Hate His Touch

Hate His Touch
Hari Pernikahan


__ADS_3

Aku hanya diam menatap Abraham yang nampak tenang tidur dipelukkan Albert. Tidak ada lagi kegelisahan. Aku hanya diam berdiri di sisi tempat tidur tanpa memperdulikan tatapan Albert yang menungguku bergabung dengan mereka. Perlahan aku berjalan menuju pintu keluar kamar.


"Kau mau ke mana?" ucapnya.


"Aku di kamar sebelah," ucapku tanpa melihat ke arah Albert.


***


Cahaya matahari masuk dari jendela. Aku yang hanya diam menatap kosong ke arah cahaya matahari yang menyinariku. Sejak semalam aku tidak tidur dan menghabiskan waktuku dengan diam di dalam kegelapan. Perlahan aku bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci mukaku. Aku melihat wajahku yang terlihat pucat. Aku menutup mataku sambil menopang tubuhku di wastafel.


"Mom," ucap Abraham yang berdiri di depan kamar mandi.


Perlahan aku membuka mata dan memasang senyumku untuknya. Dia menghambur ke dalam pelukkanku. Aku menggendongnya yang nampak masih mengantuk. Aku mengecup pipinya yang tembam dan berhasil membuatnya mengeram. Aku terkekeh saat mendengar suaranya yang kesal karna aku ganggu.


"Masih mengantuk?" ucapku.


Abraham hanya mengangguk. Aku berjalan menuju tempat tidur dan mulai berbaring sambil memeluknya erat. Aku dan Abraham tersentak kaget saat mendengar suara pintu yang terbanting. Aku menatap kesal ke arah Albert yang terlihat pucat. Albert menghampiriku yang masih memeluk Abraham yang kembali tidur. Albert ikut tidur disebelahku sambil memelukku. Aku tidak bisa menolak karna Abraham yang mengeratkan pelukkannya.


"Aku merindukanmu," ucap Albert lirih.


Aku hanya diam tanpa niat membalas kata-katanya. Perlahan aku menepuk-nepuk tangannya untuk menenangkannya. Aku merasa tubuhnya semakin mendekat dan memelukku erat.


Aku terbangun saat merasa Abraham tidak ada disampingku. Aku menoleh menatap ke belakang dan tidak juga menemukan Albert. Aku terdiam sejenak sambil memejamkan mata. Perlahan aku bangkit dari tempat tidur dan menatap nanar ke arah jam di nakas. Ini sudah pukul 12 siang. Aku mengusap wajahku dengan kasar untuk menghilangkan rasa kantukku. Perlahan aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Aku berjalan pelan ke arah taman saat mendengar suara cekikikan Abraham. Aku melihat Abraham dan Albert yang sedang bermain bola di taman. Aku menduduki bangku di taman sambil melihat mereka. Mereka melambaikan tangan kearahku. Aku melambaikan tangan ke arah mereka untuk membuat Abraham bahagia. Aku melihat mereka nampak tersenyum sambil melanjutkan permainan mereka dengan bola yang mereka rebutkan. Aku memutuskan untuk membuat sesuatu yang menyegarkan untuk mereka. Aku memutuskan untuk membuat jus wortel dengan campuran lemon dan stoberry kesukaan Abraham. Aku mendesah saat merasa sedang mendalami peran sebagai ibu rumah tangga yang baik. Tidak, aku takkan bisa menjadi istri Albert saat hatiku masih berpihak kepada Andrew.


Aku menghampiri mereka yang nampak kelelahan. Aku menyerahkan jus mereka dan duduk di samping Abraham. Aku mengusap kepala Abraham yang di basahi peluh.

__ADS_1


"Maaf, Tuan, Nyonya ... makan siang sudah siap," ucap seorang maid.


"Kita makan dulu," ucap Albert.


Albert meraih Abraham dalam gendongannya dan menggenggam tanganku tanpa meminta ijinku. Aku melihat mereka berdua tersenyum kepadaku. Aku tersadar senyum favoritku yang selalu diberikan Abraham sama dengan senyum Albert. Aku tersenyum tipis sambil mencubit lembut pipi tembam Abraham. Aku dan Albert tertawa saat Abraham merengut lucu akibat cubitanku.


***


Aku menatap mawar yang tersusun indah di sebuah vas bunga. Aku teringat wanita yang sangat berharga untukku. Aku menyentuh dadaku tepat di bagian hatiku yang terasa sakit saat mengingat penderitaannya. Aku sekarang sudah menjadi ibu, aku berharap anakku takkan menderita sepertiku dulu saat mom pergi. Aku merasa ada yang menyentuh pundakku. Aku hanya diam menatap mawar di depanku.


