Hate His Touch

Hate His Touch
Surat Wasiat


__ADS_3

Aku terbangun saat merasakan cahaya matahari memasuki kamarku. Aku mencoba bangun dari posisiku yang tengkurap di atas tempat tidur. Aku melihat baju yang aku gunakan sudah berganti dengan dress tidurku. Aku menatap sekeliling dan tidak menemukan siapapun di kamarku. Aku bernapas lega saat tidak merasakan hal yang aneh. Aku ingat terakhir kalinya saat aku sadar, Albert menyentuhku. Aku merasa sangat jijik saat ingatan dia mengecup punggungku berputar di kepalaku. Aku tersentak saat mendengar suara ketukan pintu kamarku. Aku mencoba bangun, namun punggungku terasa sakit. Aku berjalan pelan ke arah pintu. Aku membuka sedikit pintu kamarku dan melihat Albert yang berdiri di depan pintuku. Aku mencoba mengatur napasku yang tersengal-sengal.


"Mau apa kau?" ucapku dingin.


"Aku mau membantumu membersihkan dirimu. Setelah itu kita sarapan bersama di bawah," ucap lembut Albert.


Aku menutup pintu kamarku dengan keras dan mengunci pintu kamarku. Aku terjatuh di lantai saat merasa tidak lagi kuat menahan sakit di punggungku.


"Mundur dari depan pintu. Aku akan mendobrak pintu ini," ucap Albert dari balik pintu kamarku.


"Jangan ... aku bisa mengurus diriku sendiri," ucapku disela rintihanku.


"Tidak kalau kau tidak mau turun untuk sarapan," ucap Albert tegas.


"Aku tidak akan beranjak dari pintu," ucapku tegas.


"Aku bisa memanjat jendelamu dan aku bisa berbuat apa saja nanti di dalam," ucapnya membalasku.


"Aku akan turun," ucapku pasrah.


"Oke, aku tunggu di sini. Dandan yang cantik," ucapnya lembut.


"Pergi ... duluan ... aku akan ... lama," ucapku lirih.


"Aku akan tetap menunggu selama apa pun," ucap Albert.


Aku menghembuskan napas lelah. Aku masih di posisi meringkuk di depan pintu. Rasanya sakit sekali punggungku.


"Tolong, panggil ketua maid," ucapku lirih.


"Ada apa? Apa punggungmu sakit? Oh yaampun aku lupa pasti kau kesakitan. Buka pintunya dan biarkan aku masuk," ucapnya.


"Tidak."


"Lakukan atau aku akan masuk lewat jendela," ucapnya dingin.

__ADS_1


Aku terpaksa bangkit dan membuka pintu. Aku terjatuh saat aku membuka pintu. Albert masuk dan langsung mengangkatku. Dia menaruhku di tempat tidur.


"Minum ini."


"Apa ini?" tanyaku saat melihat Albert mengeluarkan obat yang dia ambil dari laci di sebelah tempat tidurku.


"Penghilang rasa sakit, tadi malam aku menyuntikkan obat dipunggungmu untuk mengobati luka dalam dipunggungmu. Aku yakin punggungmu sakit sekali. Aku akan membawakan makanan ke sini. Tidurlah tengkurap agar punggungmu tidak tertekan," ucapnya lembut.


"Apa kau yang mengganti bajuku?" ucapku.


"Ya." Aku meremas sprai saat mendengar jawabannya.


"Pergilah," ucapku kepadanya setelah meminum obat yang dia berikan.


Rasa sakit di punggungku berangsur membaik. Albert langsung beranjak dari tempat tidurku.


***


Aku terbangun saat merasakan sentuhan ditubuhku. Aku melihat ketua maid sudah duduk di sebelahku.


"Siapa yang menyuruhmu membiarkan dia masuk ke kamar ini! Aku menyuruhmu untuk tidak membiarkan pengawal lengah. Aku melarang kalian membiarkan dia mendekatiku! Dia melecehkanku dan itu semua karna kalian!" bentakku.


"Kami harus meminta bantuan Tuan Albert. Tuan Albert akan melindungi anda dari Nona Clara. Tuan-"


"Dia tidak menolongku! Aku tidak butuh bantuan siapa pun! Dia yang harusnya aku hindari. Dia iblis! Dia sama seperti Clara! Lihatlah sekarang apa yang mereka lakukan! Aku yakin sebentar lagi mereka akan menghancurkan kita. Kalian sama sekali tidak membantuku!" ucapku geram.


