Hate His Touch

Hate His Touch
Andrew Brown


__ADS_3

Ada rapat penting yang harus aku hadiri hari ini. Kalau boleh jujur hatiku terasa kosong, namun aku tidak bisa seperti ini. Aku memiliki beban tanggung jawab hingga semua kebenaran terungkap.


***


Aku menatap laporan yang aku terima. Aku hanya diam saat semua orang sibuk mencari perhatianku. Jujur aku bosan dan lelah. Rasanya aku ingin kabur saja dari sini. Tiba-tiba ada seseorang yang memasuki ruangan rapat. Aku menatap orang itu yang menjadi pusat perhatian kami semua. Dia nampak gugup mendapat sorotan dari kami. Dia mulai berjalan menuju bangkunya dan tiba - tiba dia terjatuh. Semua mendadak terkejut melihatnya terjatuh. Aku tertawa melihat orang itu yang masih dalam posisi tengkurap.


Entah mengapa aku merasa orang itu lucu sekali. Aku tertawa hingga mengeluarkan air mataku. Aku memukul - mukul meja untuk melampiaskan rasa geli diperutku. Aku tersadar saat melihat semua orang nampak menatapku yang tertawa. Entah mengapa mereka tiba - tiba menatapku dengan aneh dan yang membuatku tidak nyaman melihat sorot mata mereka yang nampak berbinar melihatku. Aku mengerutkan dahi dan menunduk. Perlahan aku bangkit dari tempatku dan meninggalkan ruang rapat di ikuti ketua maid dan tuan Robert. Aku berjalan sangat cepat hingga seperti berlari.


Rasanya tiba-tiba dadaku sesak mengingat tatapan mereka. Aku berhambur masuk keruanganku dengan wajah pucatku. Aku mendekati dinding kaca sambil mengatur nafasku. Ketua maid mendekatiku dan memberiku air untuk menenangkanku.


"Anda baik-baik saja?" ucap ketua maid.


Aku menggeleng lemah. Tubuhku terasa menggigil mengingat tatapan mereka. Ketua maid membawaku ke sofa dan memelukku erat sambil membelai punggungku hingga aku tertidur.


***


Aku menatap kosong langit - langit kamarku. Entah bagaimana aku bisa sampai di rumah. Aku melihat jam di nakas menunjukkan pukul 7 malam. Ada suara ketukkan di pintu kamarku. Aku memaksakan diri untuk bangkit dan membuka pintu.


"Sudah waktunya makan malam. Anda ingin makan di sini atau.."


"Aku akan turun," ucapku spontan.


Entah mengapa aku ingin makan di ruang makan. Ketua maid hanya mengangguk dan meninggalkanku.


Aku menatap makananku dalam diam. Aku tidak memperdulikan pasangan gila di depanku yang menunjukkan kemesraan mereka. Aku hanya diam dan memakan makananku. Aku membayangkan Di sini hanya ada aku sendiri.


"Apa enak makanannya?" tanya Albert.


Aku masih diam menatap kosong ke arah makananku.


"Kau sakit?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Hey, Idiot! Jawab!" ucap Clara yang nampak geram.


Aku masih diam sambil memakan makananku. Tidak lama kemudian aku merasa kepalaku basah. Aku masih diam memakan makananku tanpa memperdulikan air yang membasahiku.


"Dasar, Idiot," ucap Clara kasar.


Dia menarik piringku dan menumpahkan makananku dikepalaku. Aku bangun dari tempatku. Aku melihat Clara nampak mundur. Aku tahu dia takut kepadaku. Aku masih menatapnya datar. Perlahan aku pergi meninggalkan mereka tanpa bicara atau membalas perilaku Clara.


Aku menatap langit malam dari kamarku. Aku melirik teddy bear yang ada disebelahku sudah lama aku tidak menyentuh boneka ini. Entahlah ada perasaan asing saat aku menyentuh boneka itu. Perlahan aku melepas kalung pemberian Albert dulu dari leherku dan menggantungnya di lengan boneka itu. Setetes air mata mengalir di pipiku. Entah sampai kapan semua ini berakhir. Aku hanya berharap ini hanya mimpi buruk.


***


Aku berjalan menuju makam kedua orang tuaku sambil membawa mawar putih. Aku berjalan sendiri di temani langit malam. Aku meminta ketua maid tidak ikut pergi denganku. Aku hanya ingin sendiri di sini bersama kedua orang tuaku. Perlahan aku menaruh buked mawar putih di makam mommy dan daddy.


