
Suasana di pinggiran jalan ini masih terasa sedikit menegangkan. Langkah Bu Dian dan teman-temannya yang terhenti karena ucapan Bella, membuat mereka menatap Bella tidak suka.
"Maaf ya Bu, saya tidak bermaksud lancang, apa tidak sebaiknya kita antar Adam ke rumahnya dan menjelaskan kejadian ini," saran Bella.
Bella berharap Bu Dian ikut serta ke rumah Adam agar Bu Dian sekalian bisa meminta maaf kepada orang tua Adam bagaimanapun Topan anaknya telah melakukan kenakalan yang berlebihan yang telah menyebabkan Adam terluka terlepas luka itu parah atau tidak.
"Untuk apa saya ke sana?" jawab Bu Dian ketus.
"Anak-anak berkelahi itu biasa, namanya juga anak-anak sebentar juga mereka akur lagi, main bareng lagi."
"Yang seperti ini jangan terlalu dibesar-besarkan."
"Ini sudah sore, saya ini ibu rumah tangga punya banyak kewajiban yang harus dilakukan di rumah, tidak bisa buang-buang waktu seperti kalian, jalan-jalan tidak jelas," Bu Dian menolak tegas saran Bella.
"Kalian kan tidak ada kerjaan, kalian saja yang antar Adam, tidak susah kan tinggal antar saja atau kalau kalian malas suruh saja Adam pulang sendiri, rumahnya sudah dekat dari sini, jangan bikin ribet deh," kata Bu Mar.
Bella hanya bisa menghela napas, lelah berhadapan dengan ibu-ibu ini. Jika posisinya terbalik, jika Topan yang dihajar Adam, sudah bisa dipastikan mereka akan memperpanjang urusan ini.
"Sudah Teh biar kita saja yang mengantar Adam dan menjelaskan kepada orang tuanya Adam," kata Adzriel.
"Ibu-ibu ini terlalu sibuk untuk membereskan masalah yang dibuat sama Topan."
"Apa maksud kamu bicara seperti itu, hah!" Bu Dian kembali tersulut emosinya.
"Ibu-ibu biar saya sama Adzriel saja yang mengantar Adam, ayo Zriel, Adam," putus Bella cepat sebelum keadaan memburuk.
"Permisi ibu-ibu," pamit Bella.
Segera Bella mengajak Adzriel dan Adam meninggalkan tempat itu. Masih terdengar di telinga Bella omelan Bu Dian.
Sesaat Bella melihat ke belakang, dilihatnya Bu Dian sedang memarahi Topan sementara tangannya sesekali menepuk badan Topan.
Topan terlihat diam saja, tidak menangis atau merasa ketakutan. Topan malah terlihat marah.
Tak lama kemudian, Bu Dian menunjuk-nunjuk dahi Topan sambil mulutnya terus memarahi Topan. Sementara Bu Mar dan Bu Ratih hanya melihat saja.
__ADS_1
Bu Ratih yang biasanya selalu menampilkan sosok bijaksana dan penuh petuah terlihat biasa-biasa saja seakan pemandangan di depannya adalah hal yang lumrah dilakukan oleh seorang ibu kepada anaknya.
Bella tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti dengan para ibu ini. Perkataan dan perbuatan mereka sering kali tidak sinkron menurut Bella.
Bersama Adzriel yang kembali menggendong Adam, Bella berjalan menuju ke rumah Adam.
Sesampainya di rumah Adam, Bella juga Adzriel menceritakan kejadian yang telah dialami Adam.
Tanpa bermaksud melakukan provokasi, Bella dan Adzriel menceritakan apa adanya.
Orang tua Adam tentu saja terkejut melihat kondisi anak mereka. Bahkan ibunya Adam bermaksud melabrak Bu Dian. Untungnya ayah Adam lebih sabar orangnya. Dia berusaha menenangkan istrinya.
Menurut ayah Adam yang lebih penting sekarang adalah mengurus Adam dulu. Ayah Adam bermaksud membawa Adam ke IGD rumah sakit terdekat.
