
Aku membanting pintu kamarku saat aku masuk ke kamar dan menguncinya. Entah salah apa aku hingga aku harus hidup di tengah orang menjijikan seperti mereka. Aku mendesah lelah sambil menghapus air mata yang menetes dipipiku. Sebenarnya ada rasa sakit di sudut hatiku, namun aku mengabaikan rasa itu. Aku lelah harus hidup seperti ini. Mungkin satu - satunya jalan aku harus mengambil keputusan yang bisa membebaskanku dari ini semua. Mungkin dengan begitu aku juga bisa mengubur rasa sakit dihatiku yang semakin sulit aku tahan. Aku berusaha menghapus bayang mereka dari hidupku. Aku tidak mau terlarut dalam rasa sakit ini.
Aku berangkat pagi-pagi buta untuk menghindari Albert. Sebelum ke kantor aku memutuskan untuk pergi ke makam orang tuaku. Aku memberikan mawar merah kesukaan mommy. Aku meletakkan mawar indah itu dimakamnya. Aku tersenyum lirih ke arah mommy. Entah aku tidak tahu apa mommy bisa melihat apa yang daddy lakukan selama dia tidak ada. Aku merasa jantungku seakan di remas saat mengingat foto - foto kemesraan daddy dengan ******* itu. Aku menutup mataku menahan air mataku. Kebencian memenuhi rongga tubuhku. Aku sangat benci bila ada yang menyakiti mommy. Perlahan aku bangkit dan menghampiri makam daddy. Aku menatap makam itu penuh luka dan amarah. Aku meletakkan mawar hitam di makam daddy.
"Anda yang memutuskan hubungan kita, tapi mengapa kau menyebutku putri tunggalmu? Mengapa saat kematian menjemputmu kau masih sempat mengacuhkanku dan menyiksaku dengan wasiatmu? Aku tidak pernah berharap dan meminta menjadi anakmu. Aku juga tidak berharap mendapat sedikit saja hartamu. Kalau boleh aku jujur, aku lebih bahagia kalau kau membuangku dijalanan. Sampai semua terbongkar, aku akan bertahan menggantikanmu. Aku lebih memilih rehabilitasi dibandingkan harus hidup dengan iblis itu. Aku tidak mengharapkan persetujuanmu karna kau memang tidak pernah perduli dengan hidupku selama mommy meninggal, tuan Evelyn. Mulai sekarang aku akan menghapus namamu dari namaku. Aku harap kau tenang di sana," ucapku dingin dan langsung berjalan pergi.
Rintik hujan mulai turun seiring kepergianku. Rintik hujan itu bagaikan tangisan daddy yang mendengar keputusanku untuk menolak jalan hidup yang dia pilihkan untukku. Aku tidak perduli karna sudah cukup aku merasakan sakit yang dia berikan saat dia menghapus mommy dari hidupnya. Aku masih mengingat jelas makiannya dan keputusannya untuk menghapus namaku dari nama keluarganya. Aku menghapus air mataku kasar.
***
Aku semakin tenggelam dalam pekerjaanku. Ketua maid dan Tuan Robert nampak semakin khawatir melihatku yang semakin sibuk. Tuan Robert sebenarnya adalah sahabat daddy yang menyandang sebagai pengacara daddy. Selama ini dialah orang yang menjadi curahan hati daddy. Tuan Robert tidak nampak tua di usianya yang sudah 35 tahun. Dia nampak seperti pria berumur 25 tahun. Selama ini Tuan Robert berusaha menggantikan sosok daddyku, namun tidak jarang dia terlihat pucat saat melihatku marah.
"Selamat ulang tahun," ucap Tuan Robert membuyarkan lamunanku.
Aku menatapnya yang tersenyum lebar sambil membawa cake dan bungkusan besar. Aku masih menatapnya datar. Tuan Robert menaruh bungkusan itu di sofa dan menghampiriku sambil membawa cake yang nampak indah kearahku.
"Ayo buat permintaan dan tiup lilinnya," ucap lembut Tuan Robert.
Aku menerima cake itu dan mengambil lilin - lilin itu tanpa meniupnya. Aku memasukkan lilin itu ke dalam gelas berisi air putih.
"Aku sudah tidak melakukan itu, tuan. Terima kasih cake-nya," ucapku datar.
"Hey kau sekarang ulang tahun ke 17 tahun. Para gadis biasanya akan merayakan moment ini. Kau juga harus merayakan moment ini," ucap tuan Robert.
