
Pria yang sekarang duduk di hadapan Bella tampak tersenyum bahagia, ada binar kerinduan yang sangat di kedua matanya. Berbeda dengan Bella yang merasa canggung dan seakan tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap pria ini.
Setelah pertemuan di depan pagar rumahnya, Bella terpaksa mempersilahkan pria itu masuk. Berbicara dengannya di depan rumah hanya akan menarik perhatiaan tetangga Bella.
Penampilan pria itu jelas berbeda dengan kebanyakan warga sekitar, dengan tinggi lebih dari 180 cm, tubuh tegap proposional, dan wajahnya yang bule banget bakalan menarik perhatian orang.
Jadi disinilah mereka sekarang, duduk di kursi yang tersedia di teras rumah Bella.
Baik Bella maupun Bunda Alya, mereka tidak pernah mempersilahkan tamu pria untuk masuk ke dalam rumah mereka meskipun hanya di ruang tamu.
Mereka hanya tinggal berdua, tidak ada sosok pria di rumah itu maka untuk menghindari fitnah semua tamu pria cukup sampai di teras rumah saja yang sudah Bunda Alya tata seapik mungkin jadi tamu pun bisa duduk dengan nyaman.
Bella hanya terdiam, sesaat memandang pria yang penampakannya berbeda dengan saat terakhir mereka bertemu.... tiga tahun yang lalu.
Terlihat lebih dewasa and that da*n five o`clock shadow membuatnya tampak lebih menarik. Ah...pesona pria dalam usia matang memang no kaleng-kaleng, membuat jantung Bella berdebar dengan tidak menentu.
Duh hati tolonglah baper pada tempatnya, susah payah berusaha move on dari pria ini eh baru saja bertemu sudah deg degan tidak karuan.
Apa kabar usahanya yang selama ini berusaha mengubur semua rasa yang dia punya untuk pria ini, berusaha melupakan apapun tentang pria ini....semua terasa sia-sia saja hanya karena pertemuan ini.
Abiyan Shakir Nasution, pria campuran Batak dan Inggris ini masih memandang Bella membuat Bella akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"How have you been?" tanya Abiyan.
"I am being so good," sambil berusaha menenangkan hatinya Bella menjawab.
"Good for you, bunda gimana kabarnya?" kembali Abiyan bertanya.
"Alhamdulillah bunda sehat," hanya jawaban singkat yang Bella berikan.
"Kamu enggak nanya kabar Abang gimana? apa kamu sudah sebegitu tidak peduli sama Abang?" tanya Abiyan lagi.
"Abang, apa kabar?" pasti baik-baik saja kan, pasti sudah bahagia kan, good for you too, cerocos hati Bella.
__ADS_1
"Sekarang Abang baik-baik saja, bahagia malah setelah akhirnya bisa bertemu kamu, melihat kamu sedekat ini," jawab Abiyan.
Jawaban itu jelas membingungkan Bella, maksudnya apa ya, tanya Bella dalam hati.
"Sejak pulang ke Indonesia beberapa minggu yang lalu, Abang terus mencari kamu, Abang tanya tetangga kamu yang dulu, semua hanya bilang pindah ke daerah sini tapi tidak ada yang memberitahu alamat yang jelas."
"Kamu benar-benar berusaha menghilang dari kehidupan Abang, nomor ponsel tidak aktif, semua akun sosial media milikmu dihapus."
"What's going on Bella...did I make something wrong sampai kamu sebegitunya?"
"Aku pikir kita baik-baik saja dulu, aku pikir kita punya perasaan yang sama, aku pikir aku punya tempat di hati kamu."
Setelah berbicara panjang lebar, Abiyan terdiam, masih memandang Bella, menunggu gadis itu menjawab semua pertanyaan yang selama ini mengganjal di hatinya.
Arabella, gadis yang sejak dulu sampai sekarang dia cintai, pergi begitu saja dari hidupnya.
