
Hari yang sangat sibuk bagi Boy dan Bianca dimulai setelah cuti pernikahan mereka .
"Maaf yah Boy aku harus pergi duluan aku akan meeting dikantor". Bianca merasa bersalah .
"Tidak apa-apa babe". Boy mengecup kening Bianca .
Bianca tidak perlu berlama-lama berada dijalan karena jarak rumah mereka dan kantor tidak terlalu jauh dan kebetulan juga karena masih pagi jalan tidak terlalu macet .
"Duuh si pengantin baru cerah banget senyumnya". Ucap Rina setelah ia bertemu dengan Bianca dilobby kantor .
"Dasar gak usah ngeledek deh!! Hmmm gimana meeting hari ini??". Ucap Bianca sambil melangkahkan kakinya ke dalam lift eksklusif yang sudah terbuka .
"Laporannya sudah ada diatas mejanya ibu". Ucap Rina dengan profesinal .
"Baiklah , jam berapa para investor itu akan datang??".
"Saya sudah menelpon sekertaris dari tuan Abraham dan katanya mereka sudah didalam perjalan kemari!".
"Oke!".
-------------
Bianca sedang menunggu kliennya , namun betapa terkejutnya ketika ia melihat siapa yang menjadi kliennya .
__ADS_1
'Kenapa aku bisa lupa sama nama belakang dari pria jahat ini'. Batin Bianca
FLASHBACK
"Kita putus".
"Putus??? Kenapa???". Bianca terkejut dengan ucapan Leon .
"Kau tanya kenapa??? Justru aneh jika aku terus bertahan pacaran denganmu!! Seorang wanita yang memiliki gangguan kecemasan , seorang wanita sudah berusia 22 tahun yang bahkan saat memegang tangannya saja sudah membuatnya kambuh apalagi untuk menciumnya!! Kau wanita aneh , aku sudah tak ingin bersamamu".
"Tapi aku sudah berusaha dan aku juga sedang menjalani pengobatan , aku yakin sebentar lagi aku akan sembuh". Bianca menangis .
"Tidak aku sudah tak ingin berpacaran lagi denganmu , percuma saja kau kaya dan cantik tapi tetap saja kau aneh!! Aku tidak ingin teman-temanku mengolok-olokku yang berpacaran dengan wanita aneh seperti dirimu lagi". Leon melangkah pergi meninggalkan Bianca menangis .
Hal ini membuat trauma yang dibuat maminya dulu semakin parah , setelah putus dari Leon Bianca pun semakin dingin pada pria , bahkan tak membuka hatinya lagi selama 5 tahun .
Tak ada yang mampu membuka hati Bianca kecuali Boy .
"Sudah lama kita tidak bertemu!!! Kalau tidak salah sudah 5 tahun , apa kabar??". Leon mengulurkan tangannya pada Bianca untuk berjabat tangan .
"Yah begitulah!! Aku baik , gimana denganmu??". Bianca berusaha tenang .
'Dasar laki-laki jahat'. Batin Bianca mengumpat .
__ADS_1
"Aku juga baik".
"Kalau begitu kita lanjutkan rapatnya". Ucap Bianca sambil mempersilahkan Leon duduk .
Leon Abraham , seorang pria bertubuh tinggi , putih , sangat tampan dan warna matanya berwarna abu-abu menambah nilai plus dari dirinya maklum ayahnya adalah orang Belanda .
Setelah sekita 30 menit , akhirnya rapat pun selesai , Bianca sudah sejak tadi ingin mengakhiri rapatnya akhirnya bernafas lega .
"Ohh iya aku ingin mengajakmu makan siang". Ucap Leon .
"Maaf tapi aku sudah ada janji makan siang bersama suamiku". Tolak Bianca dengan mempertegas kata Suamiku .
"Suami?? Kau sudah menikah??". Leon terkejut .
"Iya aku sudah menikah , kira-kira sekitar seminggu". Ucap Bianca sambil tersenyum dan membuat pipinya merona ketika ia mengingat Boy . Namun entah mengapa Leon terlihat kesal ketika melihat Bianca tersenyum .
"Emank gangguan kecemasanmu sudah sembuh". Leon meledek .
"Sudah , suamiku banyak membantuku sebelum kami menikah". Jawab Bianca .
Mendengar jawaban Bianca makin membuat Leon merasa sangat kesal , raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi tak enak dipandang . Ia melangkah keluar dari ruang rapat diikuti oleh sekertarisnya .
SELAMAT MEMBACA !!!
__ADS_1
TOLONG DI LIKE YAH , MAKASIH !!!