimu," ucapnya lirih.
"Aku tidak membutuhkan siapapun. Aku sudah terlalu biasa menghadapi semua luka itu. Jadi mungkin tidak akan masalah bila aku terluka lagi. Pergi dan lupakan semua yang kau rasakan. Cari wanita yang layak," ucapku tanpa menoleh kepadanya.
Aku melepaskan pelukkannya dengan paksa dan berjalan memasuki kamarku. Aku membanting pintu kamarku dan menguncinya agar Albert tidak bisa masuk. Aku tahu dia orang nekat. Aku yakin dia akan memaksaku untuk menjadi miliknya, namun itu takkan bisa dia lakukan kepadaku.
Keesokkannya aku keluar dari kamar sambil menerima telfon dari rekan kerjaku. Aku menatap jam tanganku dan mempercepat jalanku. Tanpa aku sadari ada seseorang yang mengikutiku. Sampai di tangga aku merasa ada yang mendorongku hingga aku terjatuh dari tangga. Aku merasa kepalaku berdenyut saat aku mendarat di lantai 1. Aku mengerang kesakitan saat mau menggerakkan tanganku. Aku mendengar suara rekan kerjaku yang terus memanggilku. Aku menatap langit-langit rumah. Aku melihat Clara yang mendekat dengan senyum sinisnya. Dengan tega dia menendang perutku beberapa kali hingga aku pingsan.
***
__ADS_1
Aku membuka mata dan menatap sekelilingku. Aku berada di rumah sakit. Aku melihat ketua maid menatapku dengan cemas.
" Anda baik-baik saja?" ucapnya.
"Ya, apa kau yang membawaku ke sini?" tanyaku.
"Iya, Nona, saya tadi bersam-"
Aku mendengar suara pintu yang terbuka. Aku melihat Albert yang baru saja datang. Dia langsung menghambur ke arahku.
"Kau baik-baik saja? Apa yang sakit? Apa kepalamu sakit? Apa tangan atau kakimu sakit? Kau mau makan atau mi-"
"Berhenti bicara! Kau membuatku semakin pusing. Lebih baik kau pergi dari sini! Ketua maid aku harus keluar hari ini. Aku tidak mau berlama-lama di sini. Aku baik-baik aja," ucapku.
"Tidak, kau akan tetap di sini suka atau tidak. Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari sini. Kau sakit dan butuh perawatan dokter. Kepalamu baru saja di jahit. Kaki dan tanganmu masih patah. Kau perlu istirahat di sini. Aku tidak perduli kau suka atau tidak. Jangan berani-berani kabur karna aku akan di sini sampai kau bisa pulang. Aku menyediakan penjaga di depan kamarmu. Hanya orang-orang yang aku izinkan saja yang boleh masuk," ucap Albert dingin.
"Apa yang kau maksud dengan membiarkan Clara menjengukku? Asal kau tahu dia penyebab ini semua. Aku mau pulang dan menghajar pelacurmu itu," ucapku tak kalah dingin.
"Sedikit saja kau bergerak, aku akan menikahimu saat itu juga. Aku akan mengikatmu diranjangku dan takkan aku biarkan kau keluar dari kamar. Aku tidak pernah menginkari janjiku, Sayang," ucapnya penuh ancaman.
"Oh ya? Kau melanggar janjimu kepadaku. Aku memintamu untuk tidak menyentuhku!" ucapku geram.
"Aku tidak pernah bilang menyetujui permintaanmu yang itu. Bukankah aku sudah bilang tadi malam? Aku tidak akan bisa mewujudkan permintaanmu itu, karna aku menginginkanmu. Jangan menantangku, karna aku tidak perduli ada orang lain di sini atau tidak. Aku tidak perduli kaki dan tanganmu patah, karna aku akan tetap memasukimu dan membuatmu benggeliat menikmati pertubuhan kita, Sayang," ucapnya penuh ancaman.
Aku mengeram kesal dan memilih diam untuk menurunkan emosiku. Rasanya aku ingin merobek mulutnya dan menggunting lidahnya yang menjijikan itu. Aku benci hidup dalam kekangannya.
***
Berkali-kali aku meminta Albert untuk pergi dari kamar rawatku. Dia selalu menolak permintaanku.
"Kau perlu istirahat dan aku tidak nyaman berada di satu ruangan denganmu," ucapku frustasi.
__ADS_1
"Kau mengkhawatirkan ku?" ucapnya dengan mata berbinar.
"Aku tidak mengkhawatirkan mu, aku hanya tidak ingin kau melakukan sesuatu kepadaku. Kau butuh Clara sekarang! Aku tidak ingin ******* itu datang ke sini!" ucapku geram.