Hate His Touch

Hate His Touch
Merindukannya


__ADS_3

"Abraham jangan ke sana," teriakku kepada pria yang berlari menuju keramaian.


Aku melihatnya tersenyum sambil melambai kearahku. Aku berdecak kesal sekaligus bahagia melihat senyumnya. Aku berjalan menuju Abraham yang menatap pengamen yang sedang bernyanyi sambil memainkan alat musiknya. Abraham nampak tersenyum sambil menikmati alunan lagu. Aku hanya bisa tersenyum menatapnya.


***


POV ALBERT


Aku mematung saat mendengar laporan orang suruhanku yang aku beri tugas untuk menyelidiki Ana. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat.


"Apa maksudmu dengan dia tidak ke rehabilitasi selama lebih dari 3 tahun ini? Jelas dia pamit kepadaku untuk melakukan itu!" ucapku geram.


"Itu yang dikatakan oleh pihak rehabilitas yang di datangi nona Ana. Mereka mengatakan nona Ana hanya datang 3 kali saat itu dan setelah itu dia tidak lagi datang. Kami sudah mencari ke semua rehabilitasi yang ada di seluruh dunia ini dan nona Ana hanya mendatangi tempat rehabilitasi Rowen. Kami sedang mencoba melacak keberadaanya, namun kami memperkirakan nona Ana sudah pindah ke luar negri," ucap orang suruhanku.


Aku menghembuskan nafas gusar. Aku benar-benar kehilangannya. Aku salah saat membiarkannya pergi. Seharusnya saat dia pergi , aku langsung menyuruh orang untuk mengikutinya agar aku tidak kehilangan jejaknya. Aku sangat merindukanya lebih dari apapun. Hampir 4 tahun dia pergi. Aku ingin melihatnya yang tumbuh semakin dewasa. Aku yakin sekarang umurnya sudah 21 tahun. Awalnya aku percaya dia akan kembali dan memutuskan untuk tidak menyuruh siapapun mengikutinya, namun aku teringat sesuatu. Saat sebelum dia pergi, kami sempat melakukan sex. Aku ingat saat itu aku tidak memakai pengaman dan aku ingat saat itu adalah hari suburnya. Jangan tanya mengapa aku bisa tahu. Aku terlalu mengenalnya lebih dari dirinya mengenal dirinya sendiri. Saat itu juga aku ingin mencarinya dan memastikan kebenaran firasatku. Aku tidak bisa bayangkan bila dugaanku benar. Tidak, aku tidak ingin kehilangannya. Aku harus menemukannya apapun yang terjadi. Aku tidak akan membiarkannya pergi lagi.


"Cari dia, kerahkan semua orang untuk mencarinya. Aku ingin kalian menemukan dia dalam keadaan hidup," ucapku dingin.


"Baik, Tuan," ucapnya.


Aku menarik kasar dasiku yang terasa mencekik. Aku benar-benar merindukannya. Aku hampir gila karnanya. Aku mengumpat kesal saat mendengar suara dering telfon.

__ADS_1


"Apa!" ucapku dengan dingin.


"Aku melihatnya ... aku menemukan Ana," ucap Clara nampak bahagia.


Aku menegakkan tubuhku saat mendengar kata-kata Clara, namun aku meragukan kebenaran informasi dari wanita ular seperti Clara.


"Jangan main-main, br*ngsek!" ucapku marah.


"Albert aku benar melihatnya. Aku tidak berani mendekatinya ... kau tahu...." ucapnya terbata-bata.


"Di mana?" ucapku cepat.


"Thailand, aku ada di bangkok sekarang. Aku melihatnya sedang berjalan menuju supermarket. Aku mengikutinya dan berhasil mendapatkan alamatnya," ucapnya.


Sesampainya di Bangkok, aku menyeret Clara untuk segera menunjukkan alamat Ana.


"Albert kau yakin tidak istirahat?" ucap Clara.