"Gadis-gadis itu berbeda denganku. Mereka tidak memiliki tanggung jawab apapun dipundaknya. Sedangkan aku, ratusan karyawan yang bergantung kepadaku. Mereka juga tidak mengalami hal mengerikan sepertiku. Mereka tidak merasakan rasanya di buang oleh ayah mereka sendiri demi ******* murahan. Lagi pula aku sudah berjanji tidak akan merayakan ini. Aku hanya berdoa semua permohonanku terkabul," ucapku.
__ADS_1
"Ana, maafkanlah daddy-mu. Dia tidak bermaksud."
"Aku tidak akan memaafkan orang yang sudah menyakiti mommy," ucapku memotong ucapan Tuan Robert.
"Baiklah aku menyerah, Memang apa yang kau inginkan? Mungkin aku bisa berikan," ucap Tuan Robert tulus.
Aku menoleh kearahnya sambil menatapnya kosong.
"Kematian," ucapku yang sukses membuatnya menegang.
Aku hanya bisa tersenyum sinis melihatnya yang memucat. Aku yakin dia tidak menyangka dengan jawabanku.
***
Aku pulang larut malam setelah menghabiskan waktu mengerjakan semua pekerjaanku. Aku berjalan pelan menuju taman dan melihat bunga mawar merah yang mulai tumbuh di tempat mawar merah kesayangan mommy. Aku tahu ketua maid tetap menanam mawar merah untukku. Aku hanya diam menatap mawar didepanku. Aku tersentak saat merasakan seseorang memelukku dari belakang.
Aku menghentak kasar tangannya, namun Albert mengunci kedua tanganku diperutku agar aku tidak bisa melepaskan diri. Albert mengecup lembut leherku.
"Lepas," ucapku dingin.
"Kau ingin hadiah apa?" tanya Albert.
Aku terdiam sebentar mendengar pertanyaan Albert. Albert yang menyadari diriku yang berhenti memberontak dalam pelukkannya memutar tubuhku hingga menghadapnya. Aku menunduk menatap sepatuku.
"Kau ingin hadiah dariku?" tanya Albert sekali lagi dengan antusias.
__ADS_1
"Kau ingin memberikannya?" tanyaku balik tanpa melihat kearahnya.
"Ya, sayang. Aku pasti akan memberikan apapun untukmu," ucap Albert dengan penuh semangat.
"Jangan sentuh aku, itu yang aku minta. Ini berlaku untuk selamanya," ucapku menatapnya yang menatapku dengan lembut.
Aku melihat raut wajahnya yang berubah lebih dingin saat mendengar permintaanku. Aku melepaskan diriku dari cengkramannya dan berjalan melewatinya.
"Satu lagi, enyahlah kau dari kehidupanku!" ucapku dingin.
***
Aku memasuki walk in closetku. Aku membuka lemari yang menyimpan baju - baju mommy. Perlahan aku masuk ke dalam lemari dan menutup pintu lemari. Inilah yang aku lakukan saat aku berulang tahun.
Aku selalu masuk ke lemari tempat penyimpanan baju mommy dan tidur di sana. Aku bisa merasakan mommy memelukku dengan menghirup aroma dari baju mommy. Perlahan aku mulai tertidur sambil tersenyum saat membayangkan mommy memelukku. Setetes air mata mulai menuruni pipiku, namun itu tidak membuatku membuka mata. Aku tidak ingin kehilangan moment ini.
"I miss you, Mom," lirihku.
Aku memang selalu melakukan ini saat aku berulang tahun. Hanya dengan begini aku merasakan kehadiran mommy.
Aku membuka mataku dengan perlahan. Lalu aku kembali menutup mataku untuk menyesuaikan penglihatanku. Aku merasa sangat nyaman saat ini. Mungkin aku masih berada di dalam alam mimpiku. Aku merasa seseorang mengeratkan pelukkannya ditubuhku. Aku bergerak semakin mendekat dan membenamkan wajahku di dada orang yang memelukku. Aku meremas baju yang digunakan orang yang memelukku. Aku terisak saat merasakan belaian dipunggungku. Isak tangisku semakin kencang saat aku mengingat hidupku yang dulu bersama mommy dan daddy.
"Mom ... dad," lirihku.
Aku masih memejamkan mata sambil menangis. Aku lelah hidup menderita seperti ini. Aku hanya ingin hidupku yang dulu atau kematian. Aku lelah harus menghadapi semua sendiri. Aku hanya ingin tetap bersama kedua orang tuaku. Aku hanya ingin dipelukkan mereka.
__ADS_1
***
Aku membuka mata dan tidak menemukan siapapun disebelahku. Aku menatap kosong ke arah sisi tempat tidurku yang nampak kosong. Entah siapa yang memindahkanku ke sini. Perlahan aku bangun dan menatap langit dari dinding kaca di kamarku. Perlahan aku bangkit dan memilih segera bersiap berangkat ke kantor.