Hate His Touch

Hate His Touch
Panik


__ADS_3

Dia kembali melakukan hal menjijikkan yang membuatku semakin ternoda dan menjijikkan.


***


Aku hanya bisa menangis saat Albert selesai menguasaiku. Aku meraih selimut untuk menutupi tubuhku yang polos tanpa sedikitpun baju menutupi tubuhku. Tubuhku bergetar merasakan sakit yang bertubi-tubi.


"Aku mohon, cabut nyawaku, Tuhan. Harus dengan apa aku memohon kepadamu? Mengapa kau membiarkanku seperti ini? Haruskah aku bunuh diri dan mendapat hukumanmu di alam baka karna aku memilih bunuh diri?" lirihku.


Dengan tertatih aku berusaha bangkit dari tempatku menuju kamar mandi. Aku berteriak kesal saat kakiku terlalu lemah untuk berjalan.


"Aku mohon cabut nyawaku...." Ucapku di sela tangisku.


Aku menatap kosong ke arah jendela yang di teralis oleh Albert. Air mata masih mengalir deras dipipiku. Aku ingin keluar dari sini. Aku benar-benar tidak sanggup tinggal di sini.


"Mengapa, Dad? Mengapa sampai kau kehilangan nyawapun kau masih bisa menyiksaku? Mengapa kau lakukan ini?" tanyaku pada angin yang berhembus.


Aku masih diam menatap kosong ke arah jendela. Aku mendengar suara pintu yang terbuka. Aku mendengar suara langkah yang mendekatiku.


"Nona, anda harus makan," ucap salah satu maid yang mengantarkan makanan.


Selintas ide menghampiri otakku. Aku melihat maid itu yang berdiri didekatku.


"Bisa bantu aku ke kamar mandi? Kakiku terlalu lemah untuk berjalan," ucapku kepada maid itu.


Maid itu langsung menyetujui permintaanku.


"Sebelumnya tolong siapkan air dulu. Aku ingin mandi lagi karna sepertinya tadi aku kurang bersih," ucapku.


"Baik, Nona," ucapnya.


Dia berjalan menjauh ke kamar mandi. Aku buru-buru mengambil wadah keramik dari nampan yang dia bawa tadi. Aku berjalan tanpa menimbulkan suara saat menghampirinya.


Aku melihatnya membelakangiku. Aku mendekat dan memukulnya hingga pingsan. Setelah memastikan dia tidak sadarkan diri, aku langsung membuka bajunya untuk aku ganti dengan bajuku.

__ADS_1


***


Aku merapihkan tempat tidur yang di tiduri maid itu sambil menggumam kata maaf untuk maid itu. Aku merapihkan pakaian maidku sambil membawa keranjang cucian yang sengaja aku masukkan beberapa baju yang tidak kotor untuk menutupi wajahku. Aku mengetuk pintu seperti yang di lakukan maid bila ingin keluar dari sini. Penjaga menatapku dari atas sampai bawah dan membiarkanku melewati mereka saat melihat seragam maid yang aku gunakan. Aku berjalan santai menuju dapur. Aku harus mencari sesuatu untuk menutupi wajahku agar aku bisa keluar tanpa di curigai. Aku melihat jaket tebal dan masker yang entah milik siapa di ruang tempat para maid menaruh pakaian kotor. Aku makai jaket itu dan masker untuk menutupi wajahku. Aku pura-pura batuk saat berjalan menuju pintu keluar.


"Mau ke mana?" ucap seorang penjaga.


"Aku harus ke dokter. Aku sudah izin kepada kepala maid," ucapku di sela batukku.


Penjaga itu mempercayai saat melihat baju maid yang sedikit terlihat dari jaketku yang tebal. Aku berjalan cepat melewati gerbang di depanku. Aku memanggil taksi dan segera masuk kedalamnya. Aku bernafas lega saat aku sudah berada di dalam taksi. Aku membuka masker dan jaketku.


"Anda ingin di antar kemana?" ucap supir taksi itu.


Aku menyebutkan alamat rumahku kepada supir taksi itu. Aku bernafas lega dan mulai merencanakan untuk kabur ke luar negri sesampainya di rumah. Aku tidak akan membiarkan Albert menemukanku. Aku akan pergi menghilang untuk saat ini.


Aku menatap ke jalanan yang kami lalui. Aku merasa aneh saat menyadari kalau kami hanya berputar-putar di tempat yang sama.


"Maaf, Tuan, mengapa kita masih di sini?" ucapku.


Aku mengangguk sambil menatapnya yang nampak familiar. Aku mencoba melihat wajahnya, namun terhalang oleh topi yang dia pakai. Aku mengabaikan kecurigaanku dan memilih menatap jalanan di luar. Perlahan aku merasa mataku berat. Aku memilih tidur sebentar untuk memulihkan tenagaku. Aku ingat kalau aku belum makan apa pun tadi.


