
Aku duduk di tempat yang jauh dari Albert. Aku masih takut dengan apa yang dia lakukan kepadaku.
"Mengapa kau duduk di sana?" ucap Albert menatapku intens.
Aku hanya menunduk dan mulai pindah duduk didekatnya. Albert tersenyum melihatku yang sudah pindah. Aku berusaha untuk menahan air mataku. Aku takut dan tertekan berada didekatnya. Aku merasa ada yang menyentuh tanganku. Aku tersentak dan menarik tanganku kasar. Aku melihat ke arah Albert yang terdiam melihat penolakkanku. Aku menunduk takut melihat wajahnya yang nampak sangat marah.
"Aku akan makan di taman."
"Tetap duduk di sana," ucapnya dingin.
Aku menunduk takut mendengar suaranya. Aku masih merasakan tatapan tajamnya kepadaku.
"Makanlah," ucapnya lembut.
Aku menatap makananku tanpa minat. Perlahan aku mulai memakan makananku. Aku hanya ingin secepatnya pergi dari sini. Aku juga tidak ingin membuat Albert mengamuk dan menyeretku ke kamar. Dia terus mengamatiku tanpa bersuara sedikitpun. Aku nampak seperti tahanan di rumahku sendiri.
Aku bernafas lega saat sudah sampai di kantor. Rasanya aku benar - benar tertekan berada di rumah. Aku takut Albert melakukan hal yang tidak aku inginkan. Aku berjengit kaget saat mendengar ketukan di pintu.
"Masuk," ucapku tenang.
Aku mengelus dadaku yang berdebar karna terkejut mendengar ketukan pintu.
__ADS_1
"Permisi, Nona. Di luar ada Tuan Robert," ucap sekretarisku.
Aku mengangguk menyuruhnya mempersilahkan masuk tuan Robert. Aku menatap datar Tuan Robert yang tersenyum melihatku.
"Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat," ucap tuan Robert.
"Aku tidak pernah baik tuan. Aku lelah dan sudah tidak kuat lagi. Aku butuh istirahat sejenak dari semua. Kapan bukti itu ditemukan?" ucapku putus asa.
Aku berusaha menahan air mataku yang hampir menetes di pelupuk mataku.
"Aku mendapatkan buktinya," ucap tuan Robert.
Aku mendesah saat mendengar ucapan tuan Robert. Ada perasaan lega namun ada juga perasaan sedih. Ini artinya aku akan segera di rehabilitasi, namun aku akan kehilangan Andrew.
"Apa yang anda dapatkan?" tanyaku.
Tuan Robert mengeluarkan map yang dia bawa. Aku membuka map itu dan menemukan fakta bahwa memang Clara membunuh daddy. Aku meneteskan air mata saat mengingat betapa daddy mencintai Clara. Mungkin aku tidak akan terlalu sedih saat dia mengkhianati daddy, tapi dengan tega dia membunuh daddy yang lebih mencintainya di banding aku. Aku ingat daddy selalu membela Clara apapun yang Clara lakukan selalu benar. Bahkan daddy rela menyakiti putri tunggalnya demi Clara. Mengapa dunia begitu kejam kepada keluargaku? Mengapa tuhan menakdirkan kami seperti ini? Aku masih menatap kosong ke arah foto Clara yang menyuap supir pribadi daddy untuk mememutuskan tali rem. Aku tertawa lirih sambil membayangkan kekecewaan daddy kepada Clara bila dia masih hidup. Lihatlah dad bahkan wanita yang kau puja lebih memilih hartamu dari pada cintamu.
"Supir daddy-mu masih hidup karna saat itu dia sempat keluar sebelum mobil masuk jurang." Aku menutup mataku saat mendengar fakta yang disebutkan tuan Robert. Tubuhku gemetar menahan amarah. Aku menggempalkan tanganku hingga buku-buku tanganku memutih. Aku mengetahui kebaikan keluargaku kepada semua pekerja yang melayani kami. Semudah itukah mereka menghianati kami yang sudah sangat baik kepada mereka hanya demi uang.
"Kau baik-baik saja?" tanya tuan Robert menatapmu khawatir.