"Nona, ikuti permainan Tuan Albert. Percayalah ini yang terbaik."


"Apa yang terbaik?" ucapku geram.


Aku menatap putus asa ke arah jendela kamarku.


"Bawakan aku laporan perusahaan dan ubah jendela itu dengan dinding kaca seperti yang ada di sebelahnya. Aku tidak ingin ada yang memanjat dan masuk ke kamarku," ucapku dingin.


"Nona, anda harus."

__ADS_1


"Lakukan dan jangan membantah!" bentakku.


Ketua maid meninggalkan nampan berisi makanan di meja. Dia langsung keluar dari kamarku. Aku berjalan ke meja belajarku. Ketua maid datang dengan beberapa map yang aku minta. Aku membaca dan meneliti map yang aku terima.


"Mau sampai kapan Clara tetap di rumah ini?" ucapku tanpa mengalihkan tatapanku.


"Tuan besar memasukkan namanya ke dalam surat wasiatnya. Sebenarnya ada 2 surat wasiat yang tuan buat dalam waktu bersamaan. Sebentar lagi pengacara tuan besar akan datang ke rumah ini untuk membacakan isi surat wasiat tuan besar," jawab ketua maid.


"Siapkan pakaian untuk besok aku akan pergi ke perusahaan,"


"Baik, Nona," jawab ketua maid.


Aku mengeram kesal karna daddy memasukan wanita ****** itu ke surat wasiatnya. Mengapa daddy menyiksaku sampai seperti ini. Apa salahku hingga dia melakukan ini?


Aku menatap pemandangan di ruang kerja daddy. Pengacara daddy membuka amplop pertama berisi surat wasiat daddy.


"Saya akan membacakan surat wasiat ini nona," ucap pengacara meminta persetujuanku.


Aku mengangguk sambil menatap pengacara itu. Clara nampak menatapku sinis. Dia duduk di sebelah Albert sambil bergelanyut manja kepada Albert. Aku tahu dia merasa tersinggung karna tuan Robert lebih memilih meminta persetujuanku dibandingkan dirinya. Aku sangat jijik melihat kelakuannya yang nampak murahan dengan menggelanyut kepada Albert. Aku membuang mukaku saat menyadari kalau Albert menatapku dengan intens.


"Surat wasiat ini saya buat tanpa tekanan dari siapapun. Saya Lucas Evelyn memberikan semua aset dan harta saya kepada nona Clara Dominic kekasih saya dan untuk putriku Anabella Curtina Evelyn akan saya serahkan ke panti asuhan yang sudah saya daftarkan untuknya yaitu panti asuhan brookly. Sekian surat wasiat saya yang di buat sesadar-sadarnya dan tanpa pengaruh dari siapapun, Lucas Evelyn."


"Bagus, kau dengar."


"Maaf, Nona Clara, masih ada 1 surat lagi yang di buat tuan Lucas. Biarkan saya membacanya," potong pengacara daddy.


Aku menutup mataku menahan sakit hatiku saat mendengar surat wasiat ayah.


"Surat wasiat yang saya buat ini di buat tanpa ada paksaan dari pihak mana pun. Saya Lucas Evelyn mewasiatkan seluruh aset dan perusahaan saya kepada Albert Alexander Francisco dengan syarat dia harus menikah dengan putri tunggal saya Anabella Curtina Evelyn. Bila terjadi penolakkan dari Anabella atau perceraian antara Albert dan Anabella maka Anabella akan saya masukkan ke panti rehabilitasi yang sudah saya daftarkan sebelum saya meninggal. Untuk Clara Dominic saya akan memberikan butik milik saya dan apartement pribadi saya. Sekian surat wasiat yang saya buat ini dengan sesadar-sadarnya dan tanpa pengaruh dari apa pun atau siapa pun, Lucas Evelyn."


"Apa?" ucapku lirih.


Aku mengambil surat wasiat yang ada di tangan pengacara. Aku melihat wasiat yang pertama dan yang kedua nampak berbeda. Aku menatap pengacara yang menatapku.


"Maaf sebelumnya, bisakah Nona Clara dan Tuan Albert meninggalkan kami berdua? Ada surat yang harus nona Anabella sendiri yang membacanya dan sesuai permintaan tuan besar hanya boleh nona Anabella yang tahu isinya," ucap pengacara itu menahanku saat aku mau melemparkan protes kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2