Hate His Touch

Hate His Touch
Terluka Karna Aku


__ADS_3

Saat sampai di depannya. Abraham memeluk leherku erat dan menyembunyikan wajahnya di leherku.


"Apa kabar, Ana?" ucapnya sambil menatapku lembut.


Aku hanya diam menatapnya datar seperti dulu.


"Bukan sudah saatnya kau kembali?" ucap Tuan Robert.


Aku membelai lembut punggung Abraham.


"Nanti kita bicarakan lagi," ucapku sambil berjalan meninggalkan tuan Robert.


Aku mengecup pipi Abraham yang menatapku. Aku tersenyum sambil menuruninya. Aku tersenyum saat dia kembali bersenandung sambil menggoyangkan tautan tangan kami. Abraham memang sudah tahu kalau aku takkan menjawab pertanyaannya yang menanyakan tentang seseorang yang menemuiku dengan misterius.


***


Aku menatap tuan Robert yang masih menatapku dengan tatapan tenangnya walau aku menghujaninya dengan tatapan datar dan dingin.


"Tidakkah kau merasa terlalu mengambil resiko dengan menemuiku langsung. Apa yang sebenarnya ada dibenakmu sampai mau memaksaku kembali? Kau tahu dan lebih tahu ketidaksiapanku," ucapku tajam.


"Aku tahu, tapi aku juga tahu Abraham sangat membutuhkan Ayah kandungnya. Jangan egois dan berusahalah melupakan Andrew demi anakmu. Sudah saatnya kau kembali kepada Albert dan menikah dengannya. Ini demi anakmu, jangan egois Ana," ucapnya tenang.


"Bisakah aku hanya bahagia dengan Abraham berdua. Aku tidak bisa mati untuk ketenanganku jadi satu - satunya jalan hidup berdua dengan Abraham," ucapku tajam.


"Tepati janjimu Ana. Kau bilang hanya sementara menghilang. Aku tahu kau juga menjanjikan itu kepada Albert," ucap Tuan Robert.

__ADS_1


"Apa selama ini aku selalu bersikap egois? Aku selalu terluka...."


"Kau egois, Ana, kalau bukan karna kekerasan kepalamu itu. Daddy-mu takkan tergoda oleh Clara untuk kedua kalinya dan bisa hidup bersamamu tanpa ada siapapun. Yang sebenarnya pergi adalah kau, Ana. Kau yang meninggalkan daddymu hingga dia mencari seseorang untuk menenangkannya. Kau yang hanya bisa larut dalam kesedihan dengan mengurung dirimu tanpa sadar itu adalah sumber kematian daddy-mu.


Dengar Ana cukup kau bersikap egois dan memisahkan Albert dengan anak kandungnya. Apa bedanya Abraham dengan hidupmu dulu? Tanpa kau tahu mungkin dia di ejek karna tidak memiliki ayah. Itu yang kau bilang bahagia? Hentikan semua Ana," ucap tuan Robert dingin.


Aku menatap Tuan Robert dengan tatapan tidak percayaku. Benar apa yang dikatakan Tuan Robert. Kalau bukan karna aku yang mengurung diri, daddy takkan bertemu Clara lagi. Aku tahu wanita yang pernah berselingkuh dengan daddy sebelum kematian mommy adalah Clara dari tuan Robert. Dulu aku mengutuk perbuatan mereka, namun sekarang aku tersadar kalau akulah yang membuatnya kembali kepada Clara. Aku mendesah saat air mata menuruni pipiku. Aku sadar kalau aku lah pembunuh sebenarnya.


***


Aku menatap Abraham yang tertidur. Aku melihat wajahnya yang terlihat tenang. Sesekali dia mengerutkan kening. Aku merasa aneh saat dia semakin gelisah dan berubah menjadi tenang. Perlahan aku melihatnya tersenyum dengan manis. Aku tidak mengerti apa yang dia mimpikan. Aku mengecup kening Abraham dengan lembut dan tidur disampingnya. Aku sadar aku memang egois karna memisahkan Abraham dari Albert, namun hatiku tidak bisa menerima Albert karna hatiku masih sepenuhnya milik Andrew.


Dia cinta pertamaku dan sangat sulit melupakannya walau aku sudah memiliki anak dari Albert. Walau aku tahu di hati Andrew hanya ada Clara. Aku berusaha menahan air mataku yang selalu siap tumpah saat aku mengingat Andrew. Aku berusaha melupakan dia, tapi ternyata sangat sulit.


***


"Apa Abraham bahagia tinggal bersama mommy?" tanyaku.


