
Lucas mengepalkan tangannya untuk menahan dirinya agar tidak berlari menuju kamar putrinya.
"Semoga anda secepatnya masih di beri kesempatan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, Tuan. Saya harap anda tidak terlambat. Saya permisi," ucap ketua maid dingin.
Ketua maid melihat emosi Lucas. Dia tahu Lucas menyesal tapi cintanya kepada Clara terlalu besar hingga menutup hatinya dan matanya.
***
Keesokannya Lucas berangkat keluar kota untuk mengunjungi cabang perusahaannya. Lucas sempat menoleh ke arah jendela kamar Ana sebelum dia berangkat. Dia menemukan putrinya berdiri di sana sambil menatapnya. Setetes air mata mengalir dipipinya saat melihat putrinya yang semakin terlihat mengenaskan. Hatinya semakin sakit saat melihat senyum Ana. Lucas memalingkan wajahnya dan langsung masuk ke mobil. Lucas menghapus air matanya dengan kasar.
Dia sadar selama ini dia sudah sangat jahat kepada putrinya. Dia bahkan tidak pantas mendapatkan maaf dari Ana. Isak tangisnya menggema dimobilnya. Dia ingat saat dia menampar Ana di hari ulang tahunnya yang dia lupakan. Dia ingat saat dia membanting tubuh putri kecilnya tanpa ampun ke tanah.
"Maafkan daddy, Princess," ucap Lucas disela tangisnya.
***
Ana terjatuh di lantai saat mendengar berita yang disampaikan ketua maid. Dia bahkan tidak pernah percaya harus kembali ditinggalkan. Dia memukul dirinya dengan keras untuk menyadarkan dirinya dari mimpinya saat ini, namun rasa sakit semakin membuatnya gagal menahan tangisnya pecah.
"DADDY!!!!!"
__ADS_1
Ketua maid mendekati Ana dan menahan tangannya yang masih memukuli dirinya. Dia menyesal karna terlalu panik saat mendengar kecelakaan yang di alami tuan besar Evelyn. Berita yang dia dapatkan mobil yang di tumpangi tuannya masuk ke dalam jurang dan meledak. Tuan besar Evelyn meninggal di tempat. Ana masih berusaha melepaskan diri dari pelukkan ketua maid.
"Mengapa aku yang harus ditinggalkan?" tanyanya lirih.
"Tidak, Nona, anda punya kami. Kami tidak kan meninggalkan anda," ucap ketua maid.
Ketua maid berusaha menenangkan Ana dengan membelai lembut punggungnya.
***
Ana menangis di makam daddy-nya yang bersebelahan dengan makam mommy-nya. Dia tidak memperdulikan orang - orang yang menatapnya dengan tatapan kasihan.
"Aku mohon kembali, Daddy ... aku mohon kembali ... aku tidak ingin sendiri ... aku mohon ... pukul atau caci aku, Dad. Asal jangan pergi seperti ini ... aku mohon, Dad." Ucap Ana disela isak tangisnya.
***
Ana menolak diantarkan kekamarnya. Dia berjalan ke arah kamar daddy-nya. Sudah bertahun-tahun Ana tidak masuk ke kamar ini. Ana berjalan menuju walk in closet daddy-nya. Ana sempat terpaku melihat barang-barang Clara yang berada di walk in closet daddy-nya. Dengan kasar Ana melempar barang-barang Clara ke lantai. Clara yang baru saja masuk kekamarnya langsung menghentikan Ana yang membuang barang-barangnya. Dia menampar Ana berkali-kali dan menjambak rambut Ana.
"Dasar pel*cur kecil bodoh! Kau tahu itu barang-barang mahal!" ucap Clara sambil mendorong Ana ke dinding.
__ADS_1
Kepala Ana membentur dinding dengan keras hingga membuatnya pusing. Clara masih belum puas dan menarik rambut Ana kembali. Dia melempar Ana ke nakas di sebelah tempat tidur dan membuat Ana tidak sadarkan diri.
"KETUA MAID!!!" Clara berteriak dengan kasar.
Clara kesal karna ketua maid tidak juga muncul. Clara mencoba menghampiri ketua maid di bawah dan menemukan ketua maid sedang bersama pria tampan. Clara seketika menegang saat merasakan gairahnya mulai naik hanya dengan melihat pria itu menoleh ke arah Clara. Ketua maid menatap Clara dengan tatapan tajam. Clara berjalan menuju pria yang ada di hadapan ketua maid. Clara menduga pria ini adalah pria kaya. Clara bisa melihat semua yang melekat di tubuh pria ini bukan barang murahan.
"Ketua maid, bisa kau bereskan kamarku? Aku tadi melihat ada tikus kotor menjijikan di sana," ucap Clara menekan kata tikus kotor menjijikan dikalimatnya.
Ketua maid langsung pergi karna merasa ada firasat buruk. Dia takut terjadi sesuatu kepada Ana.
POV ANABELLA
Aku membuka mataku saat merasakan cahaya matahari mengusikku. Aku menoleh ke arah jendela kamarku. Aku menyentuh kepalaku yang terasa sakit.
"Kau sudah bangun?" ucap seseorang yang membuatku menegang.
Aku bangkit dari tempatku dan menarik selimut setinggi - tingginya untuk menutupi tubuhku. Ada seorang pria yang menatapku. Dia mendekat dan aku mundur menjauh darinya. Aku menatap sekelilingku, namun tidak menemukan siapapun dikamarku. Aku berusaha menahan sakit di kepalaku. Pria itu mengulurkan tangannya kearahku. Aku bangkit dari tempat tidur dengan tertatih. Aku menatapnya yang nampak terpaku melihatku bangkit.
"Kau melupakanku? Aku."
__ADS_1
"Albert, mengapa kau di sini?" ucap Clara yang tiba-tiba muncul.
Clara menatapku tajam seakan ingin membunuhku. Ada yang aneh di sini. Mengapa Clara bisa mengenal Albert?