Bukannya ingin bersikap berlebihan tapi mengingat bagaimana Adam dipukuli oleh Topan, ayah Adam merasa lebih baik memeriksakan kondisi Adam ke ahlinya yaitu para dokter.
Hal ini dilakukan hanya untuk memastikan kondisi anaknya, bukan untuk tujuan lain. Ayah Adam khawatir ada luka dalam pada tubuh Adam.
Bella dan Adzriel tidak terlalu lama berada di rumah Adam. Mereka segera pamit karena ayah Adam juga akan segera membawa Adam ke rumah sakit.
Gara-gara masalah ini Bella sampai lupa tujuan awalnya keluar rumah.
"Kayaknya enggak jadi deh, tiba-tiba Teteh pengen mie ayam, Teteh mau ke Mas Anto saja," jawab Bella.
"Ya udah hayuk lah," kata Adzriel.
"Lho bukannya kamu mau ke warung Bu Hana?" tanya Bella kemudian.
"Enggak jadi, pengen mie ayam juga kayak Teh Bella," jawab Adzriel.
"Teh tadi Teteh sempat bilang kasihan sama Topan, kok kasihan sih Teh, bocah nakal kayak gitu."
"Ini bukan pertama kalinya Topan memukuli temannya, sudah sering Teh."
"Bu Dian sudah sering ditegur sama orang tua yang anaknya dipukul Topan, Bu Dian paling bilang maaf."
__ADS_1
"Tadi kamu cerita kalau Topan sering dimarahi dan dipukuli sama Bu Dian, kan?" tanya Bella.
"Iya Teh, semua orang di sini sudah tahu soal itu," jawab Adzriel.
"Menurut Teteh ya, semua anak itu dasarnya baik tapi kadang keadaan atau orang-orang yang berada di sekitar mereka yang membuatnya menjadi tidak baik."
"Seperti Topan ini, Teteh yakin dia tadinya anak yang baik tapi karena sering mendapat perlakuan tidak baik seperti kekerasan verbal atau kekerasan fisik yang dilakukan oleh ibunya, dia mulai meniru apa yang dilakukan ibunya terhadap dia."
"Ada anak yang jika mendapat perlakuan seperti itu menjadi tertekan dan selalu murung, ada yang menjadi anak yang kurang percaya diri, ada yang terganggu kesehatannya."
"Ada juga lho anak yang mendapat kekerasan fisik itu sampai luka badannya."
"Ada juga yang menjadi peniru dari pelaku yang melakukan kekerasan padanya."
"Seperti Topan, karena perlakuan ibunya dia menjadi anak yang pemarah dan ringan tangan sama seperti ibunya."
"Teteh rasa Topan belum bisa membedakan mana yang benar mana yang salah, dia bertindak sesuai dengan apa yang biasa dia lihat atau dia alami."
"Dia mungkin menganggap saat ada teman yang melakukan kesalahan kepadanya maka temannya itu harus diberi pelajaran dengan cara yang biasa dia terima dari ibunya."
"Anak-anak itu cenderung meniru apa yang dilakukan sama orang-orang terdekatnya."
Sebenarnya Bella bukan seorang pemerhati anak, tapi dia sering mendengar berita-berita seputar kenakalan anak dan apa penyebabnya.
Bella tidak terlalu mengerti tentang dampak psikologis yang akan terjadi pada seorang anak jika dia kerap menerima kekerasan baik secara verbal maupun fisik.
Kalau dampak fisik kan jelas terlihat sementara dampak psikologis tidak. Dan hal ini yang harus diperhatikan juga karena akan mempengaruhi tumbuh kembang anak tersebut di masa depan.
Sambil berjalan menuju kedai bakso Mas Anto, mereka terus membahas tentang Topan dan Bu Dian.
Saat hendak sampai ke gerbang komplek sebuah SUV berhenti di hadapan mereka. Seorang pria keluar dari sisi pengemudi.
Masih dalam balutan setelan kerja minus jas, pria itu menatap tajam ke arah Bella dan Adzriel.
Baik Bella maupun Adzriel tidak menyadari kehadiran pria itu, mereka terus berjalan. Saat hampir melewati pria itu...
__ADS_1
"Hemm..."