Hate His Touch

Hate His Touch
Bidadariku


__ADS_3

"Tetap mendongak," ucapku sambil mengambil handuk yang berada di keningnya.


Aku kembali membasahi handuk itu dan menaruh di keningnya.


***


Tidak lama dokter datang dan aku berdiri untuk membiarkan dokter memeriksa Albert. Aku menatap Albert dan dokter sambil menunggu hasil dari dokter.


"Anda kelelahan, nona ini ada resep yang harus di beli untuk tuan Albert. Aku membutuhkan obat itu sekarang," ucap dokter itu.


Aku berjalan menuju pintu keluar dan mengetuk pintu. Pengawal membuka pintu untukku.


"Jangan keluar, Ana," ucap Albert penuh peringatan.


"Kemarilah," ucapku kepada pengawal yang hampir menutup pintu saat mendengar suara Albert.


Pengawal itu menurutiku dan mengikutiku.


"Dapatkan itu semua secepatnya. Albert membutuhkan itu semua dan tolong suruh pelayan buatkan bubur dan susu untuk Albert," ucapku.


"Bawakan makanan untuk nona juga," ucap Albert tegas.


"Baik," ucap pengawal itu.


"Kemari Ana," ucap Albert.


Aku menatap dokter yang mulai berdiri untuk memberiku ruang.


"Kemari atau aku akan menyeretmu ke sini," ucap Albert.

__ADS_1


Aku menurut dan menghampirinya di sisi ranjang yang kosong. Aku tidak ingin membuat dokter terhalang olehku. Albert meraihku dalam pelukkannya.


"Albert lepas," pintaku.


Tidak lama kemudian pengawal Albert yang aku suruh membeli obat datang. Albert mengeratkan pelukkannya.


"Diam sebentar," ucap Albert lirih.


Dokter mulai mengambil bungkusan yang diberikan pengawal itu. Dia mengambil tisu yang menyumpal hidung Albert dan membersihkan sisa darah di hidung Albert. Dokter menyuntik lengan Albert. Aku memejamkan mata takut melihat jarum suntik di tangan dokter. Aku meremas baju Albert. Aku merasa ada tangan yang menutup mataku. Aku menyentuh tangan itu. Perlahan tangan itu mulai menuruni punggungku. Aku melihat dokter sudah selesai menyuntik Albert. Dia memasangkan plester demam di kening Albert.


"Makanlah dulu baru minum obat ini tuan," ucap dokter.


Maid datang dengan nampan berisi makanan. Albert melepasku dari pelukkannya. Aku membantu Albert untuk duduk. Dia mengambil bubur yang disodorkan maid.


"Kau juga harus makan," ucapnya kepadaku.


Aku turun dari tempat tidur dan berjalan menuju sofa untuk memakan makananku. Aku bisa melihat Albert menatapku hingga aku memasukkan makananku ke dalam mulutku. Dalam hati sebenarnya aku merasa aneh dengan sikapku yang tiba-tiba peduli kepada Albert. Kebencian menguap saat melihatnya sakit seperti itu.


"Tidur di sisiku," ucapnya lemah.


"Aku tidur di sofa," ucapku sambil berjalan menuju sofa.


"Tidur di sini atau aku yang menyeretmu," ucapnya dengan tekanan.


Aku mengikuti maunya saat dia ingin beranjak dari tempatnya. Aku mengambil posisi di tempat yang agak jauh darinya. Albert mendekatiku dengan susah payah.


"Aku mohon lebih dekat. Kepalaku sakit untuk bergerak," ucapnya.


Aku yang mendengarnya kesakitan langsung mendekat dan mencoba memijit keningnya dengan lembut. Albert nampak nyaman dengan sentuhanku.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku," ucapnya sambil menatapku.


"Tidurlah, aku tidak akan kemana-kemana karna memang tidak bisa," ucapku.


Albert mengangguk dan memelukku. Dia membenamkan wajahnya didadaku tanpa persetujuanku. Aku hanya bisa diam saat dia melakukan ini. Aku membelai lembut punggungnya untuk membuatnya nyaman.


