Hate His Touch

Hate His Touch
Abraham


__ADS_3

"RICK CARI ANA SEKARANG JUGA!!" bentakku kepada Rick.


"Baik, Tuan," ucapnya.


Aku memasuki mobil dan memijat keningku yang berdenyut. Rasanya aku ingin membunuh orang untuk meluapkan kemarahanku. Ana kau membuatku murka dengan apa yang kau lakukan. Aku begitu menderita saat kau pergi. Aku tidak akan bersikap lunak kepadamu bila kita bertemu. Aku takkan peduli walau kau akan menangis hingga air matamu kering sekalipun, aku takkan membiarkanmu pergi dariku.


"Br*ngsek!" umpatku kesal.


Aku bisa melihat Clara yang berjengkit kaget mendengar umpatanku. Aku hanya diam menatap keluar jendela dengan harapan melihat Ana.


***


Aku semakin gusar saat para orang suruhanku tidak juga mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku benar-benar tidak percaya mereka yang selama ini tidak pernah gagal begitu sulit mencari keberadaan Ana yang hanya sendiri, tapi aku tidak yakin dia sendiri saat ini. Aku merasa benihku tumbuh subur di rahimnya. Aku berharap itu benar dan kalau aku benar artinya dia sudah melahirkan anak kami.


Bayangan tentang dirinya yang harus melahirkan sendiri tanpa aku ada di sampingnya membuatku semakin kalut. Aku yakin dia kesakitan saat itu. Aku ingin segera melihatnya dan anak kami.


"Ana.. kau di mana?" ucapku parau.

__ADS_1


Aku memejamkan mata untuk mengurangi sakit kepalaku.


***


POV ANA


Aku tahu dia datang mencariku. Aku sengaja menghindarinya karna belum waktuku untuk kembali. Aku masih ingin menikmati hidupku tanpa gangguannya. Aku memeluk tubuh Abraham yang tertidur dipelukkanku. Aku merasa ketenangan saat bersamanya. Kalian pasti berpikir Abraham adalah kekasihku. Dia lebih dari itu. Dia adalah duniaku. Dia adalah jiwaku. Dia adalah alasanku tetap hidup, karna dia darah dagingku. Ya, dia anakku dan Albert. Umur Abraham baru saja menginjak 3 tahun. Aku tidak mau Abraham bertemu ayahnya yang memiliki sifat buruk. Aku tidak ingin anakku seperti Albert yang psikopat. Selama ini aku berusaha semaksimal mungkin membentuknya menjadi sosok pria yang baik.


Aku memenuhi hidupnya dengan kebahagiaan yang dulu tidak aku dapatkan saat mommy meninggal. Hanya di depan Abraham aku menjadi sosok ibu yang selalu tersenyum. Aku tidak lagi bersikap dingin kepada orang lain saat di depan Abraham. Aku tidak ingin dia mengetahui hidupku yang sebenarnya. Aku selalu menceritakan kisah hidup yang sebaliknya dari yang aku rasakan. Bahkan Abraham sedih dan menyayangi kakeknya saat mendengar ceritaku yang berusaha menceritakan kisah kakeknya yang penyayang dan sangat baik. Aku tidak akan membiarkannya tahu apa yang sebenarnya. Aku menceritakan semua kebohongan agar tidak menimbulkan kebencian dihatinya. Aku percaya anak ibarat kertas putih yang masih polos. Sikap dan sifatnya tergantung kepada dengan tinta apa kita torehkan di kertas itu. Aku mengecup puncak kepala Abraham dengan lembut sambil menatap awan dari jendela pesawat.


***


"Mom...." Ucapnya dengan wajah berbinar sambil menarik-narik tanganku.


"Main? Tapi kita baru sampai, kita istirahat dulu ya nanti baru main. Masih ada hari esok untuk main," ucapku lembut sambil mengusap kepala Abraham.


Abraham mengangguk patuh dan merentangkan tangannya untuk memintaku menggendongnya. Aku menurutinya dan menggendongnya erat sambil berlari ke arah rumah baru kami. Abraham nampak senang saat aku membawanya berlari. Aku hanya terkekeh mendengarnya tertawa.

