
Albert menyodorkan sebuah kotak hitam kepadaku. Aku mendorong kotak itu sambil menggeleng kepala.
"Terima lah," ucapnya.
"Tidak, aku tidak mau menerima itu. Aku hanya ingin kau membiarkanku bekerja dan pulang," ucapku dengan tatapan kosong.
Aku melihat Albert yang nampak menegang mendengar permintaanku.
"Setidaknya sampai aku membereskan Clara," ucapku tanpa memperdulikan Albert.
"Beri aku kesempatan terakhir kalinya sebelum kau benar-benar mengambilku. Aku hanya ingin merasakan kebahagiaan walau hanya sesaat," ucapku.
Air mata menetes di pipiku. Aku bergetar menahan isak tangisku. Aku mendengar Albert membuang napas lelahnya.
"Baiklah," ucapnya tanpa menatapku.
"Terima kasih," ucapku.
Aku berjalan menuju ruanganku. Aku menatap ketua maid yang masuk ke ruanganku dengan membawa amplop coklat. Dia memberikanku amplop yang dia bawa tanpa bicara.
"Apa tidak ada niatan kau mencariku saat-"
"Saya tahu anda ada di mana. Saya tahu apa yang tuan Albert lakukan. Saya rasa itu yang terbaik untuk anda. Hanya tuan Albert yang bisa membantu anda," ucap ketua maid tenang.
"Aku di perk*sa dan itu yang kau bilang lebih baik? Aku kehilangan harta yang selama ini aku jaga. Aku kehilangan itu semua karna kau. Aku sungguh sangat membencimu. Lebih baik kau tinggalkan aku. Kau hanya bisa menambah luka yang selama ini aku rasakan," ucapku marah.
"Sebelum saya pergi, bukalah amplop itu dan saya harap anda bisa melihat betapa bodohnya anda selama ini. Setelah saya memastikan semua berjalan dengan baik, saya akan pergi. Saya tidak akan berada di sisi anda lagi," ucapnya lembut.
Aku membuka kasar amplop yang ada dimejaku. Aku menatap foto-foto yang ada didepanku. Aku meneliti setiap foto yang menggambarkan sosok pria yang selama ini aku kenal. Pria itu nampak sedang berbincang dengan Clara. Pria itu bahkan juga bercumbu dengan Clara. Aku meneteskan air mata saat rasa sakit yang menghancurkan hatiku mulai menyerangku. Pria itu adalah sosok yang selama ini aku cintai. Dia Andrew, pria yang berhasil mengambil hatiku.
__ADS_1
"Apa masih belum puas dengan gambar itu? Mari ikut saya," ucap ketua maid.
Aku menatap ketua maid yang juga menatapku. Perlahan aku bangkit dan berusaha berjalan mengikutinya. Ketua maid membukakan pintu mobil untukku. Dengan ragu aku memasuki mobil.
***
Ketua maid membawaku ke sebuah restoran. Aku mengikutinya hingga kami memasuki ruang VIP. Ketua maid buru-buru menarikku ke ruangan khusus pelayan di ruangan ini.
"Apa mereka akan sampai sebentar lagi?" ucap ketua maid kepada salah satu pelayan di sini.
Aku hanya diam menunggu apa yang ingin Ketua maid perlihatkan. Tidak lama kemudian Clara datang dan para pelayan menghidangkan minuman untuknya. Sekitar 30 menit kemudian Andrew datang. Aku menatap kosong ke arah mereka yang sedang bercumbu.
"Aku mencintaimu," ucap Clara.
Aku melihat senyum itu saat mendengar kata cinta dari Clara. Andrew membelai lembut pipi Clara. Perlahan aku keluar dari tempat persembunyianku.
"Kalian berhasil ... kalian hebat. Aku kagum kepada kemampuan kalian," ucapku.
Aku menatap Andrew yang mulai bangkit berdiri dari tempatnya. Aku menghapus air mataku.
"Terima kasih atas segalanya ... terima kasih karna memberiku kesempatan ... untuk bahagia ... terima kasih sudah memberiku kesempatan ... mencintaimu ... terima kasih ... sudah menghancurkanku... aku bisa tenang meninggalkanmu kalau seperti ini ... maaf kalau ... selama ini aku ... menyusahkanmu," ucapku sambil tersenyum lembut kepada mereka.
Aku melihat penyesalan di mata Andrew. Aku mengalihkan tatapanku kepada Clara.
"Bibi, aku tahu semua," ucapkku yang membuat Clara semakin terkejut dengan panggilanku.
Perlahan aku bersimpuh di hadapannya. Aku masih memasang senyumku walaupun air mata mengalir di pipiku.
