
Aku menarik tangannya untuk menahannya. Aku mengerutkan kening dan menatapnya takut.
"Aku ikut," ucapku.
Andrew tersenyum dan langsung mengangguk. Aku menggandeng tanganku dengan erat dan membawaku ke arah kerumunan orang yang sedang mengantri. Kami berdiri di barisan belakang untuk menunggu giliran kami. Andrew menceritakan sebuah lolucon konyol yang membuatku tertawa hingga semua orang menatap kami. Aku menyadari semua menatap kami dengan heran. Aku mulai merasa gelisah melihat semua menatapku. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Sebuah tarikan membuatku tersentak. Andrew memelukku dengan erat.
"Tenanglah, aku ada di sini. Kalau kau takut tetap seperti ini dan sembunyikan wajahmu didadaku," ucapnya lembut di telingaku.
Aku membalas pelukan Andrew dan membenamkan wajahku didadanya. Wangi maskulin menenangkanku. Aku tersenyum merasakan kenyamanan di dalam pelukkannya. Aku ingin terus seperti ini. Entahlah aku merasa ingin selalu merasakan kehangatan ini. Sesekali Andrew mengecup puncak kepalaku untuk mengantarkan rasa aman pada diriku. Aku mengeratkan pelukkan kami. Aku bisa merasakan jantung kami yang berdetak dengan kencang. Anehnya aku merasa sangat nyaman saat ini. Tidak ada rasa takut atau risih saat bersentuhan dengannya.
Andrew mengantarku kembali ke kantor karna aku menolak untuk diantarkan pulang. Aku tersenyum melihat gulali ditanganku. Aku melambaikan tangan kepada Andrew saat mobilnya melaju menjauhiku.
"Nona," ucap seseorang yang membuatku menoleh.
Ketua maid nampak tersenyum menatapku yang menggenggam gulali ditanganku. Wajahku bersemu saat melihatnya yang masih memasang senyum menggodaku.
"Mana mobilnya?" tanyaku sambil menunduk menyembunyikan wajah merahku.
"Ada di belakang anda, Nona," ucap ketua maid
Aku mengangguk dan memutar tubuhku. Para penjaga yang membukakan pintu untukkupun terlihat tersenyum melihatku membawa gulali. Aku berdehem agar mereka tidak melihatku lagi. Aku memilih menatap pemandangan di luar untuk menormalkan wajahku yang masih terasa panas. Perlahan aku menatap gulali ditanganku dan tersenyum mengingat apa yang tadi kami lakukan.
"Apa anda tadi senang?" tanya ketua maid disebelahku.
Aku menyadari keberadaan ketua maid yang duduk disebelahku. Aku berusaha menghilangkan senyumku yang mengembang.
"Ya, lumayan menyenangkan. Andrew orang yang baik," ucapku.
"Saya senang anda bisa bersenang-senang. Saya harap nona bisa lebih sering tersenyum seperti tadi. Anda terlihat seperti layaknya remaja di umur anda, Nona," ucap ketua maid yang tersenyum tulus kepadaku.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk tanpa menjawab kata-kata ketua maid. Aku merasakan jantungku berdetak kencang saat mengingat Andrew.
"Hmm ketua maid ... apa ... hmm apa kau pernah merasa jantungmu berdetak kencang saat mengingat seseorang?" ucapku ragu-ragu.
Ketua maid nampak terkejut mendengar pertanyaanku. Dia nampak tegang mendengar kata-kataku. Entah mengapa dia seperti merasa kurang suka dengan pertanyaanku.
Aku menatap pantulan diriku dari kaca. Aku mengingat apa yang dikatakan ketua maid tentang pertanyaanku. Aku mencoba mengingat sosok Andrew beberapa hari ini. Aku ingat saat dia membuatku tertawa. Aku ingat saat dia mencoba menghiburku dan mendengarkanku. Aku ingat hal manis yang dia lakukan hingga membuatku tersenyum dan jantungku berdetak kencang. Aku ingat pelukkannya yang hangat Hingga membuatku merasa nyaman.
Aku ingat hanya dia yang membuatku tidak merasa risih atau takut saat kami bersentuhan. Aku menatap pantulan wajahku dan menemukan diriku yang tersenyum dengan wajah merona. Ya, ini mungkin benar. Ketua maid mungkin benar. Aku mencintai Andrew, namun entah mengapa ketua maid nampak tidak suka saat mengatakan hal itu. Dia sempat melarangku untuk bertemu lebih sering dengan Andrew. Dia juga sempat memintaku untuk menyembunyikan perasaan ini dan mengubur perasaan ini. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku bisa melihat ketua maid tidak menyukai Andrew. Untuk masalah menyembunyikan perasaanku, aku memang berencana melakukannya. Aku tidak ingin Albert tahu perasaanku. Albert bisa melakukan hal yang tidak aku inginkan bila dia tahu aku mencintai Andrew. Aku sadar kalau aku takkan bisa melawannya. Sekeras apapun tidak akan bisa. Aku harus melindungi Andrew dari Albert.