__ADS_1


***


Aku bersenandung sambil mewarnai bersama Abraham. Abraham sangat suka dengan musik. Ini karna dulu saat aku hamil entah mengapa aku selalu mendengarkan lagu di setiap kegiatanku. Hingga dia lahir ke dunia aku selalu memasang lagu untuk Abraham. Bahkan Abraham yang sedang menangis akan tenang saat aku menyalahkan mp4-ku. Awalnya aku juga merasa aneh saat melihatnya yang nampak seperti orang dewasa yang menikmati lagu dengan memejamkan mata sambil tersenyum, namun aku mulai terbiasa dengan sikapnya dan membiarkannya melakukan apa yang dia inginkan. Aku juga tidak pernah sungkan melakukan kegiatan anak kecil bersama Abraham. Aku selalu memposisikan diriku sebagai ibu, ayah, sahabat, kakak, dan adik untuk Abraham. Aku membuatnya tidak kekurangan kebahagiaan.


"Wah sudah jadi. Kita pajang di ruang tengah ya?" ucapku kepada Abraham.


"Aku, Mom." ucapnya sambil berusaha meraih kertas gambar di tanganku.


Aku memberikan kertas itu kepada Abraham. Abraham langsung berlari ke arah dinding di ruang tengah rumah kami. Dia meraih viguran yang aku bawa untuk menaruh gambarnya. Aku mengecup pipinya yang tembam dengan gemas saat melihatnya bertepuk tangan senang melihat hasil karya kami. Abraham anak yang manis dan penurut.


Dia juga pintar dalam berbagai hal. Aku bersyukur dia mewarisi otakku dan ayahnya. Memang orang - orang akan beranggapan hal ini wajar melihatku dan Albert yang memiliki otak cerdas. Kalau di perhatikan kami sama-sama mengenyam pendidikan dalam waktu singkat karna kemampuan kami. Jangan anggap aku menyombongkan diri, aku hanya mengatakan fakta yang memang terjadi. Awalnya aku ragu Abraham akan sama seperti kami, namun ternyata dia juga memiliki bakat seperti kami. Sebenarnya aku tidak peduli walau anakku tidak memiliki kelebihan seperti kami, karna bagiku Abraham bahagia. Kebahagiaannya sudah menjadi kewajibanku. Aku tidak ingin Abraham terluka sedikitpun. Kalau kalian mengira Abraham anak yang sangat manja, kalian salah. Dia anak yang cukup mandiri diusianya yang masih kecil.


Dia selalu membantuku mengurus rumah dan akan marah bila aku melarangnya walaupun hanya pekerjaan kecil. Itulah mengapa aku tidak pernah khawatir dia akan menjadi anak yang manja.


Aku juga sengaja memberikan kehidupan yang sederhana kepadanya agar dia tidak merasakan kehidupan mewah yang membuatnya menjadi sosok arogan. Uang bisa merubah karakter orang. Aku mendidik Abraham agar tidak congkak dan egois. Dia harus berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, tentu dengan cara yang benar. Abraham selalu menolak secara halus saat ada tetangga kami yang memberinya coklat. Itu karna dia tahu kalau aku akan marah bila dia menerima barang dari seseorang tanpa dia melakukan apa pun kepada pemberi barang.


***

__ADS_1


Abraham menemaniku berbelanja di supermarket. Dia bernyanyi sambil menggandeng tanganku. Sesekali aku mengikuti nyanyiannya untuk membenarkan kata-katanya yang masih sedikit cadel. Terkadang kami juga tertawa saat kami saling melempar lelucon. Aku berhenti tertawa saat melihat orang yang aku kenal di ujung jalan. Aku menatapnya yang juga menatapku sambil tersenyum. Aku meraih Abraham dalam gendonganku sambil menciumi pipinya. Perlahan aku berjalan menuju orang itu. Aku yakin ada yang harus dia sampaikan hingga datang sendiri menemuiku. Biasanya dia akan menyuruh orang suruhannya untuk menyampaikan pesannya. Aku yakin ini masalah serius hingga dia sendiri yang menampakkan dirinya didepanku. Aku memasang wajah dinginku


__ADS_2