
Jiwanya ikut hancur seiring api yang menghancurkan mawar yang menjadi kenangannya bersama mommy-nya.
Ana mendekati mawar-nmawarnya yang hangus terbakar. Api sudah berhasil dipadamkan namun tidak menyelamatkan sedikitpun mawarnya. Tidak juga
menyelamatkan jiwanya. Tubuhnya bergetar karna amarah dan rasa sakit yang dia rasakan.
"Bagaimana anak manja? Apa kau suka kejutanku?" ucap Clara.
Ana membalikkan tubuhnya dan melihat Clara memakai baju dan perhiasan mommy-nya. Dengan cepat Ana menghampiri Clara dan menarik paksa Clara. Clara tersungkur di tanah . Ana langsung menaikinya dan membuka perhiasan mommy-nya dengan kasar. Dia tidak perduli kalaupun nantinya
daddy-nya akan membunuhnya karna melakukan ini kepada pelacurnya. Ana semakin marah saat melihat baju mommy-nya robek. Ana menampar Clara berkali kali. Sesekali Ana menjambak rambut Clara. Clara
mencoba menarik rambut panjang Ana untuk membuatnya menjauh dari tubuhnya, namun Ana tidak memperdulikan rasa sakit yang ada dikepalanya. Saat ini dia hanya ingin membunuh wanita murahan ini. Clara tidak pernah mengira Ana memiliki kekuatan
sebesar ini hingga dia kewalahan melawan Ana yang memliki tubuh lebih kecil di banding dirinya.
Tubuh Ana terangkat saat lucas datang melerai mereka. Dengan tega Lucas membanting Ana ke tanah. Lucas mendekati Clara dan membelai lembut wajah Clara yang menangis. Hatinya hancur saat daddy-nya lebih memilih wanita murahan itu dibandingkan dirinya.
"Daddy malu memiliki anak gila sepertimu Ana! Kau tidak layak menyandang nama Evelyn! Kau liar dan gila! Kau psycopat!" bentak Lucas kepada Ana.
"Tidak perlu repot tuan besar Evelyn. Aku juga tidak sudi menyandang nama terkutukmu di belakang namaku," ucap Ana dingin.
Dia berusaha menahan isak tangisnya. Dia tidak mau mereka melihat kehancuran yang dirasakan Ana di setiap detik. Dia pasrah bila daddy- nya akan membunuhnya sekarang akibat kata - katanya karna memang itu yang dia tunggu. Hatinya bagaikan tertusuk ribuan duri. Ana hanya bisa diam ditempatnya dan menunggu daddy-nya menancapkan belati dijantungnya atau apapun untuk meluapkan
kemarahan daddy-nya. Tubuhnya seakan ikut hancur seperti jiwanya. Dia sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun. Dia hanya bisa diam mendengar caci maki daddy- nya yang semakin membuatnya seperti di kuliti. Dia lebih baik di tusuk belati dari pada
mendengar daddy-nya mencacinya. Anamemejamkan mata dan berusaha menulikan telinganya.
__ADS_1
5 jam kemudian Ana berusaha bangkit dari tempatnya berbaring. Ana menolak ketua maid membantunya. Ana berusaha berjalan sendiri kekamarnya. Dengan tertatih Ana terus berjalan. Ana mengunci kamarnya dan memilih berbaring di tempat tidurnya. Dia memeluk kalung yang tadi dia rebut dari Clara. Air mata menetes deras. Rasa sakit
dipunggungnya membuatnya ingat apa yang daddy-nya lakukan kepadanya. Ana lelah merasakan sakit ini. Entah sampai kapan dia bisa bertahan.
***
Sudah 2 minggu Ana menolak diobati oleh ketua maid. Dia tidak ingin siapapun menyentuhnya lagi. Mungkin dengan begini dia bisa mati. Ana sudah terlalu putus asa akan hidupnya. Sudah tidak ada lagi alasannya untuk bertahan hidup.
"Nona..."
"Jangan sentuh aku," ucap Ana dingin.
Ketua maid hanya bisa diam menatap Ana yang nampak mengenaskan.
"Nona saya mohon, biarkan saya." "Tidak ketua maid," ucap Ana cepat.
"Nona, saya lebih baik mati bila anda menolak saya. Apa anda ingin saya bunuh diri di depan anda?" ucap ketua maid yang berhasil membuat Ana menghembuskan napas kasar.
Ketua maid tersenyum senang kepada maid yang ada di kamar Ana. Dia tahu sedingin apapun ucapan yang di katakan ana, dia tetap memiliki hati yang hangat untuk mereka semua. Mereka langsung buru-buru menyiapkan obat untuk Ana. Dengan lembųt ketua maid membantu Ana berdiri untuk melepaskan pakaiannya. Ana hanya bisa meringis kesakitan saat ketua maid mengoleskan obat dipunggungnya yang
membiru. Ketua maid dan para maid mencoba menahan isak tangis mereka sadih melihat luka yang ada di punggung Ana. Mereka tahu kalau Ana tidak akan suka dengan tangis mereka.