__ADS_1
Aku bangkit dari tempatku dan berusaha menarik nafas berat. Rasanya seperti jiwaku di tarik paksa. Untuk bernafas saja rasanya sangat sulit hingga aku harus memukul dadaku.
"Lanjutkan," ucapku dingin.
Aku melihat tuan Robert nampak ragu mengatakan informasi selanjutnya. Perlahan dia memberikan sebuah amplop coklat dan menyerahkannya kepadaku. Aku membuka amplop itu dan terkejut melihat foto yang berada di dalam amplop. Aku menatap tuan Robert yang mengangguk meyakinkanku. Aku tertawa miris melihat fakta yang lebih menyakitkan. Hancur sudah pertahananku. Aku mengeram marah sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku. Rasanya beban yang aku rasa terlalu berat. Aku lelah dengan semua kenyataan yang bahkan tidak bisa membuatku merasa lebih baik. Aku merasa semakin buruk. Beban yang aku tanggung begitu berat hingga aku tidak sanggup untuk mempertahankan air mataku.
"Ya, dia adik tiri ibumu. Clara Dominic anak haram dari kakekmu dengan Rena Dominic. Saat itu kakekmu berselingkuh dengan sekertarisnya yaitu Rene Dominic selama 3 tahun dan saat Rene hamil kakekmu meninggalkan Rene karna nenekmu mengetahui hubungan mereka. Rene dicampakkan begitu saja oleh kakekmu. Hidupnya begitu sulit selama dia mengandung.
Saat dia melahirkan Clara, Rene meninggalkan Clara di depan pagar rumah kakekmu dan akhirnya Clara di asuh oleh Kakekmu. Saat itu nenekmu menolak menerima Clara. Hanya kakek dan ibumu yang menerimanya. Saat itu ibumu yang baru berumur 5 tahun sangat menyayangi Clara seperti adiknya sendiri. Namun saat Clara berumur 5 tahun, nenekmu membuang Clara ke panti asuhan brookly. Kakekmu marah, namun tidak bisa melakukan apapun. Clara menyimpan dendam kepada keluargamu sejak kecil dan kecelakaan yang menewaskan ibumu juga masuk dalam rencana Clara. Dia yang membayar supir yang juga membunuh ayahmu untuk merusak airbag dan rem di mobil ayahmu," ucap tuan Robert.
Aku membelalakkan mata mendengar semua cerita tuan Robert. Aku menatap foto tua yang menampakkan 2 gadis kecil yang sedang bermain dengan seorang pria yang tampan.
Aku yakin gadis yang terlihat lebih dewasa adalah mommy dan gadis kecil yang memakai pita pink adalah clara. Aku juga mengenali wajah pria itu yaitu kakek. Air mata sudah membasahi pipiku. Aku berusaha mengatur napasku yang terasa sesak.
"Apa Albert terlibat?" tanyaku.
"Albert sama sekali tidak terlibat. Dia bahkan yang mencari semua informasi ini untukmu. Selama ini dia mendekati Clara demi mendapatkan bukti kejahatan Clara. Dia menggoda Clara agar tidak menyiksamu lebih sering dan membiarkanmu menggantikan daddy-mu," ucap tuan Robert.
Aku sadar kalau selama ini aku salah menilai Albert. Aku selalu menuduhnya bersengkongkol dengan Clara untuk menghancurkanku. Tanpa sadar aku sudah menjadi wanita jahat yang tidak tahu terima kasih. Aku memejamkan mata sambil memukul dadaku yang terasa semakin sesak.
Apa salah mommy hingga dia tega melakukan itu? Bahkan dari bukti yang terkuak dulu mommy sangat menyayangi Clara. Itu semua terlihat dari foto-foto tua yang ada dihadapanku yang menampakkan sosok mommy yang sedang Merangkul sambil tertawa bersama Clara.
__ADS_1
Aku menghapus kasar air mataku. Aku tidak tahu ternyata Clara orang yang sangat menjijikkan. Aku jijik dengan sikapnya yang tidak tahu terima kasih kepada mommy. Dengan teganya dia merebut suami kakak tirinya. Aku menatap foto mommy yang terpajang di salah satu dinding ruanganku. Aku merasakan sakit yang mommy rasakan. Aku tahu mommy sakit saat melihat daddy melupakannya.