***


Aku membuka mata dan menatap langit-langit yang nampak familiar. Aku mengernyit bingung melihat langit-langit putih. Aku melebarkan mata saat mengingat terakhir kali aku berada di dalam taksi menuju rumahku. Aku bangkit dengan tiba-tiba dan membuat kepalaku berdenyut. Aku memegang kepalaku sambil memejamkan mata.


Aku menatap sekeliling dan menemukan Albert yang sedang duduk menatapku dengan tajam. Aku melihatnya memakai pakaian aneh. Dia masih diam ditempatnya. Aku menggeleng kepala dan memukul tubuhku untuk menyadarkanku. Aku menjerit histeris saat menyadari ini semua bukan mimpi. Aku panik dan berlari ke arah pintu. Aku mencoba membuka pintu, namun terkunci. Aku menggedor pintu dengan keras agar ada yang mau membuka pintu. Aku melihat Albert mulai berjalan mendekatiku. Aku semakin bersemangat memukul pintu. Aku takut karna Albert semakin mendekat. Aku berjongkok di bawah menyembunyikan wajahku saat dia sudah di depanku.


"Aku mohon ... lepaskan aku ... aku mohon ... paling tidak bunuh aku saja


... aku mohon ... ambil nyawaku ... aku mohon," ucapku di sela tangisku.


Aku semakin panik saat merasakan sentuhan Albert. Aku berusaha menghindar darinya, namun Albert menahanku. Albert mencengkram wajahku dan memaksaku untuk menatapnya.


"Tidak, kau akan tetap hidup di sampingku. Sudah cukup main-mainnya. Jangan pernah kabur dariku karna kemanapun kau pergi pasti akan aku temukan. Kau tidak akan bisa pergi dariku, karna kau milikku. Hanya milikku dan selamanya akan begitu," ucapnya penuh penekanan.

__ADS_1


Aku menggeleng untuk melepas cengkramannya diwajahku. Albert menciumku dengan paksa. Aku memukul dadanya dengan keras agar dia melepaskanku. Dia melepaskan ciuman kami saat kami hampir kehabisan nafas. Aku masih berusaha mendorongnya menjauh, namun yang dia lakukan adalah memelukku dengan erat.


"Lepaskan aku!" ucapku.


Aku bisa merasakan bahunya bergetar. Aku merasakan bahuku basah. Aku berhenti memberontak saat merasa hatiku sakit menyadari Albert menangis. Tanganku terkulai lemas di sisi tubuhku. Aku menangis dalam diam dan membiarkan Albert memelukku dengan erat. Aku memejamkan mata sambil menggigit bibirku untuk menahan isak tangisku saat mendengar suara isak tangis Albert.


"Maaf ... maaf," ucapnya lirih.


Aku hanya diam mendengar kata-katanya.


***


Aku terbangun dalam dekapan Albert. Aku hanya diam dan tidak berusaha menyingkirkannya. Aku mendongak dan melihatnya yang tertidur. Aku melihat kerutan didahinya. Dia nampak kacau dengan wajah pucat dan kantung mata yang parah. Aku merasa nafasnya memburu dalam tidurnya. Dia mengeratkan pelukkannya padaku. Aku yang merasa semakin sesak mulai memekik. Albert tersadar dan bangun dari tidurnya. Dia menatapku khawatir.


"Maaf aku menyakitimu. Aku tidak sadar...." ucapnya penuh sesal.


Aku masih menatapnya yang nampak di banjiri peluh. Perlahan aku menyentuh dahinya dan merasa suhu tubuhnya meningkat.


"Kau demam," ucapku.


Entah mengapa tubuhku bergerak dengan sendirinya. Aku berjalan menuju kamar mandi dan mulai membasahi handuk dengan air dingin. Aku menaruh handuk basah itu di kening Albert. Aku berjalan menuju pintu keluar dan mencoba membuka pintu. Pintu ini masih terkunci.


"Ana kembali dan jangan berpikir kau bisa keluar. Aku masih...."


"Siapapun di balik pintu ini, tolong panggil dokter. Albert demam, aku mohon kepada kalian. Aku tidak akan kabur," ucapku memotong ucapan Albert.


Aku melihat pintu terbuka dan menampakkan pengawal Albert. Aku berjalan menuju Albert yang hampir turun dari tempat tidur dan memaksanya tetap berbaring. Aku panik melihat darah keluar dari hidungnya. Aku berlari menuju kamar mandi dan mengambil handuk bersih untuk membersihkan darah di hidungnya.


"Tolong panggil dokter sekarang," ucapku tanpa menoleh.


"Baik, Nona," ucap pengawal Albert.


Aku mengambil tisu di meja riasku dan menyumpal hidungnya dan membuatnya mendongak agar darah tidak keluar.

__ADS_1


__ADS_2