***


POV ALBERT


Aku mengejapkan mata saat merasa gerakan di sekitarku. Aku berusaha menyesuaikan penglihatanku. Jantungku berhenti berdetak saat melihat seorang bidadari yang selama ini selalu aku puja sedang terlelap memelukku erat. Aku merasakan kehangatan dihatiku yang beku. Ada perasaan hancur saat melihat lingkaran hitam dan bobot tubuh yang menyusut dari bidadariku. Aku memang bodoh hingga tidak bisa menahan diriku.


Aku terlalu br*ngsek hingga menyakitinya. Jujur aku sangat marah dan kehilangan kontrol saat melihatnya bersama b*jingan itu. Aku merasa hatiku tersayat-sayat saat melihatnya berciuman dengan pria itu. Rasanya sakit saat dia mengatakan aku hanya memiliki raganya karna dia hanya mencintai Andrew. Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa mencintainya hingga sedalam ini. Awal pertemuanku dengannya terasa aneh untukku.


Dia merubah semua rencanaku untuk merebut perusahaan ayahnya saat aku melihat mata kelamnya. Aku seakan terhipnotis hingga tidak bisa berpaling darinya. Ada perasaan asing yang tidak pernah aku rasakan. Aku merasa seperti pulang ke rumah saat menatapnya. Aku merasa kehangatan dari tatapan dinginnya.


Aku merasa seperti kecanduan kepadanya. Untuk pertama kalinya aku ingin melindungi dan memiliki seseorang disisiku. Aku ingin membahagiakannya. Andai dia tahu setiap rasa sakit yang dia rasakan bisa aku rasakan 1000 kali yang dia rasakan. Anggap aku konyol atau berlebihan karna merasakan hal yang dirasakan orang lain.


Aku juga tidak mengerti mengapa, yang jelas aku merasa 1000 kali lebih sakit saat dia menangis dan merasa 1000 kali lebih bahagia saat melihatnya tersenyum walau hanya senyum tipis. Tapi jangan mengira aku akan membiarkannya bahagia dengan orang lain, karna aku tetap menginginkannya untukku. Sebenarnya aku sama seperti Ana. Aku juga mengalami hal sulit, namun aku tahu Ana lebih pintar mengontrol dirinya di banding aku yang akan dengan tega menyakiti siapapun yang menyakitiku.


Aku membutuhkannya melebihi apapun. Bagiku Ana adalah duniaku. Aku tidak peduli bila ada orang yang mengatakan aku gila karna menyukai gadis muda yang terpaut jauh denganku. Aku menatap bidadariku yang nampak lelap tertidur di sampingku. Aku ingat wajah khawatirnya saat melihatku sakit tadi. Rasanya luka dihatiku mendadak hilang saat mengetahui dia khawatir kepadaku. Aku meraihnya dalam pelukkanku untuk menikmati aromanya yang selalu membuatku hangat.


Sebuah ide untuk menggodanya hinggap diotakku. Aku menelusuri kening, mata, hidung dan bibirnya yang merah. Aku mengecup semua yang aku sentuh. Dia nampak merenggut lucu karna gangguanku. Aku hanya terkekeh melihatnya yang kesal karna aku mengganggu tidurnya. Aku tidak menghentikan aksiku karna aku ingin melihat wajahnya yang merenggut lucu.


POV ANA


Aku terbangun saat merasa sentuhan di wajahku. Aku membuka mataku dan melihat Albert yang tersenyum. Aku merenggut menjauh darinya dan tertidur kembali. Aku mendengar suara kekehan Albert. Dia memelukku dari belakang untuk menggodaku. Aku berusaha melepaskan diri saat dia mencoba mengecup leherku. Entah mengapa rasanya aku sangat sulit untuk tetap tersadar.


"Bangun, Sayang," ucapnya sambil mengeratkan pelukkannya.

__ADS_1


Aku bangkit dan berjalan menuju sofa. Aku kembali tidur di sofa agar Albert tidak menggangguku. Aku merasa ada yang ikut tidur di sampingku. Aku tidak berusaha mendorongnya karna dia tidak menggangguku.


__ADS_2