"Hmm ... Mom adalah yang terhebat. Aku cinta, Mom." Aku terdiam menatap Abraham yang selalu mengatakan kata yang sama saat aku bertanya seperti itu.


Rasa takut menjalar ditubuhku. Aku memaksakan bibirku untuk membentuk senyum bahagia untuk Abraham. Aku melihat Abraham mengalihkan pandangannya dariku dan kembali memakan makanannya dalam diam. Aku merasa seperti kehilangan udara. Aku menyadari kegagalanku untuk membuatnya bahagia.


Aku selama ini membuatnya merasakan apa yang aku rasakan. Aku benar-benar ibu yang sangat tidak berguna.


***

__ADS_1


Aku menatap kosong ke arah buku gambar yang aku ambil secara diam - diam dari kamar Abraham. Air mata menuruni pipiku saat kenyataan menghantamku. Tuan Robert benar, dia sangat benar dan aku salah. Abraham tidak bahagia itu karna egoku. Aku tercekat saat semua semakin berat. Aku gagal membahagiakan Abraham.


Aku gagal membuatnya merasakan kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan. Aku memeluk gambar Abraham yang menggambarkan sebuah keluarga yang lengkap. Bukan hanya aku dan Abraham. Di sana ada Albert, daddy dan mom. Aku menangisi kebodohanku yang tidak mengerti perasaan anakku sendiri. Apa bedanya aku dengan daddy. Tanpa sadar aku membuat Abraham merasakan apa yang aku rasakan. Aku menyesal dengan kebodohanku yang gagal membahagiakan Abraham.


Keesokan paginya, aku menunggunya bangun. Aku melihat malaikat kecilku membuka matanya yang selalu membuatku tenang dan bahagia. Aku mengecup keningnya dan memeluknya dengan erat saat dia merentangkan tangan memintaku untuk memeluknya seperti biasa.


"Kau mau bertemu daddy?" ucapku.


Aku merasa tubuh Abraham menegang. Aku mengusap lembut punggung Abraham. Perlahan aku merasakan tubuhnya bergetar dan terdengar isak tangisnya. Aku mengeratkan pelukkan kami dan berusaha menahan isak tangisku. Aku tidak ingin dia mendengar suara tangisku.


"Iya, Mom ... hiks ... mau ... Mom," ucapnya sambil terisak.


Aku mengusap lembut punggungnya untuk menenangkannya. Hatiku bagai teriris saat mendengar suara isak tangisnya.


***


Dengan lembut aku membantu Abraham turun dari mobil. Aku menggandengnya untuk menuntunnya mengikutiku masuk ke rumah Albert. Abraham sangat antusias sejak tadi. Dia tidak berhenti bertanya tentang daddy-nya. Aku hanya tersenyum melihat wajah senangnya. Pintu terbuka saat kami berjalan masuk. Aku berjalan semakin masuk ke dalam rumah yang pernah aku tinggali. Rumah yang menjadi saksi kalau Abraham adalah anak kandung Albert.


Aku melihat Albert yang nampak tergesah - gesah turun dari tangga. Dia menatap kami sendu. Perlahan aku mengusap kepala Abraham dengan lembut dan Abraham menatapku.


"Beri salam kepada daddy," ucapku kepada Abraham.


Dengan pelan Abraham berjalan menuju Albert yang terpaku menatap Abraham. Perlahan Albert jongkok dan meraih Abraham ke dalam pelukkannya. Aku masih diam mematung menatap mereka. Aku menatap sedih mereka. Aku salah karna mementingkan egoku.


Aku semakin merasa hatiku semakin sakit mengetahui selama ini Abraham terluka karna aku. Aku melihat Albert mengecup pipi Abraham dengan lembut. Dia menghapus air mata Abraham. Abraham juga melakukan hal yang sama kepada Albert. Mereka nampak seperti anak kembar dengan wajah yang sama persis. Aku hanya tersenyum kecil sambil mencoba menahan air mataku. Aku melihat Albert menatapku yang masih menatap mereka. Aku hanya diam ditempatku saat Albert menghampiriku dengan Abraham digendongannya. Abraham meraihku dengan satu tangan. Dengan kaku aku memasuki pelukkan mereka. Albert mengecup keningku lembut dan membuatku gagal menahan air mataku. Albert mengeratkan pelukkan kami hingga membuatku membenamkan wajahku di dadanya.

__ADS_1


"Aku takkan membiarkan kalian berdua pergi lagi," ucapnya dengan lembut.


__ADS_2