Sebelumnya Abiyan memang merasakan ada perubahan dari diri Bella. Bella mulai menjauh, setiap diajak bertemu ada saja alasan untuk menolaknya, setiap ditelpon hanya bicara seperlunya dan selalu dengan cepat mengakhiri percakapan mereka.
Setiap Abiyan mencoba bertanya ada apa, Bella selalu menjawab tidak ada apa-apa. Abiyan lupa akan teori kalau seorang wanita selalu bilang tidak apa-apa pasti ada apa-apa.
"Kenapa Bella?" tanya Abiyan lagi.
Otak Bella seakan beku, kata-kata yang keluar dari mulut Abiyan membuatnya bingung.
"Bella....," Abiyan memanggil Bella yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Gimana kabar Kak Vania?" tanya Bella yang membuat Abiyan terkejut. Setelah semua pertanyaan yang dilontarkannya kenapa Bella malah menanyakan kabar Vania, sahabat Abiyan dari kecil.
"Juga anak Abang, gimana kabarnya?" tanya Bella kembali dengar suara yang kentara bergetar.
Kekecewaan yang tiga tahun dia rasakan menyeruak kembali. Memporak porandakan hatinya.
Sebelumnya Bella merasa kalau kedekatannya dengan Abiyan lebih dari sekedar teman.
__ADS_1
Abiyan tidak pernah menyatakan kata-kata cinta kepadanya, tapi perhatian dan semua perlakuan Abiyan kepadanya terasa berbeda, membuat Bella merasa dia memiliki tempat yang spesial di hati Abiyan.
Sampai suatu hari, saat menyusul Abiyan ke rumah sakit untuk menjenguk Vania, suatu kenyataan menjatuhkan semua mimpi indah tentang dia dan Abiyan yang tertanam di benaknya.
"Bi, Aku hamil," kata Vania.
"I know, sudah tenangkan dirimu, Van," Abiyan terlihat berusaha menenangkan Vania.
"Please...marry me...," Vania memohon sambil menangis pilu.
Bella yang melihat adegan itu sangat terkejut, Vania hamil dan dia meminta Abiyan menikahinya, berarti mereka....
Merasa tidak sanggup menyaksikan kelanjutan dari adegan itu, Bella memilih berlalu sambil berusaha menahan air matanya.
Bella merasa dia bodoh sekali, salah mengartikan semua perlakuan dan kata-kata manis dan lembut Abiyan untuknya.
Jadi selama ini cinta Bella bertepuk sebelah tangan. Antara patah hati, malu sendiri, kecewa, semua bercampur aduk Bella rasakan saat itu.
"Anak....anak Abang apa maksudmu?" pertanyaan Abiyan ini mengembalikan kesadaran Bella yang tadi terkenang kembali pada kejadian tiga tahun yang lalu.
"Anak Abang dengan Kak Vania," berusaha terdengar baik-baik saja, tetap suara Bella bergetar menahan segala emosi di dadanya.
"Anak Abang dengan Vania?... maksud kamu apa?" Abiyan terlihat tidak mengerti maksud pertanyaan Bella.
"Sekarang umurnya berapa? dua tahunan ya, pasti lagi lucu-lucunya, jadi pengen ketemu sama anak Abang" bukannya menjawab pertanyaan Abiyan, Bella kembali membahas tentang anak itu.
Beneran mau ketemu anaknya Abiyan, bercanda kamu, dasar pembohong, kayak hatimu bakal kuat saja, ejek hati Bella.
"Anak Abang laki-laki atau perempuan," kembali Bella bertanya. "Kalau perempuan pasti cantik banget ya mirip mamanya."
"Sampaikan salamku untuk mereka ya Bang."
Bella terdiam, bingung harus bicara apa lagi, terlebih Abiyan terus menatapnya. Bunda, dimana sih, kok tidak ada di rumah, siapapun tolong datang, keluarkan Bella dari suasana tidak nyaman ini.
__ADS_1
Bahkan jika saat ini Bu Ratih, Bu Mar atau Bu Dian yang datang, akan Bella sambut dengan suka cita. Jadi tolonglah siapapun, datanglah...