Aku menatap tajam kearahnya. Dia menunduk ketakutan. Sejak semua kejahatannya aku bongkar Clara tidak lagi berusaha menggodaku. Dia sangat menyesal dengan perbuatannya saat Ana menghantamnya dengan kenyataan pahit yang Ana simpan selama ini. Sikapnya mulai berubah lebih baik. Beberapa tahun belakangan ini dia menjalin hubungan dengan Andrew, karna memang sebenarnya dia mencintai Andrew sejak lama. Aku mengetahui mereka sangat menyesal dengan apa yang mereka lakukan kepada Ana, namun aku tidak bisa memaafkan mereka. Kalau bukan karna permintaan terakhir Ana untuk tidak menghancurkan mereka, mungkin sekarang mereka sudah aku masukkan ke kandang Bruno dan Mark serigala kesayanganku.


"Tunjukkan saja tidak perlu mengaturku," ucapku dingin.

__ADS_1


Clara mengangguk dan segera memberi arahan kepada supir yang aku tugaskan untuk membawa mobilku. Aku menatap jalanan yang nampak ramai. Aku benar-benar tidak sabar untuk segera bertemu dengan Ana. Aku ingin memastikannya baik-baik saja. Aku ingin mendekapnya dan aku bersumpah akan menyeretnya kepelaminan saat menemukannya. Aku takkan membiarkannya kabur lagi.


Dia sudah membuatku tersiksa karna menginginkannya selama bertahun-tahun. Selama ini aku hanya bisa memeluk bajunya untuk mengobati rinduku kepadanya, namun itu semua tidak akan bisa mengobatiku. Hanya dia yang bisa mengobati rasa rinduku. Aku ingin menghirup aroma tubuhnya yang selalu membuatku nyaman dan bergetar saat berada di dekatnya. Dia bisa membuatku lupa diri dan melepas kontrol yang selama ini berhasil mengekangku. Aku mendesah lelah saat tubuhku menginginkannya.


***


Aku menatap rumah di depanku. Rumah ini nampak sangat kecil dibandingkan rumah yang sejak kecil di tempati Ana. Napasku tercekat saat melihat betapa merananya gadisku yang harus hidup sederhana tanpa pengawal dan pelayan, tanpa harta yang bergelimang. Aku memejamkan mata menahan emosiku saat mengingat kesalahanku yang membiarkannya pergi. Tidak seharusnya aku membiarkannya pergi dan menjalani hidup semengerikan ini. Aku berjalan menuju rumah itu. Aku menatap sekeliling rumah yang nampak sederhana namun nyaman. Aku mengetuk pintu didepanku beberapa kali hingga mendengar suara dari dalam. Aku menunggu dengan hati yang berdebar. Aku harap Ana yang membukakan pintu agar aku bisa segera memeluknya. Aku benar-benar merindukannya hingga sulit sekali bernafas. Aku menatap pintu didepanku tanpa berkedip. Entah mengapa rasanya jantungku berdebar


saat menunggunya membuka pintu. Hingga pintu itu bergerak terbuka dan menampakkan sesosok wanita. Aku terdiam menatap wanita itu yang juga menatapku dengan tatapan terkejutnya.


Aku harus menelan kekecewaan saat bukan gadisku yang menyambutku. Aku menatap wanita muda yang nampak bingung dan terkejut menatapku. Aku tidak heran melihatnya bingung kedatangan orang asing sepertiku.


"Apa kau bisa panggilkan Anabella Curtina Evelyn?" ucapku kepada wanita itu.


Wanita itu mengenyit bingung menatapku. Aku mengumpat kesal saat menyadari dia tidak mengerti bahasaku. Aku berdehem sebentar dan mengeluarkan foto Ana yang selalu aku bawa.


"Aku mencari dia, apa dia ada? Namanya Anabella Curtina Evelyn," ucapku dengan Bahasa Thailand.


Aku melihat raut wajah wanita itu berubah.


"Wanita ini sudah pindah kemarin. Dia sudah tidak tinggal di sini lagi, tapi setahuku namanya Mikaila bukan Ana," ucapnya bingung.

__ADS_1


Aku mengernyit bingung mendengar wanita itu merasa bingung mendengar aku menyebutkan nama Ana. Aku juga tidak menyangka Ana memakai nama ibunya. Dia benar-benar berencana kabur dariku. Aku mengeram marah sambil berjalan pergi meninggalkan tempat ini.


__ADS_2