"Apa kau tidak suka bunga itu?" ucap Albert sambil memelukku dari belakang.


"Berjanjilah Al, kau takkan melakukan apa yang daddyku lakukan kepada anaknya," ucapku.


Aku merasa tubuh Albert menegang mendengar permintaanku. Dia membenamkan wajahnya dileherku untuk menghirup aromaku.


"Aku bersumpah dengan nyawa dan setiap tetes darahku yang mengalir ditubuhku. Aku bersumpah akan membahagiakan kalian. Aku akan mengakhiri rasa sakitmu," ucap Albert dengan yakin.


"Kalau itu masalahnya, aku akan melakukan segala cara agar kau bisa mencintaiku. Izinkan aku melakukannya. Aku akan membuatmu melupakannya dan memenuhi hatimu denganku," ucap Albert sambil mengeratkan pelukkannya.


"Bisakah?" tanyaku lirih.


"Bisa," ucapnya penuh keyakinan.


Aku hanya diam menatap mawar di depanku. Aku membalikkan tubuhku untuk melihatnya. Albert yang pernah aku kenal nampak berbeda dari yang sekarang. Aku melihatnya yang nampak lebih manusiawi dengan tatapan dan auranya. Tidak ada rasa takut atau benci saat aku melihat wajah mendambanya saat menatapku. Aku melihat senyum tulus yang sangat indah terukir di wajahnya saat aku menyentuh pipinya.


"Menikahlah denganku," ucapnya sambil menatapku.


Aku terhipnotis saat melihat matanya yang memancarkan harapan cinta. Aku membelai lembut pipinya dan meraihnya mendekat.

__ADS_1


"Ya," ucapku di depan bibirnya.


Aku mengecup bibirnya yang terasa menggetarkan hatiku. Aku merasa yakin dengan keputusanku untuk mencoba menerimanya. Dia membalas ciumanku. Aku bisa merasakan kerinduan yang sangat besar dari ciuman kami hingga aku terhanyut dalam buaiannya.


Aku terbangun saat merasakan belaian lembut dipipiku. Aku mengerjapkan mata dan menatap Albert yang tersenyum menatapku yang terbangun.


"Morning," ucapnya.


Aku hanya diam menatap wajahnya yang nampak indah saat terkena cahaya matahari. Perlahan dia mengecup kening dan bibirku. Albert mengeratkan pelukkannya kepada tubuh polosku. Aku mendoronya saat mendengar suara ketukan dan suara rengekan Abraham. Aku menutupi tubuhku dengan selimut dan berusaha meraih pakaianku. Aku melempar pakaian Albert ke arah wajahnya dan sukses membuatnya terkikik. Aku tersenyum kecil sambil berjalan menuju pintu dan menemukan Abraham sedang menangis dalam gendongan seorang maid.


Dia memang selalu manja bila bangun tidur dan aku merasa ini hal wajar karna dia tetap anak kecil berumur 3 tahun. Aku meraihnya dalam gendonganku dan mengusap punggungnya lembut. Albert mengerutkan kening saat melihat Abraham yang menangis.


"Apa yang terjadi?" ucapnya khawatir.


"Ini yang terjadi bila dia tidak menemukanku saat dia bangun," ucapku tenang.


Albert meraih jagoan kecil kami dalam pelukkannya dan menghapus air matanya lembut.


"Jagoan daddy tidak boleh menangis. Mom dan dad tidak akan pergi meninggalkanmu," ucap Albert lembut.


Aku tersenyum bahagia melihat Abraham yang mengerjapkan matanya dengan lucu. Aku menangkup wajahnya dan menghujaninya dengan banyak kecupan hingga dia tertawa. Albert meraihku ke dalam pelukkannya dan membuat kami berguling-guling di tempat tidur. Kami tertawa sambil menatap langit - langit.


"Kita mandi bersama ya," ucap Albert.


"Tidak, kalian berdua mandi duluan karna aku akan menyiapkan pakaian kalian," ucapku yang tahu modus apa yang ada di pikiran kotor Albert.


Aku tertawa saat melihat wajah merajuk Albert dan Abraham yang seperti saudara kembar. Aku hanya menggeleng kepala melihat tingkah mereka.


***

__ADS_1


Akhirnya hari pernikahan kami tiba. Aku berjalan menuju Albert saat dia selesai mengucapkan ijab untuk mengikatku sebagai istrinya. Tanpa sengaja aku menatap orang yang tidak ingin aku lihat. Aku melihat Clara dan Andrew yang berdampingan.


__ADS_2