Aku terpaksa ikut sarapan bersama Clara dan Albert. Seperti biasa Clara menghinaku. Aku hanya diam memakan makananku tanpa menatap mereka. Sampai aku teralihkan saat merasa ponselku bergetar. Aku membaca beberapa pesan dari Andrew. Aku merasa pipiku merona membaca pesan manis dari Andrew. Tanpa sadar aku tersenyum sambil menatap ponselku.
"Kau tidak tahu sopan santun ya? Di larang memainkan telfon di meja makan. Selain itu kau nampak seperti orang sinting yang tersenyum sendiri," ucap Clara yang menyadarkanku.
Aku mendongak dan memasang wajah datarku. Aku menatap Clara yang nampak menatapku dengan tajam. Aku melihat Albert yang mengerutkan keningnya menatapku. Aku merasa kurang nyaman dengan tatapannya.
"Aku selesai," ucapku cepat dan langsung pergi meninggalkan mereka.
Aku sampai di kantor bersamaan dengan Andrew yang juga baru saja keluar dari mobilnya. Aku tersenyum menatapnya yang berjalan kearahku. Ketua maid berdehem untuk menyadarkanku.
"Anda sudah di tunggu di ruang rapat," ucapnya tegas.
Aku menatapnya yang menatapku juga. Aku menghela nafas kesal atas gangguannya.
"Hy Ana, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Apa kau sibuk hari ini? Aku punya rencana menyenangkan sebenarnya dan aku berencana mengajakmu," ucapnya membuatku mengerjapkan mata.
"Nona ..." panggil ketua maid.
Aku mendesah kecewa saat mendengar suara peringatan dari ketua maid.
__ADS_1
"Baiklah aku akan ikut rapat sampai selesai dan setelah itu bisakah ketua maid gantikan jadwalku? Aku akan pergi dengan Andrew," ucapku sambil menatap ketua maid.
"Nona tapi...."
"Kali ini saja, aku juga biasanya selalu mengikuti jadwal tanpa protes dan mengeluh selama ini. Jadi biarkan aku istirahat sejenak," ucapku memohon.
"Baiklah, Nona," ucap ketua maid menahan geramannya.
Aku menatap Andrew yang masih berdiri disampingku.
"Tunggulah diruanganku, ketua maid akan menemaninu di sana. Aku akan bersama tuan Robert," ucapku yang langsung di hadiahi senyuman lembut oleh Andrew.
***
Aku tertawa mendengar lolucon Andrew. Kami sekarang sedang menikmati semilir angin laut. Entah ide dari mana dia mengajakku ke sini. Aku begitu takjub dengan ide cemerlangnya untuk liburan yang tidak pernah bisa aku tolak.
"Haah senangnya," ucap Andrew yang tiba-tiba menaruh kepalanya dipahaku.
Dia tersenyum lucu saat melihatku yang terkejut dengan perilakunya. Aku hanya tersenyum melihat senyum lembutnya.
"Aku mengantuk, aku pinjam pahamu sebentar ya?" ucapnya.
"Bukankah kau sudah menaruh kepalamu di pahaku tanpa persetujuanku?" ucapku jengkel.
Andrew hanya tertawa dan memilih tertidur. Aku melihat wajahnya yang nampak sempurna. Dia bagaikan dewa yunani yang jatuh dari langit. Perlahan aku membelai lembut rambutnya yang halus. Aku melihat senyumnya mengembang. Perlahan dia memeluk perutku dan membenamkan wajahnya diperutku. Aku merasa jantungku semakin berdetak kencang, namun anehnya aku merasa nyaman berada didekatnya. Aku masih diam membelai rambutnya sambil menikmati moment ini.
***
Kami menatap matahari tenggelam sambil berpegangan tangan. Aku tidak pernah tahu kalau pemandangan ini sangat indah. Perlahan Andrew memeluk pinggangku hingga aku berhadapan dengannya. Aku menatap matanya yang nampak menyejukkan hatiku.
__ADS_1
Perlahan dia membelai lembut pipiku hingga aku memejamkan mata menikmati sentuhannya. Perlahan Andrew mendekat dan mengecup keningku lembut. Bibirnya turun menuju bibirku. Awalnya aku hanya diam saat dia ******* bibirku. Perlahan dia membimbing tanganku dilehernya. Aku sempat mengerutkan keningku saat merasakan kelembutan yang aku tidak pernah rasakan. Ini tidak seperti saat Albert menciumku. Aku merasa lebih nyaman saat di cium oleh Andrew.