"Nona anda harus ke dokter. Ini sangát parah," ucap ketua maid.
"Tidak, aku tidak mau ada yang menyentuhku. Ini akan sembuh sendiri," ucap Ana.
"Tapi, Nona.
__ADS_1
"Jangan membantahku," ucap Ana dingin.
Ketua maid hanya bisa diam menatap sedih punggung Ana yang nampak mengerikan. Ana tahu ketua maid dan maidnya sangat menyayanginya. Dia juga berusaha menahah isak tangis demi mereka.
Dia berusaha menggigit bibirnya dengan kuat untuk menahan rasa sakit dipunggungnya. Salah satu maid menyelipkan sebuah sapu tangan di antara gigi Ana agar ana tidak menggigit bibirnya. Ana menatap maid itu yang menunduk sedih. Perlahan maid itu
menggenggam tangan Ana untuk memberinya kekuatan. Inilah mengapa Ana rela melakukan apapun untuk penjaga, maid dan ketua maidnya. Bahkan dia tidak perduli kalau memang dia harus menyerahkan
jiwanya untuk melindungi mereka. Ana bukan tidak tahu terima kasih. Dia berterima kasih dengan caranya sendiri. Selama ini yang lebih mengenalnya hanya para penjaga, maid dan ketua maid. Hanya mereka yang tahu betapa rapuh dan sucinya hati Ana.
Ana menatapp kepergian daddy-nya dari jendela. Daddy-nya sama sekali tidak menoleh sedikitpun ke arah jendela kamarnya. Daddy-nya hanya menatap kekasihnya yang tersenyum manis didepannya. Kalau boleh jujur Clara lebih cocok menjadi adik
perempuan Lucas dibandingkan menjadi kekasihnya, namun Lucas tidak perduli. Baginya Clara adalah wanita yang tepat untuknya. Dia terlalu mencintai Clara hingga melupakan masa lalunya bersama Mikaila. Lucas akan pergi keluar negri untuk
mengurus cabang perusahaannya di sana. Ana menjauh dari jendela saat mobil daddy-nya sudah tak terlihat. Ana menatap teddy bearnya yang tersimpan di sudut sofa. Ana tidak pernah lagi menyentuh boneka itu semenjak daddy-nya memindahkan barang
barang mommy- nya ke gudang.
"Selamat jalan dan hati-hati, Daddy..." lirihnya.
Ya, sebenci apapun dia kepada Lukas. Dia tetap tidak bisa menghilangkan daddy-nya dari hatinya.
Lucas sengaja menyuruh penjaga untuk terus menjaga Clara selama dia tidak ada. Itulah mengapa Clara masih berani mengganggu Ana. Clara memperlakukan Ana layaknya budak. Dia mengancam akan menyakiti para maid bila dia tidak mau menurut, namun sebenarnya itu hanya ancaman kosong.
Clara menyuruh Ana tidur di taman selama Lucas tidak ada. Dia hanya boleh makan sekali selama seharian dan itupun makanan hasil ramuan Clara. Clara menginjak-nginjak makanannya dan meludahi makanan itu di depan Ana, namun itu tidak membuat Ana marah sama sekali. Ana sengaja menuruti kemauan Clara. Dia hanya lelah dan berharap dengan begini dia dapat menyusul mommy-nya di akhirat. Clara sebenarnya ingin membuat Ana marah dengan memakai barang-barang Mikaila, namun entah mengapa dia merasa takut melakukan itu. Dia takut Ana akan membunuhnya mengingat apa yang terakhir terjadi kepadanya saat dia memakai barang-barang Mikaila. Belum lagidia merasa para penjaga yang lebih membela Ana dibandingkan dirinya.
***
__ADS_1
Clara mempersilahkan seorang pria masuk ke kediaman Evelyn tanpa persetujuan Ana ataupun Lucas. Clara bermesraan di ruang keluarga tanpa malu. Tanpa Clara tahu Ana sebenarnya melihat apa yang mereka lakukan di sana. Ana melilhat mereka yang sedang bercumbu di sana melalui pintu taman. Ana hanya menatap kosong ke arah pasangan ituu.
Tanpa di duga pria yang sedang bercumbu dengan Clara melihat Ana yang menatap mereka dengan tatapan kosong. "Aahhh siapa ... diaa .. Hmm," tanya pria itu kepada Clara. "Hanya ******* kecil.. aaahhh ****." jawab Clara dengan desahan.