"Untuk saat ini saja aku mohon izinkan aku berada disisimu tuan. Biarkan aku memanggilmu daddy," ucapku sambil duduk di antara nisan mommy dan daddy. Aku menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Aku membayangkan mereka berdua merangkulku. Aku tersenyum saat merasakan kehangatan ditubuhku.


"Aku menyayangi kalian berdua. Aku harap kalian berdua tenang di sana. Aku harap kalian bisa menjaga adikku di sana bersama kalian. Aku harap kalian akan menungguku di surga. Aku harap kalian akan menyambutku nanti. Aku harap kita segera berkumpul bersama," ucapku lirih.


Aku masih tersenyum dan menahan isak tangisku.


***


Aku hanya diam menatap laporan keuangan sambil mendengarkan penjelasan ketua maid. Sesekali aku hanya mengangguk mengerti saat dia bertanya.


"Ana ... " ucap tuan Robert.


Aku mendongak menatapnya yang membawa seseorang masuk keruanganku. Aku menatap orang itu dengan dingin.


"Perkenalkan ini Tuan Andrew Brown, beliau kemarin orang yang datang terlambat dan terjatuh di ruang rapatmu. Kau ingat?" ucap tuan Robert.


"Inti," ucapku singkat sambil menaikkan alisku sebelah.

__ADS_1


"Dia ingin menjalin kerja sama denganmu," ucap tuan Robert.


Aku menatap dingin pria didepanku yang nampak gugup.


"Be ... begini ... hmm maaf aku sebenarnya baru saja menjalankan bisnis keluargaku.. aku mau mengajukan kerja sama dengan perusahaan nona.. hmm.. aku.."


"Apa yang bisa saya dapatkan dari orang seperti anda, Tuan?" ucapku memotong omongannya.


Dia nampak gelisah di tempat dan aku mendesah lelah melihatnya.


"Keluar, aku tidak berminat melakukan kerja sama dengan orang tidak berguna sepertimu!" hardikku.


Aku melihat sinar kemarahan dimatanya mendengar kata-kataku. Aku tidak peduli dia terima atau tidak dengan kata-kataku. Dunia ini kejam jadi jangan harap keajaiban yang akan menolongmu itulah yang ingin aku katakan kepadanya secara tidak langsung.


"Apa anda tidak pernah merasa gugup saat pertama kalinya melakukan sesuatu yang bukan bidang anda? Oh aku lupa, bahkan kemarin anda merasa ketakutan melihat banyak orang menatap anda yang menertawakan saya. Itu artinya anda sama dengan saya. Anda juga bisa merasa gugup. Lalu bagaimana perasaan anda kalau mendapat respon buruk dari orang yang sama dengan anda yang selalu gugup bila berada di keramaian," ucapnya geram.


Aku masih menatapnya datar. Dia nampak mengatur nafasnya yang tersengal - sengal.


"Tuan Brown sebaiknya besok saja..."


"Baiklah, mari kita bicarakan proposal anda. Silahkan duduk," ucapku tegas.


Aku bisa melihatnya menghela napas lega. Aku merasa lucu melihatnya yang terintimidasi oleh gadis kecil sepertiku. Aku yakin umurnya sekitar 20an. Sangat aneh melihat pria dewasa terintimidasi oleh gadis kecil berumur 17 tahun sepertiku.


Aku berusaha mengajarkan Andrew segala hal trntang perusahaan. Dia nampak begitu serius mendengar arahanku. Aku semakin yakin ada tekat dan keinginan di dalam dirinya yang bisa membuatnya lebih maju.


"Aku ingin mencoba diperusahaan Josh. Mereka akan menjual setengah saham mereka. Aku sepertinya tertarik," ucap Andrew.


"Kau yakin? Memang perusahaannya sedang maju, tapi itu hanya akan berlangsung 6 bulan. Aku melihat perusahaannya hanya musiman. Dia tidak stabil," ucapku.


"Benarkah?" tanya Andrew.

__ADS_1


"Kau harus mencoba membeli saham perusahaan yang nampak biasa saja, namun menjanjikan. Aku membeli 70 persen saham di Leon cooperation. Banyak yang menyayangkan dan merendahkan keputusanku, tapi mereka tidak tahu kalau yang aku beli adalah tambang emas. Lihat sekarang keberhasilan Leon cooperation. Perusahaan yang dikatakan akan segera bangkrut malah menjadi perusaan yang maju pesat. Saat kau menjadi pengusaha terkadang kau harus pintar memperhitungkan kesempatan," ucapku menasehati Andrew.


Andrew nampak mengangguk paham.


__ADS_2