"Maafkan keluargaku, maafkan kakekku yang tidak mampu menjaga ibumu dan kau dengan baik ... maafkan kesalahan nenekku yang membuangmu ... maafkan ibuku yang tidak mampu mencarimu atau mencegah nenek melakukan itu kepadamu. Maafkan mereka ... satu hal yang harus kau tahu, selama ini mommy mencarimu." Ucapku lirih.
__ADS_1
"Tidak, kalian semua jahat dan kejam. Kalian pantas mendapatkan semua itu," ucap Clara marah.
Perlahan aku bangkit dari tempatku. Aku menatap sendu ke arahnya. Dia nampak marah menatapku.
"Temui aku di rumah.. aku akan memberitahumu semua yang aku dapatkan ... ini tentang keluarga kita," ucapku lirih.
Aku menatap Andrew untuk terakhir kalinya. Aku mencoba tersenyum lirih sebelum pergi.
"Aku mencintaimu," ucapku sambil berjalan pergi.
Rasa sakit yang menjalar dihatiku perlahan menguasaiku. Aku berusaha untuk tetap berjalan dengan tertatih. Rasanya seperti jiwamu di paksa keluar dari ragamu. Aku menangis terisak saat memasuki mobil. Aku memukul dadaku yang terasa sangat sakit. Ketua maid berusaha menghentikanku untuk memukul diriku.
"Ini terlalu sakit ... aku tidak bisa bertahan ... ini terlalu menyiksaku," ucapku di sela isak tangisku.
Ketua maid meraihku dalam pelukkannya. Dia berusaha menenangkanku dengan mengusap punggungku yang bergetar.
"Sedikit lagi ... anda akan tenang bersama tuan Albert," ucap ketua maid.
Aku menatap kosong ke arah buku diary mommy. Aku sudah membaca buku ini saat tuan Robert menyerahkan ini kepadaku. Mommy meminta tuan Robert menyimpan buku Diarynya yang sudah habis dia tulis. Mommy meminta tuan Robert hanya memberikan buku ini kepadaku. Awalnya aku tersenyum saat membaca kisah cinta mommy dan daddy. Aku merasa mommy sangat mencintai daddy, namun aku terdiam saat membaca tulisan mommy seminggu sebelum mereka mengalami kecelakaan. Mommy menceritakan kalau dia menemukan bekas lipstik dan mencium parfum wanita di kemeja daddy. Dia juga mendapat foto tentang perselingkuhan daddy.
Tidak ada foto yang mommy dapatkan seperti yang dia tulis di diary karna mommy membakarnya. Entah siapa wanita itu, namun aku terluka saat membaca penuturan mommy yang merasa hancur saat dia mengetahui apa yang dilakukan daddy. Saat itu mommy dan daddy nampak baik-baik saja di depanku. Aku ingat bagaimana sedihnya daddy yang mengetahui mommy dan adikku meninggal saat kecelakaan itu. Aku menangis merasakan sakit yang mommy rasakan. Luka dihatiku bertambah setelah aku membaca diary mommy. Yang paling membuatku semakin terluka adalah saat aku mengetahui fakta bahwa mommy mencari Clara hingga bertahun-tahun. Dia terus mencari hingga dia di bunuh oleh adik yang selama ini dia cari.
"Mommy ... maafkan aku yang tidak bisa melindungimu. Maafkan aku yang menyusahkanmu ... maafkan aku karna kau tidak bisa berbagi rasa sakitmu saat itu ... aku mencintaimu." Ucapku di sela tangisku.
***
Aku memberikan buku usang yang aku bawa dari kamarku kepada Clara. Dia membaca setiap lembar buku itu. Aku melihatnya menangis saat membaca setengah bukunya. Dia menatapku dengan tatapan takjub. Aku tersenyum lemah sambil mengangguk. Dia kembali menunduk dan membaca setiap bait kalimat mommy. Aku menghela napas lelah saat merasa dadaku sesak. Aku menatap foto mommy yang terpajang di dinding. Aku berharap mommy bisa tenang di sana. Kalau kalian berpikir aku akan membunuh Clara, itu salah besar. Aku tidak akan melakukan itu karna dia adalah satu-satunya keluargaku saat ini.
Aku punya niat lain. Aku tidak akan memasukkanya ke penjara. Ada hukuman yang lebih menyakitkan dari itu semua. Membiarkannya tetap hidup dengan semua penyesalan. Dia tidak akan mendapat maaf dari ibuku. Dia tidak akan mendapat maaf dariku. Karna aku akan meninggalkannya dalam penyesalan yang akan membuatnya semakin hancur, namun aku lega karna keinginan mommy terkabul untuk menemukan adik tiri yang selama ini dia cari.
__ADS_1